Memperbaiki Kualitas Hidup Melalui ... Menikah?

Media sosial adalah media dimana orang bisa pamer apa saja. Baju baru, sepatu baru, makan di tempat yang fancy, mobil, rumah.. dan seterusnya. Media sosial juga bikin saya tahu update-an terbaru dari teman-teman yang tidak kenal dekat, teman-teman yang dulu dekat dan kini tidak, atau teman-teman dekat tapi kami berjauhan karena jarak.

Media sosial juga menjadi media observasi. Mereka yang rajin posting, tentu akan terlihat. Observasi jadi mengasyikkan saat mereka mengalami fase baru dalam hidupnya. Seperti pekerjaan baru, status dari single menjadi married, dan mulanya hanya hidup sendiri kini bisa memproduksi anak dari telur dan mani.. Oke, mari kita fokuskan pada mereka yang telah menikah.

Beberapa teman saya, terutama perempuan, yang telah menikah--selain unggah foto pernikahan--mereka juga memperlihatkan kehidupannya setelah menikah. Ada yang dulu saat di sekolah/kuliah tidak pernah foto di mobil lalu kini bermobil, ada yang dulu hanya jalan keliling Jawa sekarang keliling Eropa, atau ada yang dulu penampilannya biasa sekarang jadi modis. Saya jadi memikirkan apakah menikah yang memperbaiki kualitas hidup mereka?

Karena begini. Saya teringat dengan kata-kata yang klise dilontarkan bahwa menikah dapat meningkatkan rezeki sejoli tersebut. Logikanya adalah dua gaji menjadi satu. Atau logika buruknya adalah yang tadi tidak bergaji, kini berpenghasilan karena uang bulanan dari pasangan. Mau tidak mau, yang namanya rezeki berupa uang itu betulan ada, 'kan? Lalu akibat tuntutan memiliki keluarga pasca menikah membuat seseorang yang mencari nafkah bekerja lebih keras dibandingkan saat ia masih lajang? Apakah itu yang membuat penghasilannya jadi naik?

Atau jangan-jangan memang sebenarnya mereka sudah berada dari awal, tapi karena dulu tidak ada media sosial, jadinya tidak bisa ditunjukkan?

Ada enggak sih yang setelah menikah malah tambah miskin atau menurun kualitas hidupnya? Atau kemiskinan memang aib untuk tidak dipertontonkan?

Comments

Popular Posts