Sisa Kejayaan Banten Lama

Dalam rangka weekend getaway, Eka, Yasin, dan saya memutuskan untuk pergi ke Banten Lama. Ide pergi ke sini datang dari saya setelah melihat foto teman yang berkunjung ke sana. Pertama, saya suka hal-hal yang berbau sejarah. Kedua, saya suka benteng. Ketiga, saya mulai menyasar kota-kota kecil untuk disambangi. Namun, sehari sebelum keberangkatan, saya menerima tanggapan tidak mengenakkan tentang Banten yang membuat saya niat untuk mengurungkan. Tapi ya ini trip bersama khalayak, tidak bisa egois. Dan seeing is believing.

Berangkat dari Kebon Jeruk, kami melalui Tol Tangerang, Tangerang-Merak, lalu exit di Tol Serang Timur. Mulanya petunjuk menuju Banten Lama terlihat jelas, namun petunjuknya menghilang di satu pertigaan. Setelah salah belok sedikit dan bertanya kepada warga sekitar, akhirnya kami sudah kembali ke jalan yang benar. Puji Tuhan. Alhamdulillah.

Kesan pertama melihat jalanan di Banten ini begitu mengecewakan. Bagaimana tidak, banyak sekali sampah yang bertebaran di jalanan. Bukan sampah sembarang sampah yang dibuang di jalan, tapi sampah yang tidak diangkut dari tong sampah dan meluber ke jalan. Apalagi saat itu Banten habis diguyur hujan sehingga kesan menjijikan semakin menjadi-jadi. Rujit, kalau kata orang Sunda. Rujit itu artinya standar tertinggi dari jijik karena kotor.

Akhirnya kami melihat gapura selamat datang di kawasan Banten Lam (karena A-nya sudah copot). Dari gapura tersebut, lokasi kawasan wisata tua yang dituju masih jauh. Hingga akhirnya kami melihat sebuah lapangan rumput nan luas dengan reruntuhan bebatuan dan sebuah menara mesjid yang menjulang. Oh, rupanya kami sudah berada dekat dengan Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Saat akan memasuki area masjid, kami masuk melalui entrance gate berupa pasar yang menjajakan makanan khas dan cindermata. Sayangnya jalan di pasar ini begitu tidak tertata. Selain bukan berupa paving block, jalan ini pun becek dan kotor sehingga disarankan untuk mengenakan sepatu bagi siapapun yang akan berwisata ke sini. Atau datanglah di saat musim kemarau.

Pintu masuk ke masjid yang becek.
Setelah melalui pasar yang berliku (padahal dekat jika jalannya lurus), kami melihat masjid yang dibangun tahun 1552 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin--raja pertama yang memerintah kesultanan Banten. Masjid ini terdiri dari bangunan utama, tiamah, dan pemakaman. Tiamah adalah tempat bermusyawarah dan diskusi agama Islam. Diduga tempat ini juga dipakai sebagai pesantren.

Di sekitar masjid, kami dikelilingi oleh anak-anak yang meminta uang dengan memaksa. Walaupun sudah berkata tegas, mereka akan tetap menempel. Tipsnya, bawalah uang receh untuk sumbangan. Selain itu, untuk bisa masuk ke area masjid, kamu juga sedikit dipaksa untuk menyumbang dan membeli kantung plastik untuk menyimpan sepatu. Berikanlah sumbangan seikhlasnya dan kantung plastik adalah hal yang tidak perlu--kecuali akan masuk ke dalam bangunan atau area pemakaman. Jika hanya melihat-lihat, sendal/sepatu masih boleh digunakan kok.

Masjid yang penuh dengan pedagang.

Selain pedagang, banyak juga anak-anak.
Di depan masjid, terdapat sebuah menara Belanda yang tampak seperti mercusuar. Menara ini tidak berfungsi sebagai tempat pengeras adzan, namun sebagai menara pengintai. Menara yang tingginya 24 meter ini dibangun oleh Hendrik Lucaszoon Hardeel. Menara ini berbentuk persegi delapan dengan tangga spiral yang begitu sempit di dalamnya. Cukup sempit untuk membuat mereka yang memiliki fobia tempat sempit dan gelap terkena serangan panik! Tentu hanya bisa dilalui oleh satu orang. Agar orang tidak papasan di tengah, ada penjaga di bagian atas dan bawah menara yang saling berkomunikasi melalui lubang udara.

Menara yang hanya cukup satu orang saja.

Menara dari kejauhan.
Saat berada di atas menara, Eka menempel di dinding menara karena ia punya ketakutan pada ketinggian. Sementara saya dan Yasin melihat-lihat pemandangan dari atas sini. Ternyata masjid ini begitu dekat dengan laut. Dari sini juga terlihat Klenteng Avalokitesvara yang akan kami sambangi nanti.

Setelah dari masjid, kami berjalan kaki menuju reruntuhan Kraton Surosowan (juga disebut Gedong Kedaton Pakuwon) yang merupakan tempat tinggal para sultan. Kraton ini dibangun tahun 1526 dan tersusun dari batu bata dan karang. Sayangnya kraton ini mengalami kehancuran akibat perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC. Kemudian kraton yang memiliki luas 3.8 hektar ini dihancurkan atas perintah Daendels tahun 1802.

Kraton Surosowan yang hampir rata dengan tanah.
Ada salah satu informasi di intenet bahwa tidak semua orang boleh masuk dan harus mendapatkan perizinan dari museum. Ternyata prosesnya mudah, hanya bilang saja kita akan pergi ke sini. Satpam museum akan membukakan pintu gerbang. Sayangnya di sini tidak ada pemandu sehingga tidak ada yang menjelaskan apakah ini kamar, dapur, tempat senjata, atau teras. Kami pun berjalan sekenanya dan menduga-duga apa yang ada di sini.

Kami melanjutkan perjalanan ke Vihara/Klenteng Avalokitesvara. Vihara ini begitu besar dan berwarna (tentu saja). Ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia karena dibangun sekitar abad ke-16. Di dalam vihara ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang merupakan peninggalan pada masa Kaisar China Dynasti Ming. Hingga kami datang, beberapa orang masih datang untuk beribadah, sebagaimana fungsinya.



Tepat di depan vihara, terdapat Benteng Speelwijk. Ingat tentang teman saya yang bilang sesuatu yang membuat saya hampir urung ke sini? Teman saya bilang bahwa di sini tidak lebih dari tempat makan domba. Saya pikir dia sedang sarkas saja. Ternyata benar, saya melihat dua ekor domba yang mencari makan di atas timbunan sampah tepat di dekat pintu masuk benteng. :(

Begitu masuk ke benteng, kami melihat sebuah area lapangan rumput yang luas. Tidak lupa ada gawang untuk sepak bola yang tentunya tidak dibangun sejak zaman kesultanan ya. Benteng ini dikunjungi oleh siswa setempat yang hang out atau sekedar berfoto-foto.



Speelwijk dibangun tahun 1683 dengan arsitek yang sama dengan pembuatan menara masjid yaitu Hendrik Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk diberikan sebagai penghormatan gubernur jendral Cornellis Janzoon Speelman  yang pernah bertugas di Indonesia. Benteng ini pernah dilengkapi empat bastion, jendela meriam, ruang jaga, basement, untuk ruang gudang, ruang penyimpanan senjata, dan tambatan perahu. Sama seperti benteng yang pernah saya dan Eka lihat di Cilacap, benteng ini dikelilingi kanal untuk memperlambat laju musuh.

Setelah puas melihat benteng ini, kami melewati Masjid Pacinan Tinggi yang  unik. Sayangnya hanya tersisa sebuah menara berbentuk bujur sangkar setinggi sekitar 9 meter saja. Diperkirakan usianya lebih tua dari masjid agung. Lagi-lagi, sayang seribu sayang, walaupun keterangan nama masjid di depannya, bangunan ini terbengkalai begitu saja. Belum lagi tanah becek di sekitarnya dengan anak domba yang sibuk mencari makan di depannya. Huhu.

Masjid Pacinan Tinggi yang mengenaskan.

Kraton Kaibon

Kraton ini setidakya jadi arena main anak-anak.

Akhirnya kami sampai di tujuan terakhir yaitu Kraton Kaibon. Kaibon berasal dari kata ka-ibu-an, yang berarti keraton tempat tinggal ibunda sultan. Saat itu,  kraton merupakan tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syafiuddin, salah seorang raja yang memerintah Kesultanan Banten tahun 1809. Namun tahun 1932, atas perintah Belanda, keraton dibongkar dan bahan-bahan bangunannya diambil oleh Belanda dan dibawa ke Serang untuk digunakan sebagai kantor pemerintahan dan rumah-rumah pejabat. Semacam ogah rugi, iyes?

Dibandingkan tempat lainnya, kraton ini yang paling mending karena ada paving block sehingga pengunjung bisa berjalan dengan nyaman. Selain itu tidak terlalu runtuh seperti bangunan lainnya sehingga masih terbayang bentuknya.

Rasanya saya terlalu sombong jika banyak mengeluh dalam tulisan tentang Banten Lama karena Banten adalah bagian dari tanah air dan saya bukanlah seorang turis. Sedari awal, teman saya sudah mengingatkan untuk tidak berharap lebih karena pariwisata di sini tidak begitu terurus. Namun sangat disayangkan karena Banten memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari penyebaran agama Islam dan kerajaan Sunda. Semoga Banten memiliki bupati yang bisa melihat nilai wisata dan sayang dengan kotanya.

Saat perjalanan pulang, saya berkata pada teman-teman saya, "Kalau para sultan bangkit dari kubur dan melihat Banten sekarang, mungkin mereka akan nangis. Mungkin Banten di zaman mereka itu jauh lebih baik ketimbang sekarang."

Comments

Popular Posts