Kumpulan Puisi Sapardi Kesukaan #1

Beberapa puisi di bawah ini dipinjam dari buku "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono.

SONET: Y

walau kita sering bertemu
di antara orang-orang melawat ke kubur itu
di sela-sela suara biru
bencah-bencah kelabu dan ungu
walau kau sering kukenang
di antara kata-kata yang lama tlah hilang
terkunci dalam bayang-bayang
dendam remang
walau aku sering kausapa
di setiap simpang cuaca
hijau menjelma merah menyala
di pusing jantra
: ku tak tahu kenapa merindu
tergagap gugup di ruang tunggu

(1968)


JARAK

dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit: kosong-sepi

(1968)


DI RESTORAN

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras --

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

(1989)

Petikan ucapan di bawah ini diambil dari buku "Namaku Sita" karya Sapardi Djoko Damono. Berbeda dengan Hujan Bulan Juni yang merupakan kumpulan puisi, Namaku Sita merupakan puisi yang menjadi satu rangkaian cerita. Puisi ini pernah dibacakan di Salihara.

DALANG

Perempuan itu tak bisa dieja
kecantikannya;
ia adalah kalimat utuh
yang tak cukup sekedar dilisankan
dan baru mengandung jiwa
bila disenandungkan,
yang hanya bisa terdengar getarannya
dalam upacara yang khusuk
di sudut-sudut ingatan.

Comments

Popular Posts