Mangrove Forest Touchdown!

Sebelum mulai bercerita, belakangan ini saya rajin menulis judul tulisan menggunakan Bahasa Inggris. Sangat bertentangan dengan konsep blog yang menjunjung Bahasa Indonesia (yeah, right). Mungkin ini karena terbiasa di kerjaan yang mengharuskan menulis judul dalam bahasa asing--karena permintaan klien--dalam artikel majalah gaya hidup kelas atas. Tapi penulisnya sih tetap berada di kelas menengah. Kadang menengah ke bawah dari tanggal 5 sampai 28.

Oke. Jadi, pada suatu hari saya bertugas untuk meliput acara Miss Earth Indonesia 2013 yang diselenggarakan di salah satu rumah sakit daerah Pantai Indah Kapuk (PIK). PIK memang terkenal sebagai daerah pinggir pantai yang dilakukan pengembangan perumahan untuk kalangan atas dan pertokoan. Kalau kamu ke daerah ini, maka kamu akan melihat rumah-rumah besar, jalan umum yang menggunakan paving block, serta restoran dan cafe mahal. Intinya, ini adalah lingkungan orang kaya Jakarta bagian utara.

Pendopo di pinggir danau.

Intermezzo. Saya pernah masuk ke dalam rumah salah satu klien yang ada di PIK. Waduh, rumahnya besar sekali dan baru ditempati. Gigantisme. Saking besarnya, rumah sebanyak tiga lantai itu diberi pagar yang dibuka tutup secara otomatis. Kebayang kalau manual, pasti akan berat sekali. Selain itu juga interiornya rumahnya serba baru dan mewah. Ada kolam renangnya juga. Tetangganya pun rumahnya tidak kalah mewah. Bahkan ada yang terlihat seperti kue tart yang serba keriting. Harus kerja apa ya untuk bisa begini?

Balik lagi ke acara beauty pageant, jadi mereka ada agenda melakukan aksi penanaman pohon bakau di Kawasan Ekowisata Mangrove Tol Sedyatmo. Wah, saya senang sekali karena saya belum pernah ke hutan mangrove yang ada di Jakarta. Sebelumnya saya pernah ke kawasan hutan mangrove saat saya dan teman saya menuju Kampung Laut, Cilacap. Di sana saya berlayar menggunakan compreng, melintasi sungai yang dipenuhi pohon bakau di kiri dan kanan.

Enak untuk jalan kaki.
Agus Suryono, penanggungjawab ekowisata mangrove dan hutan lindung, menjelaskan bahwa 25% hutan mangrove dunia itu ada di Indonesia, jenis-jenis tanaman yang ada di hutan mangrove (ternyata mangrove adalah sebuah kelompok bakau) dan manfaat hutan ini seperti mencegah banjir, pertahanan biota laut, sebagai sumber makanan ikan, wahana penelitian dan pariwisata. Selain itu ternyata bakau memiliki buah yang bisa dimakan dan dijadikan sirup. Kata Agus, biasanya ia suka menyajikan sirup tersebut secara gratis di waktu tertentu, sepertinya disesuaikan dengan panen buah bakaunya.

Lahan kosong siap tanam.
Mereka memiliki lahan kosong yang sudah dipatok dan siap ditanam. Mungkin karena ini ekowisata, maka lahan kosong tersebut baru ditanam untuk para pengunjung rombongan yang memiliki program revitalisasi hutan saja. Selain itu, tempat ini memiliki sebuah danau yang luas yang sering dikunjungi penduduk sekitar untuk memancing. Di tanah mereka memancing, banyak bangkai ikan yang letaknya berjauhan. Ternyata itu karena mereka memancing menggunakan jala, kemudian tanpa sengaja mengambil ikan sapu, namun bukannya dikembalikan lagi ke air, mereka malah membuangnya. Wew! Teori konspirasi lain yang dilontarkan oleh teman fotografer adalah ikan sapu memiliki kaki dan mereka berjalan ke darat lalu mati. "Ikan sapu kan amfibi."

You don't say.

Ternyata di hutan ini terdapat 180-200 monyet Macaque (atau Macaca) yang siap menjambret kamera atau kacamata kamu. Mereka duduk-duduk santai di batang pohon sambil melihat orang-orang yang berjalan di atas paving block. Dalam pikiran mereka, jangan-jangan kita ini monyet. Haha. Oh ya, kalau barang kalian di ambil oleh monyet, caranya bukan saling rebutan. Ini adalah hal yang saya pelajari saat saya ke Bali: lakukan barter--terutama makanan. Saat tangan mereka mengambil makanan, tangan kita yang lain mengambil barang yang diambil. Begitchu.

Ya sudah, besok saya mau jalan-jalan ke Pulau Onrust. Pasti akan banyak yang bisa diceritakan. Sampai berjumpa di destinasi selanjutnya!

Comments

Popular Posts