Skip to main content

Sepiring Berdua

Di suatu hari yang cerah, ruangan kami kedatangan tamu. Sebetulnya bukan tamu, ia masih seorang pegawai di kantor ini. Tapi ia terlalu asing bagi saya untuk dipanggil 'teman'. Jadi, sebut saja tamu ini bernama Adam. Walaupun ia berasal dari anak perusahaan yang berbeda, ia sering datang ke ruangan untuk menyapa dengan beberapa orang yang sudah cukup kenal dengannya.

Pada hari itu, ia datang ke ruangan. Walaupun saya sedang fokus ke laptop, saya masih bisa mengetahui bahwa ia sedang jalan-jalan tidak jelas di ruangan karena tidak ada orang yang bisa diajak bercanda. Semua tampak sedang fokus dengan kerjaannya masing-masing. Kemudian ia mampir ke meja yang berada di tengah ruangan, mengambil makanan. Kami memang sering berbagi makanan dan ditaruh di atas meja dan siapa saja boleh mengambilnya. Makanan yang ada di atas meja kali ini adalah beberapa bungkus kue kering yang belum dibuka. Lalu, si Adam tampak menghentikan langkahnya di meja tengah dan menyomot kue yang sudah dibuka. Setelah selesai, ia keluar ruangan, melintasi meja saya yang berhadapan dengan kaca, dan saya melihatnya menenteng sebungkus makanan kami.

Satu bungkus makanan? Wow.

Dulu salah satu teman kami pernah bercanda saat ia datang dan di meja sedang tidak ada apa-apa. Teman saya bilang, "Lagi gak ada makanan, Dam!" walaupun belum tentu orang ini datang untuk minta makan dan ia pun belum ngomong apa-apa. Tapi jelas candaan teman saya ini berupa sindiran. Oh, mungkin ia memang sudah dikenal seperti itu. Tapi saya tidak rela saat ia membawa pulang satu bungkus, bukan beberapa butir. Dia mungkin kenal dengan yang lain, tapi tidak seakrab itu. Kami pun tidak intens berhubungan dengannya. Apalagi ia kadang bertindak pura-pura tidak kenal jika berada di luar ruangan.

Sebut saya pelit. Tapi saya berbagi dengan orang yang saya kenal. Saya pikir, untuk berbagi makanan diperlukan derajat keintiman lebih dari sekedar teman. Teman dekat, misalnya. Saya tidak akan minta makanan pada orang yang tidak saya kenal. Saya baru bisa bilang 'eh, nyobain dong makanannya' ke orang yang saya rasa dekat. Walaupun sudah dekat, saya tidak akan meminta terus menerus sampai menghabiskan setengah porsi makanannya--kecuali saya sudah memberi jeda lalu teman bilang "ambil aja lagi."

Berbagi makanan sebagai simbol keintiman juga ditujukan oleh Ida Laila yang menyanyikan lagu Sepiring Berdua. Bahkan diperlukan hubungan romantis untuk bisa begini.


"Ku ingat dirimu. Di saat bersama hidup sengsara. Makan sepiring kita berdua."

Ya sudahlah. Saya hanya menyesali mengapa ia mengendap-endap layaknya pencuri. Jika saja ia meminta izin. Ternyata, terlalu geragas dengan makanan juga tidak baik. Punyalah etika.

Comments

Ranger Kimi said…
Blah. Gak sopan banget orang yang begitu. Saya juga gak sama orang yang tau2 nyomot makanan saya tanpa ada permisi. Pengen tak keplak rasanya.
Nia Janiar said…
Iyaa.. :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…