Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2013

Barter!

Meskipun si pacar beberapa hari yang lalu sibuk membuat acara lapak gratis (seperti membuka lapak berisi barang bekas dan orang bisa mengambil atau menyimpan barang sesukanya) di kampung halaman, eh, kota tempat tinggalnya, kami melakukan aksi barter berdua saja. Bedanya barang yang kami pakai adalah barang baru dan diadakan secara privat di ruang tertutup. Hehe. Ide ini muncul karena dia semacam kabita (tergiur, red.) dengan acara tukar kado yang saya lakukan dengan teman-teman kantor.

Jadi sebelum datang, dia sudah kasih kabar kalau kadonya besar hingga tidak muat tasnya yang besar dengan bungkus merah jambu yang menganggusehingga harus dibongkar ulang. Wah, penasaran! Ternyata betul saja, ia mengeluarkan bungkus merah jambu berlurik putih dari tasnya yang penuh dengan tambalan tidak berbentuk (anggap saja kolase) dan tulisan 'complicated box'. Saat dipegang.. eh kok ringan. Haha. Seperti orang yang besar omong tapi tidak ada isinya. Kadonya berbeda sekali dengan milik saya …

A to Z by Request

Akhirnya, komunitas menulis Reading Lights Writers' Circle yang saya geluti semenjak tahun 2008, akhirnya mengeluarkan buku kumpulan cerpen juga yaitu A to Z by Request! Tepuk tangan!


A to Z by Request ini merupakan kumpulan cerita pendek 26 writers' circle yang terinspirasi dari 26 huruf dalam alfabet. Melalui sistem kocokan, kami membuat cerita dari huruf yang kami dapat. Misalnya saya mendapatkan huruf Q, maka saya harus membuat cerita hal-hal yang berhubungan dengan Q. Sebagai teaser, saya berkisah tentang siluman cantik yang mengejar-ngejar seorang pria melalui alam pra-sadar. Rasa penasaran serta makhluk yang selalu muncul ini memberi petunjuk pada Radi untuk pergi ke sebuah pulau terpencil yang begitu jauh dari tempat tinggalnya. Di sana, ia bertemu dengan penduduk setempat yang memberi jawaban dari pertanyaan yang menggelayut di dada Radi selama ini.


"Muncul bayangan sebuah makhluk dari samping tempat tidurnya, perlahan tapi pasti hingga terlihat lumayan jelas bent…

Obituary Adik Sendiri

Pertemuan kami hanya tiga kali; saat ia berumur sekitar 8 tahun, saat dia entah umur berapa, dan 21 tahun. Tapi kami memiliki sejarah panjang dan hubungan yang rumit. Bagaimana tidak, ia adalah anak dari bapak saya dengan istrinya kini. Keberadaannya pun menjadi anomali dalam diri saya yang selama ini biasa sendiri dan melabel diri sebagai anak tunggal. Tahu-tahu, ketika sudah besar, saya memiliki adik yang tidak saya lihat ketika ia berada di dalam kandungan, dilahirkan, dan tidak mengikuti tumbuh kembangnya.

Saya ingat waktu ke kampung halamannya saat ia masih kecil. Saat kami pertama bertemu, bapak bilang, "Nih, katanya mau lihat teteh." Setelah itu tampaknya kami sibuk sendiri, saya berbasa-basi dengan bapak dan dia main sendiri. Ketika saya akan pulang, dia tidak ada dan ibunya memanggil bahwa saya akan pulang. Saya ingat jelas saat itu dia berlari ke arah mobil, bersalaman, dan saya memberikan uang jajan. Perasaan pertama yang saya rasakan adalah .. saya sayang anak in…

The Elephant Man

John Merrick tidak jelek. Lebih parah dari itu; ia mengerikan. Bagaimana tidak, lihatlah kulit yang tebal dan bergumpal di kepalanya, tangan kiri, dan kedua kakinya. Tubuhnya yang abnormal ini mulai muncul di tahun-tahun pertamanya saat ia masih kecil. Kulitnya tumbuh secara berlebihan dengan struktur tulang yang tidak biasa dan diiringi dengan tumor hingga setengah tubuhnya. Kemudian pada saat kecil, ia pernah terjatuh dan mengalami cedera pinggul dan mengakibatkan jalan pincang selamanya.

Sayangnya ini bukan tokoh sebuah cerita fiksi, ia nyata keberadaannya. Joseph Carey Merrick, pria Inggris yang lahir pada 5 Agustus 1862 dan tumbuh menjadi seseorang yang disebut sebagai Elephant Man. Keberadaan dia menginspirasi film The Elephant Man (1980) yang dibintangi oleh John Hurt dan Anthony Hopkins. Dengan jalan cerita yang hampir mirip, The Elephant Man bercerita tentang seorang dokter bedah, Fredrick Treves (Anthony Hopkins), yang menemukan John Merrick (John Hurt) di sebuah sirkus yang…

Kartu Pos

Sejak menemukan kantor pos dekat kantor (walaupun dekat, kantor ini harus dijangkau dengan dua kali angkot), saya jadi keranjingan kirim kartu pos. Tentu belum sekeranjingan sahabat saya, Andika, yang punya satu bundel kartu pos yang diterima dari berbagai daerah dan entah berapa jumlah kartu yang sudah ia kirimkan. Selain itu juga, kartu pos yang saya terima selama ini mayoritas berasal dari Andika yang (saat itu) satu kota dan masih sering bertemu pula. Haha.

Tapi saya senang menerimanya. Selain karena alasan serba digital, kartu pos menjadi sebuah surat yang tidak kalah berharga. Mengapa? Pertama, diperlukan niat untuk pergi ke kantor pos yang tidak ada digenggaman layaknya telepon. Kedua, kartu pos itu eksklusif. Bagaimana tidak, seseorang memberikan sebuah kartu hanya untuk satu orang saja, tidak seperti telepon atau email yang medianya ditujukan untuk banyak orang. Ketiga, sama seperti surat, rasa deg-degan mengetahui 'kapan sampainya ya?' juga ada. Namun terkadang, untu…

Datang dan Pergi

Akhir bulan Agustus kemarin, saya dan teman-teman kantor karaoke bersama sebagai bentuk perpisahan salah seorang dari kami, Ganis, yang memutuskan keluar dari kantor. Beberapa bulan sebelumnya, kami karaoke bersama untuk melepas Gita. Juga beberapa bulan sebelumnya lagi, kami melepas teman dari divisi lain.. masih dengan karaoke. Dan tidak jauh dari hari ini, kami kehilangan satu orang dalam tim yaitu supir setia divisi yang kini dimutasi ke bagian lain.

Di kantor, ada seorang perempuan bernama Nurul yang masa kerjanya cukup lama yaitu tiga tahun. Saya yang masih hitungan bulanan saja sudah berpisah dengan banyak orang, apalagi dia. Maka, suatu hari saya bertanya apa rasanya harus berpisah dengan banyak orang, ia hanya menjawab, "Oleh karena itu gue memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan teman." Hmm.

Tadi siang saya pindah meja kerja ke tempatnya Ganis. Saya memindahkan folder beserta isi dan meminta bantuan IT untuk memindahkan komputernya ke tempat lain. Malamnya, say…