Apartment? Hell No!

Jadi ceritanya saya tidak punya apartemen tapi sedang berandai-andai jika saya tinggal di apartemen. Imajinasi ini muncul setiap malam di kamar kostan seluas 3x3 meter. Saat akan berangkat tidur, mata saya melihat langit-langit dan dinding kamar kostan yang bentuknya kotak menjemukkan. Sayangnya kalau sudah jemu begitu, saya tidak bisa keluar kamar karena di depan kamar hanya ada lorong dan tangga. Pikiran bisa istirahat sebentar untuk melihat jemuran yang ada di lantai bawah. Setelah itu kembali ke kamar.

Berada di dalam kamar kostan tanpa ruangan lain rasanya seperti di penjara. Saya bisa mati bosan kalau kelamaan berada di sana. Apalagi di depan kamar tidak ada pohon--sebagaimana kamar di rumah Bandung. Rasanya romantisme melamun sambil menatap langit untuk cari inspirasi itu nihil.

Saya teringat ketika saya mengunjungi apartemen teman beberapa waktu yang lalu. Rasanya sepi begitu melihat lorong yang putih dan kaku, berhiaskan pintu-pintu, dan tanpa interaksi. Dingin. Saya tidak bisa hidup seperti itu. Mungkin saya orang Indonesia asli yang segalanya harus menapak tanah. Rumah baru dikatakan sebuah rumah ketika bangunannya menapak tanah. Walaupun jika saya memiliki sebuah apartemen, bagi saya itu bukan rumah. Itu hanyalah kamar (dalam kamar) dan rasanya seperti ngekost seumur hidup. Teman saya berargumen bahwa dengan memiliki apartemen, saya bisa mendapatkan fasilitas yang baik seperti ada tennis court atau kolam renang. Aduh, selain itu dipakai oleh bersama, saya sih mending punya rumah di atas tanah tapi saban akhir pekan pergi ke sasana olahraga.

Pertimbangan lainnya adalah jika terjadi bencana dan bangunan rubuh, saya kehilangan kamar. Memangnya itu akan diganti (dengan cepat) oleh pihak pengembang apartemen? Kalau punya rumah di atas tanah, setidaknya kalau rumah rubuh, saya bisa buka tenda di pekarangan. Ketika terjadi gempa, larinya pun jelas dan langsung ke alam terbuka, bukannya terhimpit di tangga yang menyambungkan puluhan lantai.

Namun di kota yang kian sempit ini, apartemen tampaknya jadi alternatif jawaban. Apalagi tanah yang semakin mahal serta lahan semakin sedikit. Kalaupun punya rumah, biasanya terletak di dalam gang sempit yang bisa saling melihat dan jarak personal antar warga terlalu dekat. Namun, mudah-mudahan, saya tidak tinggal di apartemen atau di gang dengan pakaian basah yang dijemur di pinggir jalan atau bangunan yang saling menumpuk. Itu juga ogah. Tidak apa-apa jika rumahnya harus dipinggiran kota juga, asal terasa lega, bersih, tidak sesak, memiliki pekarangan, dan bisa melihat langit maha luas.

Yah, namanya juga mengkhayal. Sekarang sudah waktunya bangun.

Comments

mak beL said…
Apartemen itu cucok sama org yg malas bersih2, malas ngambil minum jauh2, malas "ke belakang" jauh2, pokoknya smua yg berbau malas deh, dan itu saya bgt, makanya saya ambil apartemen ;p
Nia Janiar said…
Wow! Cool! :D

Popular Posts