Skip to main content

Terbentur Agama

Saudara laki-laki saya punya kisah pilu. Hubungan dia dan pacarnya yang sudah terjalin selama enam tahun itu harus kandas karena masalah kepercayaan. Saudara saya Islam, pacarnya Kristen. Saya menduga bahwa awalnya mereka tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan agama (semacam 'segimana nanti') karena saat itu belum ada niat serius. Namun seiring umur semakin bertambah dan kualitas hidup juga harus maju, agama menjadi jurang yang melebar dan memisahkan.

Setelah ayah dari saudara laki-laki saya menyatakan bahwa sebaiknya ia mulai memikirkan untuk menikah karena ayahnya sudah lelah bekerja dan ingin pensiun, mau tidak mau saudara laki-laki saya pun memikirkan pernikahan. Saya juga sudah memberi saran gedung serta berbagi imajinasi tentang resepsi seperti 'sebaiknya malam hari saja di Kartipah dengan sedikit undangan. Pasti acaranya romantis.' Namun si perempuan tampaknya tidak tergugah untuk excited dan mencari tempat untuk nikahannya nanti. Mungkin si perempuan mulai memikirkan tentang perbedaan agama yang sudah dipertanyakan oleh keluarga.

Saudara saya bukan seorang muslim yang rajin beribadah, namun ia tidak pernah memikirkan untuk meninggalkan agamanya. Pilihannya adalah si perempuan masuk Islam atau tidak sama sekali. Rupanya, dengan aksi mengulur hubungan perlahan-lahan sehingga menjadi renggang, si perempuan juga menolak. Oleh karena itu, hubungan yang sudah lama terjadi akhirnya putus. Selesai. Klaar.

Ya sudah, hidup harus terus berjalan. Saya mulai menggoda saudara saya apakah kini dia sedang menyukai perempuan lain atau tidak. Saya pun mulai mendorong hubungan dia dengan salah satu teman perempuannya. Juga hampir saya jodohkan dengan teman saya. Saya memberi semangat ketika dia sedang dekat dengan salah satu saudara-sangat-jauh-sekali-nya. Namun ia masih mengemukakan bahwa ia selalu membandingkan perempuan baru ini dengan pacar lamanya dengan hasil bahwa pacar lamanya masih unggul. Saya pikir itu wajar.

Namun saya tidak menyangka bahwa ia harus meminta izin dulu pada pacarnya bahwa ia akan move on. "Kenapa harus minta izin?" tanya saya. Dia bilang dia tidak tega kalau dia harus move on sementara pacarnya masih sendirian. "Apa?? Baik amat!" Saya terkejut tapi saya tulus bilang dia baik. Bahkan saya tidak kepikiran membiarkan seseorang berbahagia terlebih dahulu dengan mengenyampingkan kebahagiaannya. Namun dia bilang bahwa dia hanya sudah terbiasa bertanggung jawab atas pacarnya sebagaimana yang ia lakukan selama enam tahun belakangan. (Saya menceritakan hal di atas kepada pacar saya, kemudian dia terkagum-kagum lalu berkata, "Kalau aku sih enggak bisa kayak gitu." Tentu, si pacar bukanlah tipe romantis khayali seperti di atas. Seperti ia menganggap bahwa penggalan lirik 'I love you more than anyone in my life' di lagu Daft Punk - Something About Us hanyalah bualan.)

Bertanggung jawab atas pacar? Saya terharu. Namun saya lebih peduli nasibnya ketimbang nasib mantannya. "Aku ngerti kalau kamu sudah berhubungan lama dengan dia. Namun, kasarnya, dia itu orang lain. Selain itu dia adalah perempuan dewasa yang bisa bertanggung jawab dengan dirinya," tegas saya. Lalu dia mengemukakan bahwa ia lebih tidak tega kalau harus menikah duluan sementara pacarnya datang sendirian. Duh, terharu dua kali. Kalau dia bukan saudara saya, mungkin sudah saya nikahi. HAHA.

Omong-omong masalah agama, pacar saya pernah berandai-andai jika dia pindah agama. Setelah perdebatan, saya bilang, "ya sudah, terserah." Lalu dia bertanya bagaimana dengan hubungan kami, saya menjawab tidak tahu. Tapi kenapa saya juga mempermasalahkan? Mungkin karena agama bagian dari keyakinan dimana manusia tidak membutuhkan alasan. Selain itu, saya tidak terbayang jika harus berjalan di rel yang berbeda.

Comments

M said…
Saudaramu bukan pacarku kan Nia? Hahaha... aku jg 6 tahun berhubungan, beda agama. Si cowoknya gak mau diputusin, dan selalu berjanji untuk mencari jalan buat kita berdua.
Menurutku wajar sang pria merasa bertanggung jawab. Karena 6 tahun yg mereka miliki bukan bohongan. Kemudian jika perempuan ditinggalkan, laki-laki masih bisa enak cari pacar, sementara perempuan? Kalau usianya ketuaan, sudah susah cari pasangan. Belum lagi susah move on, apa yang sudah dibina selama 6 tahun pasti susah hilang.

Kenapa bisa kebablasan pacaran sampe 6 tahun? Apakah krn cocok? Karena cowoknya mengemis2 minta jangan diputusin? Karena cowoknya ngotot gak mau diputusin? Atau karena cowoknya berjanji mau mencari jalan keluar dan minta si cewek nunggu?

Tapi dari postingan ini aku jadi tahu, sih... walau ceweknya menunggu dengan sabar, ternyata pada akhirnya ketika sang cowok sudah mampu/berani untuk pergi, sang cewe hanya mendapat debu dan diolok-olok. Aku gak tahu, ini karena posisi cewek yang tawar karena lebih lemah, atau ya... simply karena minoritas. Tapi jadi kesel aja, mungkin kah cowok sengaja nyuruh ceweknya nunggu sampe lama cuma buat dia nguatin hatinya sendiri? Mungkin mrk pura2 berani nikah beda agama cuma biar ceweknya nggak ninggalin dia sampe dia siap?

Aku mikir, Tuhan lebih dari sekedar agama. Sayangnya manusia hanya sebatas agama, at least pacarku.

*eaaa curhat*
Nia Janiar said…
Haha, Caann.. kalo misalnya bener pacarnya, tau gitu kita ketemuan yak dari dulu? Haha.

Semoga ini jalan terbaik buat kalian berdua ya, Can. No matter how bitter it is. :)
Vendy said…
Ini dikasih makan apa? Baik bener. Move on aja perlu laporan khusus :|
Rainny Ranita said…
Sedih bacanya teh Nia,saya bisa ngerti banget perasaan sodara teh Nia gimana,
saya sendiri sekarang masih jalan 4 tahun dengan orang yang beda keyakinan..

hubungan menahun, emang ga bakal gampang untuk jadi tega sama pasangan yg kalopun dia 'orang lain' dan udah resmi berstatus 'putus', tapi udah mendewasa sama-sama dan berbagi banyak hal, jadi pasti ga semudah dan segampang itu kita bahagia sama yg baru.

just saying, no offense :)

good writing juga teh, terus menulis :)
Nia Janiar said…
@Vendy: dikasih makan "tanggung jawab", Ven.. :D

@Rainny: Iya, aku paham, none taken kok. Hanya dipermasalahan di atas, aku hanya kasih point of view yang lebih objektif. Karena kalo sodaraku dibilang kayak Rainny tadi bilang, mgkn dia akan lebih susah lagi untuk move on.

Tapi kadang kita hanya bisa kasih saran, karena tetap dia yang memutuskan. Dan dia sendiri yang menentukan kapan move on-nya.

Makasih yaa sudah mampiirr.. ;)
RtH said…
Menurutku agama hanya media dan cara kita berhubungan dengan Tuhan. Tuhan itu satu, caranya aja yang berbeda. Memang knp dengan perbedaan agama? Ga ada salahnya kan Nia?
Kalaupun hubungan 6 thn itu hrs selesai, bukan karena kami yang mempermasalahkan itu..Aku menerima dy dengan keyakinannya, apapun itu.. Aku menerima dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Dan ttg move on, aku yakin, bahwa masing-masing dr kami belum bisa move on..bahkan sampai detik ini..dan aku mau, dia bahagia walaupun tanpa aku.. 6 thn bkn waktu yg sebentar..

:)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…