Mengejar Bintang dan Api Biru di Ijen

As I said earlier (adeuh, pakai Bahasa Inggris), saya akan menuliskan perjalanan saya ke Ijen - Menjangan - Baluran jika Tuhan mengizinkan. Eh, ternyata Tuhan bener-bener mengizinkan lhoo. Di tengah padatnya pekerjaan serta takut tidak diizinkan untuk liburan, saya berangkat dengan restu orang tua serta atasan. Hihi. Jadi, saat liburan panjang di awal November, saya dan Eka pergi ke tiga tempat tersebut.

Awalnya kami mau pergi sendiri. Tapi Eka ingin sekali ke Baluran. Setelah browsing, ternyata tidak ada angkutan umum ke taman nasional yang letaknya di Situbondo tersebut. Juga kalau kita mau ke Menjangan yang ada di Bali, kami harus menyewa kapal nelayan untuk menyebrang. Tentu biayanya akan mahal karena hanya dibagi dua. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk ikut paket wisata saja.

Saya berangkat dari Jakarta pukul 11.30 siang dari Stasiun Kota naik KA Gaya Baru Malam ke Stasiun Gubeng Surabaya. Dengan lama perjalanan sekitar 14 jam, kami naik bus kecil untuk melanjutkan perjalanan ke Menjangan, Bali. Jadwal perjalanan memang padat dan tanpa istirahat, tapi untungnya mobilnya nyaman. Setelah menyebrang, kami sampai di Bali sekitar pukul 1 siang. Matahari sedang panas-panasnya dan kami akan snorkeling. Kulit jadi bener-bener keling.

Menjangan rupanya memang dibuat benar-benar untuk wisata. Di sana banyak penginapan mahal dan banyak kapal penduduk yang bersandar baik untuk mengantarkan turis atau mereka yang mau beribadah. Toilet dan kamar mandi pun tersedia. Juga penyewaan alat snorkeling yang dibandrol Rp40.000.

Hanya setengah jam setelah bertolak dari Bali, kami sampai di Pulau Menjangan. Saat saya masuk ke laut, mulanya karangnya biasa saja. Namun lama-lama laut semakin menggelap dan terlihat perbatasan jurang (palung) laut yang menjorok ke dalam. Merinding! Saat masih sepi, saya memilih mundur. Saya takut kedalaman! Tapi ketika sudah ramai dan terlihat ada yang menyelam ke bawah, baru deh berani. Oh ya, saya gak pakai pelampung lhoo. Keren yah. ;D

Aduh, ternyata memang bagus lhoo karang di Menjangan ini. Di bibir palung, karangnya berwarna-warni dengan ikan yang besar warna-warni saling hilir mudik. Saya sudah lama tidak melihat karang sebagus ini semenjak dari Pulau Karimunjawa. Dan tidak pernah lihat ikan sebanyak di sini. Sayangnya saya tidak punya kamera underwater, jadinya tidak bisa berbagi ke kalian semua.

Di pulau ini terdapat dua spot snorkeling. Yang satu adalah yang memiliki palung dan satunya lagi berada di belakang pulau. Di sini lebih dalam namun karangnya biasa saja. Tapi saat beranjak ke belakang pulau, kita bisa melihat sebuah patung Ganesha yang sangat besar dan banyak orang Bali yang beribadah. Bisa terlihat pulau ini tidak kosong karena ada rumah-rumah yang dipakai orang-orang yang mau beribadah dan menyepi.

Setelah dari Menjangan, selepas matahari terbenam, kami berangkat ke Ijen. Sesampainya di Ijen, kami naik gunung pukul 01.30. Iya, kalian tidak salah baca, pemirsa. Setengah satu pagi! Ijen begitu dingin, namun tidak terlalu terasa karena tanjakannya lumayan miring dan bikin badan berkeringat. Walaupun demikian, jalur naiknya sangat terbuka dan memang ditujukan untuk wisata (jangan bayangkan belukar dengan jalan setapak). Begitu diam, dingin lamat-lamat merambat ke tulang.



Saat naik ke kawah, aduhai, kudengar angin menderu bermain bersama pepohonan. Saya jadi teringat novel Bilangan Fu karya Ayu Utami dimana angin memasuk celah tertentu di tebing dan membuat suara. Saat melihat ke atas, saya melihat ribuan bintang yang besar-besar dan terang benderang, layaknya ketombe yang bertaburan di kaos hitam. Serius! Sayangnya kamera digital saya tidak mampu untuk menangkap keindahannya. Huhu.

Saat sudah mencapai kawah dua jam kemudian (lumayan cardio, pemirsa!), kami diperlihatkan blue fire yang terletak di dalam kawah. Blue fire adalah api alami dan abadi. Walaupun wisatawan dilarang turun, tapi banyak juga yang turun untuk melihat blue fire dari dekat--termasuk saya. Jalan turunnya berbahaya dan diperlukan hati-hati yang ekstra. Bagaimana tidak, jalan ini penuh bebatuan tajam serta salah satu sisi yang berbatasan dengan jurang landai. Jalan yang sempit pun harus bergantian dengan orang yang berjalanan berlawanan atau para warga lokal yang membopong hasil belerang.

Setiap harinya, sebanyak dua kali, warga lokal membawa sekitar 70 kg belerang. Setiap kilonya dihargai hanya Rp750 saja. Membayangkan selama dua jam yang melelahkan hingga kawah kemudian harus melewati jalan yang sempit dan berbatu ini, rasanya usaha mereka tidak worth it. Mungkin mereka tidak punya pilihan lain..


Turun gunung pun adalah perjuangan. Kaki terasa sangat pegal, terutama di pergelangan kaki. Biasanya perjalanan pulang terasa lebih cepat ketika akan pergi. Tapi ini sama saja! Huhu. Apalagi saat siang hari, anginnya besar sekali, menerbangkan debu vulkanik yang menyakitkan mata dan menyesakkan nafas. Saat turun gunung sekitar pukul 06.30 pagi, ternyata banyak yang baru naik. Saya dan Eka jadi sombong--dengan bercanda--bilang, "Puncak masuk jauh lhoo." Hihiii.

Setelah makan dan bersih-bersih, kami melanjutkan perjalanan ke Baluran. Iya, langsung, tanpa istirahat. Jadi kami selama ini hanya tidur di mobil. Saat membuka mata, saya melihat savana yang luas, panas, dan gersang. Selamat datang di Taman Nasional Baluran yang luasnya mencapai 25.000 hektar! Kami disambut oleh banyak monyet ekor panjang (Macaca) yang siap merebut makanan, kacamata, atau benda menarik yang dibawa. Hehe, mengingatkan pada Bali.

Setelah menaruh barang di penginapan dan istirahat sebentar sambil menunggu mereka yang cari mini market untuk beli air minum (di sini tidak ada toko, jadi sebaiknya makanan dan minuman disiapkan dengan baik), saya dan Eka pergi ke menara yang berfungsi untuk memantau. Menara ini memiliki tinggi tiga lantai dan bisa melihat panorama Baluran secara keseluruhan. Bisa dilihat di sana ada tanah yang sangat lapang, di sana ada kumpulan pepohonan, dan di sana ada garis yang memisahkan tanah dengan langit--entah berbatasan dengan apa.

Setelah melihat menara, kami semua pergi untuk snorkeling di Pantai Bama pukul 16.00. Rupanya yang snorkeling hanya sedikit yaitu saya, Eka, Oni, Lilita, dan Linggi. Sisanya pergi ke jembatan untuk foto-foto. Dengan waktu yang singkat karena sebentar lagi matahari terbenam, kami menyusuri laut berlima saja. Ternyata, duh, karang di sini jelek sekali. Selain jauh dari bibir pantai, yang kami lihat hanya rumput laut yang itu-itu saja dan permukaan air yang begitu landai. Berjalan sebenarnya memungkinkan, tapi ya lebih lama. Snorkeling di sini tidak direkomendasikan. Sebaiknya kamu bermain di bibir pantai atau main perahu kano saja. Kalau kata Lilita, snorkeling tadi hanya untuk melelahkan badan saja. Hehe.

Saat pulang ke pesanggrahan atau penginapan, kami melihat seekor badak atau banteng yang besar. Badannya kecokelatan habis berkubang di lumpur. Sayangnya di sini tidak boleh night safari karena takut mengganggu para binatang. Jadi kami memilih untuk beristirahat saja. Kami tidak diperbolehkan barbeque-an karena taman nasional ini rentan kebakaran. Tidak aneh karena di sini sangat panas, berangin, dan banyak pohon kering.



Baluran di pagi hari itu sudah sangat terang. Pukul 05.00 rasanya seperti sudah setengah tujuh pagi. Karena udaranya masih dingin, saya dan Eka memutuskan untuk jalan-jalan dan melihat-melihat dari dekat saja karena sebentar lagi kami harus ke Surabaya dan mengejar kereta. Setelah foto-foto, kami bertolak ke ibukota Jawa Timur. Saya dan Eka berpisah di stasiun karena saya pulang ke Jakarta dan Eka pulang ke Bandung.

Walaupun sepertinya banyak keluhan, tapi liburan kemarin betul-betul menyenangkan dan menyegarkan. Apalagi saya sudah setahun tidak liburan. Saya jadi mencari-cari destinasi lain yang kiranya layak kunjung (duh, ini bahasa apaan). Mungkin travel wishlist selanjutnya adalah pergi ke pantai, tidak untuk snorkeling, tapi hanya untuk main pasir, main air, dan menikmati matahari tenggelam. Bersama pacar. :)

Comments

Popular Posts