Menengok Rumah Tuhan Melalui Gereja

Ada yang menarik sehingga saya tidak sabar saat Komunitas Aleut! bilang bahwa agenda jalan-jalan selanjutnya adalah jalur gereja. Gereja, secara personal, telah menarik minat. Mungkin karena saya beragama Islam, saya begitu dekat dengan mesjid (walau hanya didatangi saat ada acara akad nikah, shalat tarawih, dan TPA saat masih kecil). Sementara gereja adalah sesuatu yang terlihat jauh sehingga tidak diketahui cerita bangunannya, tidak pernah masuk ke dalamnya, dan bentuk bangunannya yang dipengaruhi budaya Barat yang begitu asing seperti gereja katedral di Jakarta.

Ketertarikan saya pada bangunan gereja adalah saat mengunjungi gereja katedral Santo Petrus di Jalan Merdeka, Bandung. Lihatlah bangunan dengan menara yang menjulang. Konon bangunan di sekitar gereja ini dibangun agak menjorok ke dalam sehingga orang bisa melihatnya dari kejauhan. Tengok juga sejarahnya bahwa bangunan ini dirancang oleh Wolff Schoemaker, seorang arsitek Belanda yang membangun tiga tempat ibadah yaitu gereja Protestan (Bethel), gereja Katolik (Katedral Santo Petrus), dan Mesjid Cipaganti.

Gereja Katedral Santo Petrus 

Detil lubang berkaca di bagian depan gereja

Juga bangunan gereja yang bergaya neo-Gothic ini memiliki kaca-kaca yang berbentuk bulat di bagian depan. Menurut Ryzki, salah seorang fasilitator, kaca tersebut sebagai penanda interval waktu melalui cahaya matahari yang masuk ke dalam gereja. Jika ingin cerita yang lebih penasaran lagi, di tengah bulatan-bulatan lubang kaca itu terdapat satu bulatan kaca besar yang terdapat gambar satu buah mata. Apakah itu?

Tapi, menurut Ryzki, Wolff Schoemaker bukanlah anggota dari Freemason. Ah, gak seru deh ceritanya. Haha.

Tidak jauh dari sana, terdapat Gereja Bethel yang memiliki pekarangan yang luas dan rindang--bikin sejuk mata memandang. Seperti yang sudah disebutkan di atas, gereja yang dibangun tahun 1923 ini adalah gereja umat Protestan. Bethel artinya 'rumah Tuhan'. Di gereja ini terdapat sebuah menara dengan jam yang menunjukkan IIII sebagai angka romawi dari empat. Mengapa tidak IV? Karena simbol IV melambangkan Dewa Jupiter yang memiliki inisial IVPPITER. Selain itu ada juga karena alasan estetika.

Gereja Bethel

GII Hok Im Tong

Kemudian karena jalan-jalan, saya baru sadar kalau di dekat Balai Kota Bandung terdapat Gereja Kristen Jawa yang tempat berkumpulnya umat kristiani suku Jawa--layaknya HKBP. Gereja yang memiliki pengkhususan etnis atau suku juga terdapat di depan Taman Cikapayang yaitu Gereja Injili Indonesia (GII) Hok Im Tong. Mulanya gereja ini bertempat di Banjaran sekitar tahun 1917, lalu pindah ke Kebon Jati tahun 1925, dan pindah ke tempat sekarang tahun 1953. Gereja ini merupakan gereja protestan yang didirikan oleh warga Tionghoa sendiri. Walaupun demikian, kini gereja ini terbuka untuk umum.

Jika kita jauh berjalan ke arah Rumah Sakit Borromeus, di sana ada sebuah kapel yang indah bernama kapel St. Carolous Borromeus. Carolous Borromeus berjasa dalam mengembangkan seminaries atau pendidikan pastur di Hindia Belanda. Ordo gereja ini adalah salib suci, yang artinya gereja ini diperuntukkan untuk umat Katolik dan gereja ini mengacu ke Katolik Vatikan. Petunjuknya gampang: jika ada kata 'santo', artinya itu gereja Katolik. Protestan tidak mendukung adanya orang suci (santo dianggap orang yang suci), oleh karena itu gereja protestan tidak ada kata 'santo'.

Penjelasan Misa di Kapel St. Borromeus

Dengan segala daya dan upaya, tenda menganggu saja.

Gaya bangunan kapel ini adalah gothic, yang ditandai dengan lengkung jendela bertemu di atas dengan ujung runcing. Pondasi kapel ini pun tinggi, setinggi pintu masuk. Sayangnya kecantikan kapel ini terganggu dengan dipasangnya tenda permanen di luar bangunan. Sehingga untuk foto pun menjadi sulit seperti di atas ini.

Mendengar 'kapel', saya teringat film Kill Bill dimana The Bride menikah di sebuah kapel. Saya bilang ke teman saya bahwa saya ingin menikah di kapel (dengan cara Islam). Haha. Lalu teman saya bilang, "Jika dalam Islam kapel diibaratkan musholla, kenapa kamu enggak menikah di musholla aja?" Duh. Apa bagusnya? Haha.

Setelahnya kami sharing hasil perjalanan di Gedung Indonesia Menggugat. Di sana Ridwan Hutagalung, pembina komunitas ini, bercerita tentang perbedaan Katolik dan Protestan. Ia juga bercerita tentang ribetnya istilah-istilah yang ada di Katolik serta banyaknya perbedaan aliran-aliran di tubuh Katolik. Kemudian saya juga memikirkan agama saya yaitu Islam yang banyak perbedaan sudut pandang akibat perbedaan tafsir kitab suci kami. Lalu saya berpikir bahwa duh ribet sekali ya beragama ini. Apakah kita masih perlu berdosa jika tidak tanpa aturan (agama) namun masih berbuat baik terhadap diri, Tuhan, dan sesama?

Duh, Tuhan, bisakah kami menujuMu tanpa kelumit birokrasi yang berbelit-belit?

No comments: