Akhir Bahagia Neni

Sekitar tahun 2005, saya ikutan komunitas nulis yang terletak di Kyai Gede Utama 8, Bandung. Di sana saya bertemu teman-teman baru yang memiliki minat sama dengan saya dalam dunia tulisan. Saya kenal beberapa orang, termasuk Dika dan Neni yang menjadi teman baik saya hingga kini--walaupun kami sudah tidak aktif dalam komunitas tersebut dan jarang menulis (kecuali tersangkut urusan pekerjaan). Kami sering menghadiri acara pameran seni atau acara musik. Belakangan kami sering merayakan ulang tahun kami masing-masing.

Saya kenal dengan Neni lebih dekat saat ia berada di Jerman. Kami sering chatting untuk cerita--terutama kisah percintaan. Saat ia pulang, ia membawakan magnet bertuliskan Hamburg yang masih ada hingga sekarang. Kemudian adegan saling curhat pun terus berlanjut dengan objek afeksi yang berbeda. Saya suka X, dia suka Y. Lalu kami sering menggalau karena saling tidak kesampaian. Untuk melipur lara tersebut, kami suka makan di cafe fancy sebagai 'move on celebration'. Walaupun setelahnya masih tetap menggalau dan tidak move on juga. Dan saat move on bener pun tidak ada perayaan apa-apa. Hihi.

Salah satu adegan move on celebreation di Harvest.

Di luar episode mellow yang berlebihan itu, kami memang sering makan di restoran yang lucu. Apalagi tampaknya saat itu kami mengalami euforia memiliki baru bekerja dan mendapat gaji sendiri (walaupun Neni udah bekerja lebih lama dari saya). Saat itu saya bekerja di sebuah website wisata yang kerjaannya memang jelajah restoran yang ada di Bandung. Kegiatan kami mencari cake atau makanan manis dengan minuman-yang-tidak-murah-pula-yang-membikin-kami-merogoh-kocek-dalam-tapi-tidak-mengenyangkan semakin gencar saja.

Neni menyukai beberapa orang. Hingga akhirnya ia menyukai pria bernama Rama yang merupakan teman sekolahnya dulu. Seperti yang Neni bilang di pertemuan kami terakhir, kisah percintaan ia dengan Rama itu seperti jalan yang banyak beloknya dan banyak naik turunnya. "Turunnya lebih banyak lagi," kenang Neni sambil tertawa. Harus diakui bahwa ceritanya dengan Rama ini membuat saya gemas dan menyarankan Neni untuk melupakannya saja. Tapi Neni terus bertahan. Ia juga bersikeras bahwa hati dan pikiran dia memang sudah untuk Rama.

Setelah tidak ada kabar cukup lama, Neni mengajak saya dan Dika untuk bertemu di Selasar Sunaryo ArtSpace. Di sana ia menyatakan ia akan menikah dengan Rama. Saya kaget lalu bercanda, "Neni enggak hamil, 'kan??" Tentu Neni tidak hamil sebelum menikah, pemirsa budiman. Ia adalah wanita yang hidupnya lurus-lurus saja. Bahwa seks memiliki gaya yang bervariasi juga baru ia ketahui di usia 28. Hihi.

Saya ingat bahwa saat itu adalah bulan Oktober 2013. Kami baru saya merayakan ulang tahunnya di bulan September. Saat perayaan itu, dia bilang bahwa keinginannya di usia barunya ini adalah menikah. Dan saat itu pula tampaknya hubungan dia dengan Rama dalam keadaan yang tidak baik. Namun siapa sangka bahwa make-a-wish Neni terkabul secepat itu! Tampaknya 'be careful of what you wish for' itu benar adanya ya. :)

Saya, Dika, Myra, dan Frisca akhirnya pergi ke Kalianda--kampung halamannya Neni yang terletak di Sumatra Selatan. Dengan agak terlambat, kami menyaksikan saat Rama (akhirnya kami melihat Rama!) mengucapkan ijab kabul. Setelah itu, kedua pengantin salaman ke semua pengunjung yang ada di mesjid. Saat melihat kami, Neni menangis dalam pelukan. Neniii.. jangan nangis. Semoga bahagia selalu yah!

Penganten naik pick-up.

Tidak boleh menapak aspal.

Oh hey you guys! :)

Kami menyaksikan pernikahan yang meriah dengan acara adat dan kain warna-warni yang menutupi tembok rumah, pelaminan, hingga pakaian kedua pengantin. Betul-betul semarak. Ia pun sempat diarak ke rumah ketua adat dan dilihat banyak orang. Saat menuju rumah adat, Neni dan Rama harus berjalan di atas kain dan tidak boleh menginjak aspal. Dika bercanda, "Gue gak nyangka bahwa Neni adalah seorang ratu di Kalianda. Ratu gak boleh injak aspal!" Saya menambahkan, "Kalau tahu dia Ratu, tahu gitu kita memperlakukan Neni lebih baik ya saat di Bandung. Haha."

Neni dan Rama salaman dengan pengunjung dari pagi hingga sore hari. Di malam hari pun mereka masih melayani tamu. Pertunjukkan musik pun berlangsung hingga pukul 3 pagi! Baru keesokan harinya, saat kami sarapan bersama dan pamit pulang, kami ada kesempatan ngobrol panjang dengan Neni dan mengenal Rama. Oh, jadi ini toh pria yang ia cintai. Senang berkenalan dengan Rama. :)

Setelah ini Neni akan tinggal di rumah Rama di Bandar Lampung. Frisca berkelakar bahwa kami akan mengunjungi Bandar Lampung kalau Neni sudah hamil/melahirkan. Hihi. Dan semoga saya akan selalu mendengar kabar-kabar bahagia di fase hidup Neni yang baru. Oh ya, Neni, cita-cita double date kita belum tercapai nih. Nanti kalau main-main ke Bandung yaa!

Pelaminan touchdown! Yang paling kanan sedang merapal doa.

Klik di sini untuk melihat foto pernikahan adat Kalianda.


“Marriage: Love is the reason. Lifelong friendship is the gift. Kindness is the cause. Til’ death do us part is the length.”
-Fawn Weaver

No comments: