Skip to main content

Apa Kabar Jika Matahari Tidak Ada?

Pernah membayangkan ditinggalkan orang tersayang selamanya? Saya sering. Kadang saya membayangkan bagaimana jika ibu saya--orang tua yang saya miliki satu-satunya itu tiada. Kepada siapa lagi saya akan berpijak? Kepada lagi saya harus menggantungkan diri (terutama secara emosional)? Kepada siapa lagi saya merasakan cinta tanpa syarat tentang seorang ibu yang menerima anak apa adanya, walaupun betapa buruk rupa dan sifatnya? Karena setiap Semesta hanya punya satu Matahari. Apa jadinya jika sumber energi itu tidak ada?

Hanya membayangkannya saja sudah buat menangis. Seperti saat ini, saya menghadapi ketidakmampuan diri serta merasa kasihan dengan nasib sendiri. Ibu saya akan umroh (mudah-mudahan jadi dan lancar semuanya) dan ia harus mengurus paspor. Saya sudah mempersiapkan dokumen saat saya pulang ke rumah di akhir pekan dan mengurus secara online. Tapi saya tidak menemani ibu saya untuk pergi ke kantor imigrasi karena saya di Jakarta. Padahal ibu saya boro-boro tahu dimana kantor imigrasinya, bagaimana tata caranya, harus pakai baju apa ...

Syukurlah ia diantar kakak sepupu saya dan anaknya. Jadi ibu saya tidak sendirian. Betapa berterimakasihnya saya.

Kami tinggal di rumah sepupu. Jadi, kalau ibu saya tidak ada, saya tidak punya alasan pulang ke Bandung. Sementara kini saya bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Jika ibu tidak ada, berarti saya yang harus menghidupi diri saya sendiri. Saya tidak bisa menggantungkan nasib pada orang lain. Kalau saya tidak menikah, mungkin saya akan bekerja di sini selamanya, ngekos atau kontrak rumah hingga tua di ibukota yang asing dan hingar bingar, serta terus merindukan tentang pulang..

Beruntung mereka yang punya kakak atau adik. Jika orang tua tidak ada, mungkin mereka bisa saling mengandalkan. Jika dilahirkan sebagai anak tunggal, mungkin memang harus sendiri. Kalau saya bisa melakukan perjalanan waktu, melihat diri saya ketika kecil--atau saya yang sudah tua melihat diri saya sekarang, ingin rasanya untuk memeluk 'diri' sambil berkata, "Tenang, Nia, semuanya baik-baik saja.."

Ah, sebaiknya tidur. Sudah malam. Tidurlah.. Agar masalahmu terasa hanya seperti mimpi buruk. Pagi akan membuatmu merasa lebih baik.

Comments

Ranger Kimi said…
Semoga umroh Ibunda nanti berjalan lancar ya, Mbak. Amin.
Nia Janiar said…
Terima kasih yaa :)
Jimmy Kokong said…
Saya dari kecil sudah di tinggal ibu. dan tinggal dengan kakek, karena papah kerja di luar negeri.

tapi, seiring waktu berlalu tanpa kita sadari semua hal yang hilang bukan tanpa arti, kadang kita menjadi lebih dewasa, dan membuat kita tegar.

tapi ya itu, banyak ga enaknya.
suatu saat nanti kita memang akan sendiri, berdiri di kaki sendiri.

(comment malah curhat..hahahhaa)

nyeunah, kumaha ie working in jakarta?
Nia Janiar said…
Wahh.. Jimmy luvhara ya? Udah lama, apa kabar? :)

Sementara ini sih so far so good, tapi masih nyari kesempatan kerja di Bandung nih..
Jimmy Kokong said…
Biasa makin gendut..

ooohh.. rejeki dimana aja sih, mau jakarta atau bandung, tapi gue yakin homesick lu ya ?

hahahahaha...
Nia Janiar said…
Eh di Jakarta juga ya? Di Jakarta mana?
Glek banget pas baca bagian "Beruntung mereka yang punya kakak atau adik. Jika orang tua tidak ada, mungkin mereka bisa saling mengandalkan"
Mulai berpikir ulang untuk rencana punya anak cukup 1, supaya perhatiannya ga kebagi.
Makasih untuk pencerahannya NJ :*
Nia Janiar said…
Alaaaaa.. :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…