One Day Escape

Kali ini saya jalan-jalan ke Pulau Onrust, Pulau Cipir, dan Pulau Kelor. Ketertarikan pada ketiga pulau itu berawal ketika melihat foto di Facebook teman saya. Rupanya di sini ada benteng dan reruntuhan bangunan rumah sakit. Karena saya tertarik dengan gedung peninggalan sejarah, tanpa berpikir panjang, saya mencari paket wisata untuk pergi ke sana. Harganya murah yaitu Rp89.000 untuk satu hari. Ada yang lebih mahal karena pakai makan siang. Ah, saya bisa bawa bekal kok dari kostan. Dan rasanya kalau tiba-tiba ada rencana liputan atau tidak jadi, biaya tersebut jadi nothing to lose lah ya. Hahay.

Sayangnya rencana eskapis ini jadi sedikit terganggu karena teman trip saya ternyata ikut. Wah, rencana untuk melarikan diri untuk jadi tidak terlihat jadi gagal. Tapi itulah enaknya kalau suka jalan-jalan. Kita akan kenal orang baru, baik kenalan sendiri atau temannya teman, dan orang itu akan menjadi teman kita untuk seterusnya. Untungnya ia pergi bersama keluarganya.

Saya pergi dari kostan di daerah Kedoya pukul 6:00 ke Dermaga Muara Kamal. Untungnya dermaga ini bisa dicapai dengan angkutan umum. Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa saya langsung mengiyakan pergi ke tiga pulau ini. Angkot menurutkan kami di tempat pelelangan ikan yang becek. Jadi, tips untuk kalian yang mau pergi ke dermaga dan melewati pasar ikan, sebaiknya menggunakan sepatu ya. Tapi jangan lupa untuk membawa sendal agar bisa bermain pasir di pantai.

Pukul delapan tempat, kami semua naik ke kapal warga yang isinya 25 orang per kapal. Alhamdulillah tepat waktu. Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di pulau pertama yaitu Pulau Kelor. Dari jauh sudah terlihat sebuah benteng bernama Benteng Martello. Benteng Martello ini dibangun pada abad ke-17 oleh VOC untuk keperluan pertahanan. Bentuk benteng yang bulat berfungsi agar senjata bisa melakukan manuver 360 derajat.

Klik foto untuk memperbesar.

Konon pulau yang luasnya hanya dua hektar ini dulunya pernah menjadi kuburan tahanan politik yang dihukum mati. Kalau dari informasi yang saya terima, penghuni pulau ini dulunya kucing liar yang tidak jelas asalnya. Namun tidak perlu takut karena Pulau Kelor kini begitu terbuka sehingga kita benar-benar bisa melihat garis pantai dari ujung ke ujung. Dari sini pun bisa terlihat gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta karena jarak pulau yang dulunya bernama Pulau Kherkof ke ibukota hanya terpaut 1.8 km saja.

Di garis pantai dekat benteng, terdapat banyak pilar-pilar beton yang rupanya berfungsi sebagai pemecah gelombang jika terjadi tsunami atau abrasi. Rupanya Benteng Martello pernah menjadi korban keganasan tsunami yang terjadi akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Reruntuhannya bisa dilihat dari bongkahan besar batu bata yang berada di pesisir pantai.

Bongkahan batu bata di pesisir dan orang yang berkemah di sana.
Setelah melakukan sesi foto, video, dan tidur-tiduran di atas pasir pantai, saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Cipir atau Pulau Kahyangan atau Kuiper Eiland. Di pulau ini terdapat sebuah rumah sakit dan barak untuk menampung para jemaah haji tahun 1911 hingga 1933. Waah, ternyata di tahun segitu orang-orang Indonesia sudah bisa dan niat berhaji yaa. Di sini juga terdapat tiga buah meriam buatan Belgia yang berfungsi sebagai senjata pertahanan.

Wah, melihat puing-puing bangunan di pulau ini memang agak horor, apalagi statusnya sebagai eks rumah sakit (sudah teracuni film horor Indonesia). Areanya cukup luas dan barak-barak haji pun menyebar sehingga ada lahan terbuka di tengah-tengah. Setiap barak pun bentuknya identik satu sama lain. Selain itu, rupanya pulau ini memang sudah ditujukan sebagai tempat wisata karena jalanan sudah disemen, ada warung, dan toilet.

Rumah sakit di Pulau Cipir. Klik untuk memperbesar.
Di ujung pulau ternyata terdapat jembatan yang menghubungkan Pulau Cipir ke Pulau Onrust. Jembatan itu bernama Jembatan Ponton. Katanya jembatan ini diperkirakan sudah dari tahun 1911. Sayangnya jembatan tersebut sudah hancur setengahnya. Lucunya di atas jembatan yang belum hancur, tumbuh sebuah pohon besar tepat di tengah-tengah.

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke pulau terakhir yaitu Pulau Onrust. Pada tahun 1610, JP Coen pernah meminta pulau ke Pangeran Jayakarta untuk membangun dok kapal yang berfungsi tempat perbaikan kapal yang akan digunakan berlajar ke Asia. Lalu sang pangeran memberi pulau yang luasnya 12 hektar ini. Oleh karena itu, pulau ini diketahui oleh warga sebagai Pulau Kapal.

Pulau yang berjarak 14 km dari Jakarta ini kemudian dipakai sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah dan senjata. Dan rupanya nasib pulau ini begitu jatuh bangun. Bagaimana tidak, pulau ini pernah dihancurkan oleh angkatan laut Inggris tahun 1795 kemudian dibangun kembali oleh Gubernur Jendral GA Baron Van Der Capellen tahun 1827. Lalu, masih berhubungan dengan tempat karantina haji di tahun 1911, pulau ini memiliki 35 barak haji yang masing-masing bisa menampung hingga 100 orang. Maka, total jendral, di pulau ini bisa menampung 3.500 orang haji!

Fiuhhh.. paragraf yang penuh dengan angka-angka.

Klik untuk memperbesar.
Di pulau ini terdapat rumah dokter yang kemudian dijadikan museum, makam Belanda yang kini hanya tersisa 40 buah nisan saja, dan makan pribumi. Katanya orang-orang yang dimakamkan di sana mayoritas mati muda karena penyakit tropis. Apa yang maksudnya penyakit tropis? Semacam malaria, TBC, hepatitis, atau kusta? Lalu di sini juga ada gereja. Sayangnya saya tidak melihat bangunan gerejanya.

Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan, pulau ini pernah dijadikan tempat karantina para penderita lepra sampai tahun 1960. Akhirnya tempat karantina tersebut dipindahkan ke Tanjung Priuk. Syukurlah kejadian itu sudah lama. Karena kalau baru, bisa-bisa saya kena penyakit lepra. Tapi tunggu sebentar, memangnya lepra itu menular? Daaan.. di akhir cerita, Ali Sadikin memutuskan pulau ini sebagai situs sejarah yang wajib dilindungi pada tahun 1971.

Huh hah. Capek juga nulisnya.

Tapi sebenernya ketiga pulau ini sudah mulai dikunjungi semenjak tahun berapa sih? Kok saya baru tahu ya? Huhu.


Walaupun tempatnya tidak bersih (terutama di Pulau Onrust, sampahnya begitu kentara di tempat pemberhentian kapal) dan relatif singkat, saya sudah senang dan bersyukur sekali bisa ke sana. Mungkin dari awal sudah tertarik saja dengan destinasinya. Jadi banyak yang bisa dilihat ketimbang lihat pemandangan doang.

Omong-omong melihat pemandangan doang, saya berencana akan ke Ijen, Menjangan,dan Baluran di awal November nanti. Mudah-mudahan jadi dan Tuhan mengizinkan. Dan sampai jumpa di destinasi selanjutnyaa!

PS:
Untuk foto Benteng Martello, bisa berkunjung ke: http://www.flickr.com/photos/niajaniar/sets/72157636529135995/
Untuk foto rumah sakit di Pulau Cipir, bisa berkunjung ke: http://www.flickr.com/photos/niajaniar/sets/72157636530350236/

Comments

Popular Posts