Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2013

Menengok Rumah Tuhan Melalui Gereja

Ada yang menarik sehingga saya tidak sabar saat Komunitas Aleut! bilang bahwa agenda jalan-jalan selanjutnya adalah jalur gereja. Gereja, secara personal, telah menarik minat. Mungkin karena saya beragama Islam, saya begitu dekat dengan mesjid (walau hanya didatangi saat ada acara akad nikah, shalat tarawih, dan TPA saat masih kecil). Sementara gereja adalah sesuatu yang terlihat jauh sehingga tidak diketahui cerita bangunannya, tidak pernah masuk ke dalamnya, dan bentuk bangunannya yang dipengaruhi budaya Barat yang begitu asing seperti gereja katedral di Jakarta.

Ketertarikan saya pada bangunan gereja adalah saat mengunjungi gereja katedral Santo Petrus di Jalan Merdeka, Bandung. Lihatlah bangunan dengan menara yang menjulang. Konon bangunan di sekitar gereja ini dibangun agak menjorok ke dalam sehingga orang bisa melihatnya dari kejauhan. Tengok juga sejarahnya bahwa bangunan ini dirancang oleh Wolff Schoemaker, seorang arsitek Belanda yang membangun tiga tempat ibadah yaitu gereja…

Menurut Ryan

Reading Lights Writers' Circle mungkin mulai bangun dari mati surinya. Dalam sesi kecil dan dadakan, kami menulis flash fiction dengan tema 'hidup bagaikan film'. Saya membuat cerita tentang seorang tokoh bernama Ryan yang karakternya mirip dengan film dokumenter yang begitu kaku, penuh data-data, dan terkadang menjemukan. Yah, mudah-mudahan berhasil.

------

Aku punya seorang teman. Ryan namanya. Umurnya empat tahun di bawahku, sekitar 23 tahun. Pasca kelulusannya setelah mengenyam lima tahun di jurusan jurnalistik, Ryan tampak semakin menggebu-gebu menjalani keseharian.

Pasca lulus, ia tidak langsung bekerja. Hobinya mengarungi semua komunitas dari komunitas foto, komunitas menyelam, hingga komunitas sejarah. Semua basecamp ia datangi, ia ikuti pula beberapa sesi. Lalu ia kritisi visi, misi, dan kegiatan mereka. Katanya komunitas foto adalah sekumpulan orang-orang pamer kamera ketimbang adu teknik. Sementara komunitas menyelam hanya berisi orang-orang yang ingin pamer fot…

Melawan Melalui Gambar dan Kata

Dari luar ruangan, sudah terlihat bahwa pameran Transit #2: Zona Transisi di dalam Selasar Sunaryo Art Space akan menarik. Kaca-kaca galeri penuh dengan coretan piloks merah putih yang berisi kata-kata. Sebelumnya, dalam pameran apapun, kaca-kaca tersebut selalu bersih dan menampilkan citra jernih ke dalam ruangan.

Sebuah sosok manusia dan anjing yang berada di tengah ruangan segera menarik perhatian. Dinding ruangan penuh coretan kata-kata di samping kiri, kanan, juga langit-langit yang berseru tentang ketidakpuasan pada hal-hal yang seimbang dalam sosial, ekonomi, demokrasi, dan penyelenggara sistemnya. Karena menurut Arman, seperti yang ditulis dalam katalognya, kalimat atau kata-kata lebih tajam dari mulut dan gambar.




Pria kelahiran Garut pada 1975 ini biasanya sudah memiliki kata-kata dalam benak sebelum tercermin dalam aksi. Ide-ide tersebut dipicu dari masalah harian yang bertumpuk dan menahun. Biasanya ia menampilkan karyanya pada ruang publik sehingga acap kali dianggap sebag…

Memperbaiki Kualitas Hidup Melalui ... Menikah?

Media sosial adalah media dimana orang bisa pamer apa saja. Baju baru, sepatu baru, makan di tempat yang fancy, mobil, rumah.. dan seterusnya. Media sosial juga bikin saya tahu update-an terbaru dari teman-teman yang tidak kenal dekat, teman-teman yang dulu dekat dan kini tidak, atau teman-teman dekat tapi kami berjauhan karena jarak.

Media sosial juga menjadi media observasi. Mereka yang rajin posting, tentu akan terlihat. Observasi jadi mengasyikkan saat mereka mengalami fase baru dalam hidupnya. Seperti pekerjaan baru, status dari single menjadi married, dan mulanya hanya hidup sendiri kini bisa memproduksi anak dari telur dan mani.. Oke, mari kita fokuskan pada mereka yang telah menikah.

Beberapa teman saya, terutama perempuan, yang telah menikah--selain unggah foto pernikahan--mereka juga memperlihatkan kehidupannya setelah menikah. Ada yang dulu saat di sekolah/kuliah tidak pernah foto di mobil lalu kini bermobil, ada yang dulu hanya jalan keliling Jawa sekarang keliling Eropa, …

Setiap Makan Burger King

Setiap makan Burger King, saya selalu teringat dengan seorang teman. Sebut namanya X. Saat saya pertama kali berdomisili di Jakarta, saya cukup sering bertemu dan bermain dengannya. Ia adalah teman yang sudah saya kenal saat kami masih sama-sama di Bandung. Saat di Bandung, ia sudah sering datang ke rumah dan mengobrol sampai malam. Di sana ia juga banyak bercerita tentang dirinya. "Wah, menarik," pikir saya. Sebagai pencinta orang-orang yang rumit, saya selalu tertarik dengan cerita-cerita yang tidak biasa.

Ia pindah ke Jakarta terlebih dahulu sebelum saya. Dan saat pertama kali saya mulai intens di Jakarta, X berdomisili tidak jauh dari tempat saya tinggal. Saya pun pernah main ke apartment-nya. Lalu kami mulai hang out. Saya teringat, kali pertama saya pergi jalan-jalan dengannya adalah melihat museum ke Kota Tua. Sepulang dari sana, dalam kondisi hujan dan kelaparan, kami memutuskan makan Burger King di dekat Sarinah. Saya sudah lama mendengar tentang Burger King, tapi b…

Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

Konon katanya begitu. Tapi saya dan ibu tampak jauh. Secara karakter, sifat kami sangat berbeda. Layaknya langit, ia begitu terang benderang. Ia begitu santai menjalani keseharian. Ia juga begitu ringan. Ia jarang mengekspresikan emosi sedihnya (berbeda dengan sang anak yang banyak mengeluh terutama saat sedih dan merasa paling menderita sedunia). Ia juga banyak bersyukur ...

Ibu tipe orang yang tidak panik. Ia juga setegar karang meski terkadang orang memperlakukannya tidak baik. Ia juga yang sering berkata, "Sudah, Nia, jangan menangis." Ia juga jarang memikirkan berlama-lama apa yang dikatakan orang--berbeda dengan anaknya yang kadang overthinking. Ia lebih banyak memberi kepada orang lain, sampai-sampai saya merasa ibu lebih sayang orang lain ketimbang anaknya sendiri.

Namun saya justru tidak ingin menjadi buah yang jatuh dekat dengan sang pohon. Saya ingin jatuh, lalu menggelinding menuruni lembah, masuk ke dalam sungai dan membiarkan diri terbawa arusnya, lalu berkelan…

Saya Ingin ...

Sejujurnya saya iri sekali dengan pasangan saya saat ini. Saya iri dengan sifatnya yang santai (terutama dalam hubungan) dan tidak cemas. Saya iri dengan ia yang bisa berhari-hari jauh dari handphone namun tampak tidak mencemaskan bahwa pacarnya akan kesulitan menghubunginya dan bertanya-tanya keberadaannya. Selain itu, saya ingin seperti ia yang tidak bertanya-tanya apakah pacarnya sudah sampai di kota tujuan atau belum (jika ke luar kota). Sangat berbeda dengan saya yang selalu, "Kamu berangkat jam berapa?" atau "Kalau udah sampai hubungin aku ya."

Saya iri dengan kemampuannya untuk menghilang. Saya ingin tidak available selalu. Saya ingin acuh jika ia sulit dihubungi--tidak seperti saya yang selalu sms atau telepon berkali-kali. Saya iri dengan keacuhannya. Saya juga iri dengan ia yang bisa membalas percakapan dengan seadanya tanpa merasa harus berusaha membuat percakapan yang menyenangkan, karena alasannya, "Tidak semua percakapan itu harus menyenangkan. B…