Skip to main content

Late Marriage

Keluarga yang memaksa anggotanya untuk menikah dan mengusahakan perjodohan adalah tema yang sudah biasa. Hubungan yang tidak direstui orang tua atau pacaran dengan seorang janda juga bukan hal yang aneh. Hal-hal yang dekat dengan kehidupan ini menjadi tema dari film Late Marriage (2001) besutan Dover Koshashvili. Film ini berkisah tentang Zaza, seorang pria berusia 31 tahun yang berasal dari keluarga imigran Yahudi Georgia yang berpegang teguh pada tradisi, dijodohkan dengan beragam perempuan karena usia serta keinginan orang tua untuk menimang cucu.

Perjodohan Zaza tidak pernah berhasil. Ternyata ia memiliki hubungan dengan seorang janda beranak satu bernama Judith. Hubungan ini membuat keluarga besarnya marah. Sang ayah membawa ibu, nenek, adik, paman, hingga istrinya paman ke rumah Judith yang berusia tiga tahun lebih tua dari Zaza. Dengan baik-baik, pada awalnya, sang ayah menyatakan keberatan kalau anaknya berhubungan dengan orang yang lebih tua. Sementara ayahnya berbicara, para wanita sedang menginvestigasi dapur Judith. Mereka marah saat menemukan oven mereka berada di rumah perempuan yang disebut-sebut pelacur ini. Dialog seperti "Gara-gara kamu, kami tidak memiliki oven selama dua hari" atau "Selama di rumah kami, oven ini tidak pernah sekotor ini" membuat film ini menjadi ... lucu.

Pertengkaran semakin memanas ketika paman Zaza mengambil samurai dan menodongkan ke leher Judith. Namun Judith, tanpa menunjukkan rasa takut, kira-kira berkata, "Kamu bukan orang pertama yang mengarahkan pedang itu padaku." Walaupun membela Judith, sebenarnya Zaza lebih pasif dan tunduk pada keluarganya. Ia pun memilih keluar dari apartemen Judith dan memutuskan hubungan--walaupun tidak lama kemudian ia datang lagi seolah-olah tidak ada apa-apa. Namun Judith, dengan tegarnya, menyuruh Zaza keluar. Begitu Zaza sudah tidak ada, barulah ia menangis. Like a lady!

Singkatnya Zaza menikah dengan orang lain yang diinginkan orang tuanya. Pada resepsi pernikahan, Zaza sempat meracau seolah-olah akan membikin malu pengantin perempuannya. Tetapi tidak. Sial, saya greget juga. Tapi kalau sesuai dengan kemauan saya (bahwa Judith tiba-tiba muncul), cerita ini jadi biasa saja.

Secara keseluruhan saya suka dengan film ini. Late Marriage adalah film yang ringan, dekat dengan keseharian, dan menggelitik. Untuk mereka yang di bawah umur atau berniat nonton bersama komunitas, sebaiknya diurungkan karena adegan seks disuguhkan secara frontal dan cukup menggiurkan karena tampak natural akibat dialog-dialog manis dan adegan lucu yang terselip diantaranya. Heheh.

Comments

neni said…
hhmmmm. sungguh sgt deket dgn kehidupan sehari-hari yaah... :)---neni
Nia Janiar said…
Haha, tampak familiar atau gimana nih? :p
mak beL said…
Ending begini nih yg aplikatif bgt...ga ngimpi ala hollywood ^^
Nia Janiar said…
Haha bener!
acepbaduy said…
buset...moga aja gw gak senasip sama zaza...amin-amin-amin :nosebleed:
aris jayandrana said…
blog yang menarik teh,saya ngikutin..saya jarang nemu blog yang gak copas, orisinil tapi diupdate reguler,....salam kenal teh..
Nia Janiar said…
@Acep: Hahaha, amiin.

@Aris: Wah, salam kenal juga. Sering2 main ke sini yaa..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…