Dalam Sesap Teh

Ceritanya belakangan ini saya lagi senang mencoba teh. Biasanya selama ini hanya mengkonsumsi teh dalam kantung yang biasa ada di pasaran. Semenjak ada berita bahwa kantung teh menggunakan pewarna agar terlihat putih dan kita tidak boleh mencelup di dalam air terlalu lama, saya mengurangi konsumsi teh kantung. Lalu saya mencoba teh upet--teh yang biasa dikonsumsi oleh keluarga sejak saya kecil. Sayangnya ini cukup merepotkan karena harus menggunakan saringan. Namun semenjak ketemu tea infuser yang lucu dan mudah dibawa kemana-mana, saya lebih banyak mengkonsumsi daun teh dari teh hijau hingga teh putih.


Dulu saya sering minum teh manis. Setelah makan mi, pasti saya minum teh manis. Karena lama-lama takut diabetes, sekarang saya minum teh tawar. Teh tawar, terutama saat panas, rasanya seperti penetral setelah makan-makanan penuh kolesterol dan terlalu banyak rasa. Dan setelah banyak membaca, manfaat teh ternyata banyak, salah satunya sebagai antioksidan dan pencegah kanker.

Kebiasaan minum teh ini membawa rezeki dari orang-orang baik. Salah satunya dosen saya mengirimkan Twinings. Dan baru beberapa hari yang lalu, editor saya sengaja membawa teh Dilmah saat ia dikarantina di Bandung. Gyaa, pengalaman ngetehnya semakin banyak. Terima kasih!


Pembina Komunitas Aleut!, bang Ridwan, juga jualan teh. Awalnya saya membeli teh priangan kualitas nomer satu. Saya membelinya dan mencobanya karena penasaran seperti apa sih rasanya kualitas teh nomer satu itu. Selain itu, bang Ridwan juga menjual teh putih alias silver needle. Waktu itu editor saya pernah membahas tentang teh putih yang mahal karena teh ini begitu berkualitas. Lagipula teh kok putih, macam apa pulak itu?


Dari penjelasan Bang Ridwan dan Toni--salah seorang teman aleut juga--teh putih ini diambil dari pucuk tanaman teh. Jadi, jangan termakan iklan teh yang berasal dari pucuk namun berwarna kemerahan dan dijual murah ya. Satu tanaman hanya menghasilkan satu buah pucuk. Untuk menjaga kualitas, teh bahkan diambil dengan menggunakan pinset. Dijemurnya pun tidak sembarangan, tidak boleh kena matahari langsung. Kalau warna daun tehnya kuning, maka teh ini sudah langsung dikategorikan rejected. Kezem.

Teh putih yang saya coba berasal dari Gambung, Gunung Tilu. Gambung merupakan salah satu dari tiga perkebunan yang menghasilkan teh putih di Indonesia. Gambung sudah ada sejak pertengahan abad ke-19. Hutan Gambung dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1811. Kini tempat ini dikenal sebagai pusat penelitian teh.

Teh putih Gambung memiliki harum yang khas. Kalau biasa minum teh hitam, teh putih ini akan terasa cawerang--kalau kata orang Sunda. Cawerang itu semacam transparan, tidak kental, tidak padat. Seperti yang bisa dilihat di foto, warnanya pun bening, seperti sampanye. Menurut Toni, teh ini bisa digunakan hingga tiga kali celup. Wah, berbeda dengan informasi yang pernah saya baca kalau teh itu hanya bisa untuk sekali celup.

Toni dan Bang Ridwan bercerita tentang perburuannya untuk mendapatkan teh-teh kualitas terbaik. Untuk mendapatkan teh kualitas terbaik, mereka harus turun ke lapangan, mendatangi para petani atau seseorang yang memiliki kuasa untuk jual beli teh. Ternyata mayoritas teh kualitas terbaik di Indonesia banyak diekspor ke luar negeri. Sedangkan teh-teh yang ada di pasaran adalah teh-teh dengan grade ke-5. Entah komponen tanaman teh apa saja yang dimasukkan. Saya banyak menemukan ranting di dalamnya.

Hal ini mengingatkan ketika saya liputan tentang pembuatan coklat. Saya mewawancara pengusaha muda yang mengolah coklat Indonesia dari dalam bentuk buah coklat hingga jadi coklat batangan. Ia bercerita bahwa harus turun ke Aceh dan Bali langsung untuk mendatangi petani coklat. Ia kesulitan mendapat bahan baku coklat terbaik karena coklat-coklat tersebut diekspor ke luar negeri. Pesanannya sering kali dinomerduakan karena ia hanya memesan dalam jumlah sedikit.

Padahal coklat, sama dengan teh, itu sama-sama baik untuk tubuh. Di luar negeri, makan dark chocolate di pagi hari sudah jadi budaya. Sementara di Indonesia coklat baru dikonsumsi di saat-saat sedih atau momen spesial tertentu. Padahal coklat memiliki khasiat sebagai penurun tekanan darah.

Selain teh dan coklat, pasti banyak hal bagus lain yang berasal di Indonesia namun manfaatnya tidak didapat oleh bangsa itu sendiri. Kita hanya menjadi pekerja kasarnya, diproses dan dibawa ke luar, namun tidak bisa menikmati jerih payahnya karena harganya sudah melambung begitu balik lagi ke Indonesia.

Duh, petani.. riwayatmu dulu dan kini.

Comments

Nia, minta izin tulisan ini buat saya post ulang di mooithee.wordpress.com ya..?
Nuhun.
Nia Janiar said…
Abangg, baru ngecek blog lagi, jadi baru tahu ada komentar. Silakan, Bangg..

Popular Posts