Skip to main content

Kartu Pos

Sejak menemukan kantor pos dekat kantor (walaupun dekat, kantor ini harus dijangkau dengan dua kali angkot), saya jadi keranjingan kirim kartu pos. Tentu belum sekeranjingan sahabat saya, Andika, yang punya satu bundel kartu pos yang diterima dari berbagai daerah dan entah berapa jumlah kartu yang sudah ia kirimkan. Selain itu juga, kartu pos yang saya terima selama ini mayoritas berasal dari Andika yang (saat itu) satu kota dan masih sering bertemu pula. Haha.

Tapi saya senang menerimanya. Selain karena alasan serba digital, kartu pos menjadi sebuah surat yang tidak kalah berharga. Mengapa? Pertama, diperlukan niat untuk pergi ke kantor pos yang tidak ada digenggaman layaknya telepon. Kedua, kartu pos itu eksklusif. Bagaimana tidak, seseorang memberikan sebuah kartu hanya untuk satu orang saja, tidak seperti telepon atau email yang medianya ditujukan untuk banyak orang. Ketiga, sama seperti surat, rasa deg-degan mengetahui 'kapan sampainya ya?' juga ada. Namun terkadang, untuk urusan emergency, saya menggunakan email untuk curhat-curhatan dengan Andika.

Beberapa minggu yang lalu, saat ada agenda tukar kado di kantor, saya pergi ke Grand Indonesia untuk mencari kado. Di sana ada sebuah toko pernak-pernik bernama Scoop. Saya membeli gantungan kunci sebagai kado dan tea filter untuk keperluan pribadi. Ternyata di sana juga ada kartu pos. Selain kartu pos gambar pemandangan, ternyata ada juga yang gambarnya lucu seperti di bawah ini:


Berdasarkan pengalaman saya, mencari kartu pos itu semacam gampang-gampang susah. Tidak semua tempat menjual kartu pos. Kalaupun ada, paling gambarnya adalah gambar pemandangan suatu tempat yang biasanya dipakai oleh-oleh atau cenderamata tempat wisata. Kartu pos seperti itu bagus juga sih. Tapi kalau saya sedang di Jakarta tapi saya mengirimkan kartu pos pemandangan Bromo tanpa saya berada di sana, rasanya gimanaa gitu.

Mengirim pesan via kartu yang mudah terbaca ini tampaknya tidak cocok untuk orang yang tidak ingin dikepo seperti saya. Haha. Saya enggan kalau pesannya dibaca petugas administrasi, tukang pos, atau si penerima kartunya nanti di rumah. Jadi biasanya saya tidak terlalu banyak bercerita di sana, hanya sapa atau membahas hal yang umum saja. Oh ya, selain isi pesan, yang membuat kartu pos ini menjadi greget adalah gambarnya. Jika mendapatkan kartu pos yang bagus dan unik, rasanya berbeda daripada mendapat sekedar foto saja karena kita jadi memikirkan siapa yang patut mendapatkan kartu itu. Apalagi yang sudah rela-rela digambar dan dicetak sendiri.

Mungkin karena romantisme dan nilai sentimentil itulah kartu pos hadir dalam sastra. Misalnya puisinya Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco karya Sapardi Djoko Damono.

kabut yang likang
dan kabut yang pupuh
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan
matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan

Kini keenam kartu pos tersebut sudah habis, saya kirimkan ke teman-teman yang ada di Bandung dan Jerman, juga pacar yang ada di Sumedang. Oh ya, teman-teman saya di Jakarta terharu begitu tahu saya mengirimkan kartu pos ke pacar karena merasa komunikasi yang sudah jarang dilakukan seperti ini begitu manis. Hehe. Sayangnya kartu pos pertama saya ke si pacar tidak sampai. Entah belum sampai, terselip, atau hilang di mana..

Comments

Andika said…
Hahaha, akhir tulisan ini nggak terduga. Gw aja sedih kalo tahu kartu pos yg dikirim enggak sampai. Tapi kadang2 memang suka agak lama.
Nia Janiar said…
Iya.. kok bisa gak sampai ya, Dik? Huhuuu. Gue penasaran ini nyampe gak ya ke Jerman, tampak jauh sekali. Tapi iya, meni sedih..
coklatdanhujan said…
mungkin kartu posnya belum sampai,,pengalaman saya mengirim kartu pos ke Jerman bisa 30 hari baru sampai
Nia Janiar said…
Okeey, makasih yaa buat infonya..
setya wan said…
membaca blog ini menjadikan saya pengin menambah koleksi kartupos.
thanks a lot

salam kenal and May God bless us
setiawan - www.js-kintamoney.blogspot.com
Nia Janiar said…
Sama-sama. Salam kenal juga!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…