Skip to main content

Long Distance Relationship

Hubungan jarak jauh itu hubungan yang tidak masuk akal. Bagaimana tidak, sepasang kekasih menjalin sebuah hubungan yang hanya dilakukan via telepon, email, sms, chat, dan pertemuan sekian minggu atau bulan sekali, tanpa bisa terlibat secara langsung dengan ia dan kehidupannya. Bahkan jika salah satunya memiliki acara lain sehingga jadwal ketemuan pun bentrok, maka waktu untuk bertemu lagi pun akan semakin lama. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah dua orang yang jelas-jelas beda kota masih mau-maunya menyepakati untuk melakukan hubungan yang sangat mengedepankan hal-hal serius seperti komitmen dan kejujuran (walaupun setiap hubungan non jarak jauh juga harus melakukan hal itu, tapi jarak membuat segalanya jadi berlipat).

Berada di balik gagdet membuat kita tidak tahu betul apa yang terjadi di sana. Kalau mereka bohong pun kita tetap percaya. Mereka bilang sedang sibuk bekerja atau sedang bromance bersama teman-teman atau memang betulan jalan sama lawan jenis lain, kita tetap percaya saja. Untuk memantik curiga itu sangat mudah--seperti menjentikkan jari. Kalau saya, karena ogah gila sendiri, saya memutuskan untuk percaya saja. Saya tidak mau dirongrong dengan pertanyaan 'apakah dia betulan jujur?' karena itu melelahkan. So, darling, this is my handful of trust, use it wisely. 

Pun kita sebagai pihak yang berada di balik gadget mereka, tetap harus mempertahankan komitmen untuk melakukan hubungan pacaran monogami. Oke, itu istilah ngarang. Tapi intinya tidak selingkuh. Karena membohongi mereka pun mudah. Selingkuh dengan teman kantor di siang hari namun berhubungan dengan si pacar di malam hari pun bisa dijadikan pilihan. Saat ditanya 'kamu seharian ngapain saja?' lalu kita jawab 'main sama teman-teman' padahal sedang asyik masyuk dengan selingkuhan pun bisa. Oleh karena itu, godaan-godaan seperti itu dijaga dengan yang namanya komitmen yang ditempa dan dilebur hingga murni.

Duh, apaan, kok jadi preachy dan nggilani begini.

Hambatan lainnya adalah, jika kedua orang tersebut memang dari awal hubungan sudah berjarak, maka mereka akan kesulitan untuk melebur dengan keluarga dan teman-temannya. Oke, pertemuan ini dihabiskan untuk berdua. Pertemuan selanjutnya untuk teman-teman. Kemudian untuk keluarga si perempuan. Lalu di kesempatan berikutnya untuk keluarga si laki-laki. Kemudian balik lagi ke awal. Pertemuan-pertemuan sekilas tersebut hanya meninggalkan kesan 'oh, dia orangnya baik' tapi saat ditanya 'baik yang seperti apa?' agak menyulitkan untuk dijawab.

Atau kalau ada acara yang seru, kedua orang tersebut tidak bisa mengajak secara spontan pasangannya. Segalanya jadi direncanakan. Si salah satu pasangan jadi mencari-cari ada acara apa yang bisa didatangi saat mereka bertemu nanti. Kalau pasangan tidak bisa, ya datang bersama teman-teman atau sendiri lagi. Hubungan jarak jauh adalah pacaran dengan citra rasa jomblo memang. Haha.

Tentu banyak hubungan jarak jauh yang bertahan lama dan berhasil. Jarak dekat pun tidak menjamin kelanggengan sebuah hubungan. Saya pikir faktor yang membuat sebuah hubungan terus berjalan adalah apakah si pasangan adalah orang yang worth to fight for. Faktor lainnya adalah saling tidak menyerah satu sama lain. Ya, mungkin begitu.

Comments

novel ilalang said…
lalu LDR bukan pilihan, saya sih menyebutnya cinta abu-abu...karena harus saling percaya...meski yg udah nia bilang diatas...

saya pilih jomblo aja dehh, sambil nyari yg didepan mata

thanks nia
Nia Janiar said…
hehee.. sama2!
sebelumnya berhubungan kan ada PDKT dulu bukan ?
disini biasanya bisa kenal sifat dasar orang tersebut...

biasanya
kan sebelum berhubungan ada PDKT dulu ?
banyak cara kok untuk selingkuh walau satu kota, emang kalau satu kota ketemu gitu tiap hari ?
eh...dimoderasi ya,,,hehe,,maap

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…