Skip to main content

Obituary Adik Sendiri

Pertemuan kami hanya tiga kali; saat ia berumur sekitar 8 tahun, saat dia entah umur berapa, dan 21 tahun. Tapi kami memiliki sejarah panjang dan hubungan yang rumit. Bagaimana tidak, ia adalah anak dari bapak saya dengan istrinya kini. Keberadaannya pun menjadi anomali dalam diri saya yang selama ini biasa sendiri dan melabel diri sebagai anak tunggal. Tahu-tahu, ketika sudah besar, saya memiliki adik yang tidak saya lihat ketika ia berada di dalam kandungan, dilahirkan, dan tidak mengikuti tumbuh kembangnya.

Saya ingat waktu ke kampung halamannya saat ia masih kecil. Saat kami pertama bertemu, bapak bilang, "Nih, katanya mau lihat teteh." Setelah itu tampaknya kami sibuk sendiri, saya berbasa-basi dengan bapak dan dia main sendiri. Ketika saya akan pulang, dia tidak ada dan ibunya memanggil bahwa saya akan pulang. Saya ingat jelas saat itu dia berlari ke arah mobil, bersalaman, dan saya memberikan uang jajan. Perasaan pertama yang saya rasakan adalah .. saya sayang anak ini.

Saat itu kami tidak bertemu lama sekali, sampai-sampai saya lupa keberadaannya. Sampai ia dan bapak datang ke rumah dengan tiba-tiba, terlalu tiba-tiba, sehingga sangat mengejutkan. Saya menolak keberadaannya. Lalu kami kembali berkomunikasi saat bapak koma saat serangan jantung. Ia yang menghubungkan saya dengan bapak. Kami jadi lebih sering mengenal dan berkomunikasi seperti dua orang dewasa. Di sana ia mengemukakan bahwa ia ingin memiliki kehidupan yang saya jalani, ingin sekolah tinggi, ingin menjadi pemain sepakbola, ingin mengenal saya lebih jauh, dan bilang bahwa ia dan bapak tidak memiliki kedekatan karena bapak terus memikirkan saya dan tahun ke tahun. Memikirkan saya--yang kata mama--anak perempuan yang begitu diinginkan namun kemudian dibuangnya.

Semua tampak berjalan lancar hingga si adik ini mengucapkan sesuatu yang membuat saya begitu ketakutan. Hal ini merenggangkan kami. Saya banyak menghindar SMSnya dan tidak bertanya kabarnya. Ia hanya menjadi penghubung saya dan bapak saja. Bahkan saya meringankan berita saat mendengar bahwa ia sakit, ada pendarahan di otak, dan tidak sadarkan diri. Saya pikir ia akan seperti bapak seperti dulu, bangun dan beraktivitas. Tapi saya salah. Ia memilih pergi. Selamanya.

Saya merasa sangat menyesal sekali. Ia pun tidak datang saat saya menjenguk bapak di hari lebaran kemarin. Dan komunikasi terakhir kami begitu tidak harmonis. Saya merasa sangat menyesal sekali karena saya terlalu mengedepakan ego saya. Saya lupa tentang adik yang saya sayang di saat pertama kali bertemu. Saya merasa begitu kehilangan adik yang hanya ditemui beberapa kali ini. Saya merasa .. sangat berduka.

Saya sedang memasuki fase berduka dimana saya menyangkal kematiannya. Bagi saya, dia hanya pergi sebentar, lalu pulang lagi, dan kami memperbaiki hubungan kami. Namun kematian itu nyata dan begitu dekat dengan urat nadi. Ia bisa datang kapan saja dan dengan cara apa saja. Mengambil orang-orang yang dikasihi, meninggalkan duka bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Semoga ia tenang di sana. Semoga ia tidak meninggal dalam keadaan sakit hati akan kakaknya yang tidak peduli ini. Semoga bapak dan ibunya juga kuat menghadapinya.

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. Surely we belong to Allah and to Him shall we return.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…