Surat Buat Bapak

Halo, bapak, apa kabar? Semoga di alam sana, diluaskan kuburnya, dimudahkan urusan akhiratnya, dan amal ibadah bapak diterima di sisi Tuhan. Dan saya memaafkan bapak. Pergilah dengan ringan.

Syukur di beberapa tahun terakhir sebelum bapak tutup usia, kita beberapa kali berkomunikasi dan bertemu. Saya ingat ketika komunikasi pertama kali terjalin. Rasanya bangga dan 'normal' karena akhirnya saya merasa punya bapak. Saya mulai merujuk panggilan 'bapak' dalam beberapa pembicaraan. Rasanya sedikit janggal. Kemudian bapak selalu memberi nasihat agar saya menjaga kesehatan, agar saya selalu hati-hati saat bekerja, dan tidak meninggalkan shalat. Setiap saya tanya balik, "Apa kabar, Pak?" bapak selalu mengeluhkan tentang sakit pada jantung dan rutinitas bolak-balik rumah sakit.

Kesehatan bapak menurun semenjak putra bapak--adik saya juga--meninggal sekitar dua/tiga bulan lalu. Bapak mengeluh dada semakin sesak dan asmanya kambuh. Bapak menyesali kepergian adik. Tidak lama dari situ, bapak juga memberi tahu bahwa bapak berobat ke rumah sakit. Kemudian lama tidak ada kabar sampai saya merasa aneh karena bapak tidak menghubungi. Lalu kabar itu datang, dari sebuah telepon ketika saya baru menginjak Jakarta dan tanah Lampung, bahwa bapak meninggalkan dunia ini. Bapak menyusul adik.

Semoga sakit yang menyerang jantung bapak membuat bapak tidak merasa sakit yang begitu panjang.

Yang terpikirkan oleh saya adalah perasaan ibu--istri bapak. Saya membayangkan perasaanya ditinggal oleh dua orang yang dicintai dalam waktu yang sangat berdekatan. Reaksinya sudah tertebak. Begitu saya datang ke rumah bapak, ibu memeluk saya sambil menangis dan meminta maaf. Ibu selalu  menangis ketika orang memberikan ucapan belasungkawa. Para om juga menyalami saya. Om yang terakhir bertemu puluhan tahun yang lalu. Saya tidak ingat namanya.

Kemudian di atas pusara, om menjelaskan tentang masa lalu bapak, masa lalu saya, dan masa lalu kita. Ada beberapa cerita yang tidak ketahui dan itu membuat saya sedih. Saya menangis di atas pusara bapak. Saya sedih atas masa lalu saya dan hubungan kami sekeluarga. Namun om bilang bahwa mungkin ini memang jalan saya. Dan tarik pelajaran agar kesalahan yang dilakukan orang tua jangan sampai dilakukan pula oleh anaknya. Di situ saya berjanji bahwa saya tidak ingin anak saya nanti merasakan hal yang saya rasakan selama ini. Saya janji.

Akhirnya bapak terlepas dari rasa sakit fisik dan emosional. Saya turut berbahagia. Bapak berpulang kembali ke rumahNya. Salam untuk Tuhan ya, Pak? Mohon katakan padaNya untuk melindungi kami yang ada di dunia dan leluhur kami yang ada di akhirat.

Surely we belong to Allah and to Him shall we return. Al-Fātiḥah..

Comments

alfarizqi said…
my deepest condolence, nia
Nia Janiar said…
makasih ya, mas Alfa
jek said…
Turut berbela sungkawa. Semoga Ibu dan Nia bisa dikuatkan kedepannya. Dan Bapak dan Adiknya diterima di sisinya.
Amin ya Rabb.
Nia Janiar said…
Makasih yah, Jek..
Intan Kuswo said…
kita kelak tahu, kehidupan di sana seringkali adalah lebih baik. moga bapak kita ketemu di sana ya teh :)
Nia Janiar said…
Iya. Amiiinn.

Popular Posts