Pintu Terlarang

Gambar dipinjam dari sini
Jujur saja, sebetulnya saya penasaran dengan Pintu Terlarang ini karena teman saya, Vendy, yang pernah menggadang-gadangnya dulu. Kali ini saya akan berbagi tentang buku ini yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara tahun 2004. Sebagaimana aslinya tanpa interpretasi Joko Anwar yang membuat film adaptasinya tahun 2009. Buku ini saya habiskan dalam waktu beberapa jam saja. Karena selain tulisannya pendek-pendek per-chapter sehingga plot terasa cepat (mengingatkan pada The Da Vinci Code), kata-kata Sekar Ayu mengalir dan membuai sesuai porsinya dan dapat membuat pembaca penasaran hingga akhir novel.

Oke, ini akan total spoiler. Jadi yang belum baca dan berniat, jangan dilanjutkan yaa.

Awalnya diceritakan tentang seorang anak yang disiksa dengan orang tuanya dengan cara kejam. Ia mengalami penyiksaan seperti dipukuli, disundut rokok, dan dijambak rambutnya. Setelah penceritaan singkat, cerita pun beralih dari seorang seniman bernama Gambir dan beristrikan perempuan cantik bernama Talyda. Saat menggelar pameran tunggalnya, patung wanita hamil buatan Gambir laku keras dan jadi bahan perebutan kolektor. Pemiliki galeri menuntut Gambir untuk membuat lebih banyak sehingga Gambir sering menghabiskan waktu di studio untuk berkarya. Namun ia mengalami kejadian aneh yaitu ada yang mengetuk dan menggedor dari sebuah pintu yang ada di dalam studio. Ia penasaran namun ingat akan kata istrinya yang melarang bahkan mengancam hidupnya akan selesai jika Gambir membuka pintu tersebut.

Dibalik kesempurnaan Talyda dan dibutakan oleh cinta, Gambir merasa bahwa Talyda sedang selingkuh. Sampai akhirnya ia mengetahui bahwa Talyda selingkuh dengan para sahabat dan adiknya Gambir. Mendengar hal tersebut, Gambir gelap mata. Ia membunuh semua selingkuhannya--termasuk ibunya sendiri yang merupakan dalang dibalik perselingkuhan Talyda. Hal ini disebabkan oleh sang ibu yang ingin memiliki cucu namun tidak mau dari benih Gambir yang dicap gila oleh ibunya. Proses pembunuhannya adalah Gambir menusuk dada keluarga dan sahabatnya dengan mengenakan belati. Sementara perutnya Talyda dikoyak dan dimasukkan janin buah hati mereka yang semula disimpan di dalam perut patung 'Arjasa' karya Gambir. Ternyata Talyda pernah menggugurkan bayi mereka, padahal Gambir sangat kepingin punya anak. Rupanya itulah yang membuat patung-patung Gambir terlihat hidup. Selain patung-patung diberi nama, janin hasil aborsi yang ia dapatkan dari temannya itu ditanam di perut patung-patung tersebut.

Paralel dengan cerita di atas, terdapat cerita lain tentang seorang wartawan bernama Ranti yang sedang mengusut kasus anak schizophrenia yang disebabkan kekerasan yang dialaminya saat kecil. Anak yang dipanggil 'dia' berada di rumah sakit jiwa sejak umur sembilan tahun hingga kini umurnya mencapai 27. Pria tersebut berada di ruang isolasi, dipakaikan straight jacket agar tidak melukai dirinya dan orang lain. Psikiater menyebutkan bahwa anak itu membunuh orang tuanya dan memotong tangan kirinya karena dianggap penyebab ia disiksa oleh keluarganya.

Akhir ceritanya adalah rupanya 'dia' yang sedang diteliti Ranti adalah Gambir. Hidupnya sebagai seniman, beristri sempurna, dan adegan pembunuhan di atas itu hanyalah halusinasi Gambir saja. Namun orang-orang yang dikenal Ranti seperti Dion--seorang pacar Ranti sekaligus fotografer dan Agni--sahabat sekaligus penyanyi ternama, masuk ke dalam halusinasi Gambir. Dion dikhayalkan sebagai fotografer perempuan dan berteman dengan Talyda sementara Agni dikhayalkan sebagai penyanyi kesukaan Dion.

Gambaran utopia di awal cerita seperti kesempurnaan jalan hidup serta kesempurnaan tokoh membuat saya menunggu twist seperti apa yang akan terjadi di akhir. Saya yakin novel ini tidak akan berjalan terus sempurna hingga akhir. Tapi saya juga tidak menyangka bahwa pada akhirnya novel ini membawa ke suasana thriller yang berdarah-darah. Sekar Ayu Asmara mampu membawa pembaca untuk tetap penasaran. Ia pun dapat membungkusnya dengan baik sehingga pembaca tidak menduga akhir ceritanya. Well, itu sih saya saja sih.

Sekar Ayu pun dapat menggambarkan karakter dengan kuat. Talyda yang kaya, sukses, cantik, brand minded, sangat dipuja oleh suami--yang seolah-olah klise--namun ia adalah seseorang yang sangat menuntut kesempurnaan. 'Perfection, perfection, and perfection. Tiga jurus mencapai kualitas hidup terbaik.' Jika ada penyimpangan (biasanya disebabkan oleh Gambir), ia langsung akan memperbaikinya dengan marah, berkata pedas, dan menjatuhkan suaminya sendiri. Sementara itu Gambir digambarkan sebagai seseorang yang menurut, yang tidak memiliki peran untuk membuat keputusan, dan serba bingung. Ia pun mudah meminta maaf terhadap istrinya walaupun tidak salah-salah amat. 'Perasaannya seakan meruah, mengisi seluruh sanubarinya. Ia begitu mencintainya. Ia sangat menyayanginya. Ia tidak akan pernah melukai perasaannya, apalagi hatinya. Ia tidak pernah luput bersyukur kepada Tuhan telah diberi jodoh perempuan sesempurna Talyda.'

Salah satu penggambaran karakter yang saya sukai terdapat di halaman 70-71:

Umur Menik Sasongko sekarang mendekati setengah baya. Usia seakan lupa singgah di paras. Warna kulit tetap seputih kacapiring yang mekar di tepian fajar. Halus bagai kulit bayi umur tiga hari. Licin bagai lilin, lembap bagai embun. Lemak pun seakan enggan menetap di tubuh..
Andai monarki, Menik Sasongko permaisuri. Andai republik, ia presiden. Andai agama, ia nabi. Setiap ucapan adalah asas. Setiap tutur adalah aturan. Setiap pemikiran adalah panutan. Memimpin keluarga bukan tugas mudah. Disiplin kunci keberhasilan. Larangan tak boleh dilanggar. Aturan harus ditaati.

Kalimat 'perfection, perfection, and perfection' serta 'perasaannya seakan meruah, mengisi seluruh sanubarinya' merupakan kalimat yang ditulis berulang-ulang oleh penulis dan ada di setiap chapter. Semacam penekanan atau justru sebuah kata kunci. Selain itu overlap tokoh dan plot paralel membuat cerita ini menjadi tidak biasa dan tentunya menjadi kejutan di akhir cerita. Dunia kegilaan tokoh mengingatkan saya pada film Shutter Island. Dalam Pintu Terlarang, penulis membuat dunia halusinasi dimana semua barang-barang berbicara dan menyemangati 'dia' saat akan membunuh kedua orang tuanya. Juga delusi grandeur saat Gambir pernah merasa dirinya seorang nabi.

Secara umum, Pintu Terlarang adalah karya yang baik. Sebuah penyegaran dari karya yang akhir-akhir ini saya baca, berkutat pada cerita berlatar waktu September 1965 berbumbu cinta klise yang itu-itu saja.

Comments

Vendy said…
Entah filmnya bakalan ada sensasi "perfection, perfection, perfection", atau enggak *penasaran :))
Nia Janiar said…
Nonton makanya.. ntar share sama gue, Ven. Hehe.

Popular Posts