Skip to main content

Sekelumit Tentang Minow

Perkenalkan salah satu penghuni rumah yang doyan jalan-jalan di pagi hari. Kucing anggora berbulu putih ini bernama Minow. Minow hadir di rumah semenjak salah satu mahasiswa kakak sepupu saya memberikan Minow sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Semenjak itu, Minow resmi menjadi bagian dari keluarga.

Konon pemilik sebelumnya memiliki banyak kucing sehingga ia tidak sempat memberikan afeksi sentuhan pada Minow. Oleh karena itu, Minow sangat tidak suka disentuh. Ia juga bukan tipe kucing yang bergelayut manja di pangkuan atau mau ditimang-timang seperti anak tersayang. Minow hanya mau dielus saat ia mau dielus. Minow hanya mau bersandar saat ia mau bersandar. Minow tidak bisa dipaksa. Ia adalah kucing mandiri.

Duh, ini kucing apa majikan, tampak kompleks sekali.

Semenjak saya tinggal di Jakarta, rupanya Minow memiliki kebiasaan baru. Ia senang sekali berkunjung ke jemuran di lantai tiga. Setiap pagi, Minow dikeluarkan dari kandang dan dibiarkan berjalan-jalan. Kalau ia sudah melihat atau mendengar ibu mau pergi ke atas, ia langsung turut serta. Biasanya di atas, ia bergelayut manja di kaki ibu saya. Selain itu, saat turun tangga, ia biasanya berhenti setiap anak tangga untuk menunggu ibu saya dan menengadahkan kepalanya untuk dielus.

Ibu tidak ubahnya seperti cat lady.

Tadi pagi saya pergi ke tempat jemuran untuk mengambil pakaian. Saat turun tangga, saya lihat Minow berlari naik tangga, terus melewati saya yang berada di lantai dua dan melihat keadaan jemuran. Rupanya di sana tidak ada orang. Ia pun balik lagi ke bawah dan memutuskan untuk berbaring manja di sebelah kaki saya. Tidak seperti kebiasaannya jika bersama ibu, Minow enggan turun tangga bersama. Ia baru turun ketika keponakan saya mengelus kepalanya setiap turun tangga.


Operant conditioning. Ia baru mau turun karena penguatan yang didapatnya selama ini berupa elusan.

Kondisi tidak mau dielus dan dipegang ini mengkhawatirkan jika membayangkan saat ia dimandikan ke salon. Saya membayangkan petugas salon yang kewalahan. Oh ya, di daerah rumah saya, kucing seperti ini tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas karena sudah beberapa kali kami kehilangan kucing. Oleh karena itu Minow harus dikandangkan. Saya jadi ingat ketika teman saya keheranan melihat kucing di dalam kandang. "Is it a bird cage?" tanya Bas. "Nope, it is a cat cage," jawab saya.

Walaupun Minow bukanlah kucing yang tepat untuk para majikan yang ingin menyalurkan kasih sayang dan gemas melihat kelakukannya, ia adalah bagian dari keluarga kami. Long live ya, Minow..


Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…