Skip to main content

Datang dan Pergi

Akhir bulan Agustus kemarin, saya dan teman-teman kantor karaoke bersama sebagai bentuk perpisahan salah seorang dari kami, Ganis, yang memutuskan keluar dari kantor. Beberapa bulan sebelumnya, kami karaoke bersama untuk melepas Gita. Juga beberapa bulan sebelumnya lagi, kami melepas teman dari divisi lain.. masih dengan karaoke. Dan tidak jauh dari hari ini, kami kehilangan satu orang dalam tim yaitu supir setia divisi yang kini dimutasi ke bagian lain.

Di kantor, ada seorang perempuan bernama Nurul yang masa kerjanya cukup lama yaitu tiga tahun. Saya yang masih hitungan bulanan saja sudah berpisah dengan banyak orang, apalagi dia. Maka, suatu hari saya bertanya apa rasanya harus berpisah dengan banyak orang, ia hanya menjawab, "Oleh karena itu gue memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan teman." Hmm.

Tadi siang saya pindah meja kerja ke tempatnya Ganis. Saya memindahkan folder beserta isi dan meminta bantuan IT untuk memindahkan komputernya ke tempat lain. Malamnya, saya memindahkan barang-barang di kamar kostan ke kamar lain karena pemilik sebelumnya keluar dari kantornya. Di bekas kamarnya ini tertinggal personalisasinya seperti pakaian, dus sepatu, hingga pewangi ruangan. Baru sekejap saja saya mengenali orang ini, kini dia sudah pergi lagi.

Saya selalu gugup saat menjumpai perpisahan. Saat kelas 1 SMA, saya cemas setengah mati di hari terakhir ulangan umum karena saya harus berpisah dengan kakak kelas yang saya sukai. Kegugupan masih terasa saat akan berpisah dengan Gita. Namun saya melihat teman-teman kantor yang tidak lebay dalam melepas, tidak ada jerit tangis (sebagaimana kantor saya di Bandung dulu), salaman, pelukan sedikit, ya sudah. Hidup terus berjalan. Efek buruknya, ketika baru kenal dengan seseorang dan tahu akan terjalin hubungan, saya jadi memikirkan: kapan kami akan berpisah?

Saya pikir ada pelajaran yang bisa diambil. People come, people go. And I think, all we have to do is get used to it. :)

Comments

sengaja blog-walking nih, hehe

simpel, tapi benar... keren teteh... :D
Nia Janiar said…
Makasiihh
IndraStuti said…
never been so easy to say good bye.
hmm
Nia Janiar said…
Hayo loh Mba Iiinn.. hehee

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…