Ragu


Ragu mengetuk pintu. Berbondong-bondong ia masuk ke lorong pikiran, memenuhi ruang kosong yang penuh tanda tanya. Dengan tidak sabarnya ia menggedor logika, membangunkan yang selama ini tidur bersama Perasaan. Lalu ia meneriakkan sebuah kalimat yang hingga kini terus bergaung, "Lihat dirinya! Lihat perilakunya! Apa alasanmu untuk tetap tinggal?"

Keraguan diizinkan; bahkan meskipun yang percaya lebih berbahagia--Ayu Utami berbisik di telinga kananku.

"A.. ada alasannya..." Aku tergugup menjawab dengan tidak yakin. Semakin aku tergugup, Ragu semakin mendesak. Aku berusaha tidak mendengarnya, tapi ia begitu bertekad dengan suaranya yang lama-lama memekakkan. "Beri aku waktu. Beri ia waktu!" ujarku agak panik. Sementara Ragu melotot, sambil mengetukkan jari ke jam tangannya.

Ragu, kumohon, jangan terburu-buru.

Comments

Popular Posts