Menurut Ryan

Reading Lights Writers' Circle mungkin mulai bangun dari mati surinya. Dalam sesi kecil dan dadakan, kami menulis flash fiction dengan tema 'hidup bagaikan film'. Saya membuat cerita tentang seorang tokoh bernama Ryan yang karakternya mirip dengan film dokumenter yang begitu kaku, penuh data-data, dan terkadang menjemukan. Yah, mudah-mudahan berhasil.

------

Aku punya seorang teman. Ryan namanya. Umurnya empat tahun di bawahku, sekitar 23 tahun. Pasca kelulusannya setelah mengenyam lima tahun di jurusan jurnalistik, Ryan tampak semakin menggebu-gebu menjalani keseharian.

Pasca lulus, ia tidak langsung bekerja. Hobinya mengarungi semua komunitas dari komunitas foto, komunitas menyelam, hingga komunitas sejarah. Semua basecamp ia datangi, ia ikuti pula beberapa sesi. Lalu ia kritisi visi, misi, dan kegiatan mereka. Katanya komunitas foto adalah sekumpulan orang-orang pamer kamera ketimbang adu teknik. Sementara komunitas menyelam hanya berisi orang-orang yang ingin pamer foto di bawah laut ketimbang konservasi karang. Lalu yang ini begini, yang itu begitu.. Akhirnya pria bertubuh cungkring ini tidak diharapkan kehadirannya dimana-mana. Kecuali terakhir, orang-orang yang suka sejarah, mungkin mereka lebih bisa untuk tidak mempedulikan kicauan satu pemuda yang belum dalam pengetahuannya.

Pasca lulus, Ryan banyak menghabiskan waktu di kamar kosnya. Selain menganggu orang dengan pertanyaan kritis--menurutnya, atau lebih ke investigatif--menurutku, ia mengurung diri. Ia sering terlihat membawa kertas besar, karton, potongan koran, guntung, dan selotip. Membuat aku--yang biasanya tidak peduli dengan keadaan kosan sepulang kerja--penasaran dengan apa yang ia lakukan.

"Ryan?" Suatu saat kuketuk pintu kamarnya.

"Siapa?" Suara di dalam kamar balik bertanya.

"Adi," jawabku agak heran. Kami sudah berteman lama, kok dia masih lupa saja dengan suaraku?

"Masuk, Kak Adi."

Begitu aku masuk, pemandangan mataku kabur sebentar. Begitu pengelihatan mulai jelas, kulihat kamar Ryan yang monokrom. Bukan saja isi ruangannya, tapi tubuh Ryan dari ujung rambut hingga ujung kaki pun monokrom. Hitam dan putih!

Di belakang Ryan terdapat tembok yang penuh dengan tempelan koran yang penuh coretan, lingkaran, dan garis yang menghubungkan satu dengan yang lain. Potongan foto orang-orang yang tidak kukenal.. aku hanya bisa ternganga lalu bertanya, "Apa ini semua?"

"Oh!" Pemuda tersebut seperti tersentak kaget lalu menjelaskan layaknya seorang presenter kaku. "Kak Adi, yang ada di depan kakak adalah mind map dinamika perkomunitasan di Bandung Raya. Bisa dilihat komunitas sejarah ini memiliki anggota yang sangat banyak karena keakraban para anggotanya. Sehingga berdampak signifikan terhadap ..."

Kata-kata Ryan tidak masuk ke dalam otakku. Dengan lampu gantung di kamar yang bergoyang kanan kiri layaknya ruang interogasi di kepolisian, aku merasa Ryan begitu tua dan kaku, seperti film dokumenter yang menjemukan.

Kulihat pemandangan di balik jendela kamar pemuda ini. Sebuah kebun merah hijau yang terang disiram cahaya lampu taman.

Comments

Popular Posts