Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2014

Memaknai Keseharian

Apapun yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, atau disentuh dengan kulit, mungkin akan tidak ada artinya jika manusia tidak memusatkan perhatiannya terhadap fenomena-fenomena di luar dirinya itu. Rutinitas juga menumpulkan seseorang dalam mencandra, melihat apa yang terjadi atau apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Terlalu lebur sehingga tidak bisa mengenal, mengurai, memahami, dan memetakan kejadian-kejadian.

Manifesto merupakan Pameran Besar Seni Rupa Indonesia yang diadakan dua tahun sekali. Kali ini tema yang diusung adalah Keseharian. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta ini berlangsung hingga 7 Juni 2014 dan diikuti ± 79 karya yang terdiri dari karya 5 perupa sebagai commission artists. Banyak seniman muda yang berkontribusi dalam pameran ini.

Saya senang datang ke pameran ini karena banyak seniman yang menggunakan media yang tidak biasa. Lihatlah Between Existence and Non-Existence karya Teguh Agus Priyanto yang terbuat dari kumpulan kancing yang…

Sepasang Sepatu (Bukan Lagu Tulus)

Salah satu teman saya di kantor punya ketertarikan khusus terhadap salah satu barang fashion, yaitu sepatu. Beberapa bulan yang lalu ia membeli sepatu Dr. Martens di Singapura kisaran Rp1,7 juta. Saya hanya berdecak dan berkomentar buat apa beli sepatu mahal karena hanya akan dipakai di kaki dan diinjak-injak. Teman saya menjawab, "Nah itu bedanya gue sama elu." Ia memang mengkoleksi beragam sepatu dan tampaknya ia sangat menyukai alas kaki ini--sebagaimana orang lain suka jam tangan atau kacamata.

Jauh sebelum kejadian di atas, teman saya yang lain bilang bahwa ia menilai orang dari sepatunya. Ia akan mempertimbangkan selera fashion seseorang dari sepatunya. Sepatu tidak lagi hanya sandang yang dipakai untuk melindungi kaki. Jauh dari itu, sepatu bukan hanya penunjang berbusana, tapi ia bisa menjadi hal yang paling penting dari diri, walaupun letaknya di bawah. Sepatu menjadi identitas.

Sepatu saya sama seperti sepatu-sepatu orang biasa. Maksudnya, saya tidak punya minat ya…

Dunia Baru

Kulihat dunia yang familiar, tapi ini berbeda. Ia bersinar, penuh gemintang. Berpendar menarik mata untuk terus menerus melihat tanpa jemu. Oh, dunia yang sungguh menggoda, aku ingin memasukinya.

Dunia ini baru, ia muncul entah dari mana. Ia membuka lapisnya satu persatu dengan malu-malu, meminta untuk disingkap. Dunia ini mendapatkan apa yang aku mau: rasa penasaran. Ketertarikan demi ketertarikan terus bermunculan. Dunia yang kukenal, tapi ini lebih dari yang kuharapkan. Aku berdecak setiap melihat indahnya. Ingin kukecup dan kuhisap sari-sarinya. Aku ingin memilikinya.

Ia hampir mirip dengan dunia yang aku punya dulu. Sayangnya, dunia dulu kini berdebu. Aku terlalu malas membersihkan. Kotak hitam transparan yang kini pudar pesonanya. Tapi dunia baru ini berbeda. Ia biru bergradasi dengan manik-manik bintang yang kadang terang kadang gelap. Ia berwarna.

Bolehkah aku tinggal untuk mengetahui esensi dunia baru ini barang sebentar?

Taman Bungkul dan Keteraturan Lainnya

Akhir bulan April kemarin, saya pergi ke Pasuruan dalam rangka wawancara seorang petani mangrove yang mendapatkan penghargaan Kalpataru tahun 2005 sambil belanja informasi wisata selama sehari. Redaktur saya, Mbak Dian, menyarankan agar saya menginap di Surabaya dan menghabiskan waktu di sana untuk jalan-jalan. Waahh.. terakhir saya ke Surabaya itu ketika saya masih SMA--itu juga karena ongkos pulang pergi naik kereta ditraktir oleh kakak sepupu saya. Mahal!

Berhubung kalau tugas kantor pasti dibayarkan baik transportasi dan akomodasi, saya senang sekali punya kesempatan itu. Seperti biasa, saya mendaftar tempat-tempat yang layak dikunjungi. Di Surabaya, saya kenalan dengan seorang wartawan foto. Ia bilang ia akan mengantarkan saya seharian (tapi nyatanya tidak). Akhirnya saya pergi ke tempat-tempat yang saya rencanakan sendirian menggunakan angkot yang baru saya browsing informasinya saat itu. Betapa mudahnya hidup kita karena internet. Terima kasih!

Sebelum check out dari Surabaya P…

3 Days 3 Cities: Yogyakarta

Seperti Bandung, Yogyakarta itu semacam kota yang mainstream banget untuk dikunjungi. Saat sekolah, kota ini semacam destinasi wajib sebagai tujuan study tour. Tapi study tour sekolah saya tidak pergi ke Candi Prambanan dan saya penasaran setelah membaca novel Ayu Utami berjudul Maya yang membahas tentang Roro Jonggrang. Maka pergilah saya dan Eka ke sana.

Dari kejauhan, Prambanan adalah candi yang cantik. Bentuknya ramping dan tinggi. Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9. Candi ini ditujukan untuk Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di tengah teriknya Yogyakarta, saya dan Eka berkeliling kompleks candi untuk mencari patung Roro Jonggrang. Beberapa jam setelahnya, saat mau pulang, kami baru sadar kalau Roro Jonggrang itu kan nama keseluruhan candinya, bukan berbentuk patung. Duuh.



Candi yang termasuk situs warisan dunia UNESCO juga memiliki sebuah cerita legenda tentang Pangeran Bandung Bondowoso yang jatuh cinta dengan putri kerajaan…

3 Days 3 Cities: Solo

Judul trip kali ini adalah merepotkan orang lain. Perjalanan ke Solo betul-betul go show. Saya dan Eka betul-betul tidak browsing angkutan di dalam kota, selain mencari rental motor. Tentu karena mendadak dan saat libur panjang, rental motor pun penuh. Kemudian saya menghubungi teman lama saya di sana, Hilman namanya. Barangkali ia punya teman yang motornya nganggur dan bisa disewakan. Ternyata ada! Bahkan perjalanan kemarin ditemani seharian oleh Hilman dan temannya, Bowo.

Sambil menunggu Hilman dan Bowo siap-siap, saya dan Eka pergi ke keraton naik becak dari terminal bus. Keraton Surakarta Hadiningrat ini begitu khas dengan warna bangunan yang biru putih. Rupanya keraton yang didirikan tahun 1743 hingga 1745 ini tidak hanya terdiri dari satu bangunan saja, tetapi menyebar dan dibagi menjadi komplek-komplek.

Kami berjalan melalui alun-alun utara yang panas. Di sana terdapat dua buah pohon beringin yang dikeramatkan. Kemudian kami melihat sebuah pendopo yang bernama Sasana Sumewa. Du…

3 Days 3 Cities: Semarang

Setelah beragam kesibukan (idiw), akhirnya saya memiliki waktu untuk menulis catatan perjalanan saya terakhir ke Semarang, Solo, dan Jogjakarta saat akhir pekan panjang di awal April lalu. Ini kali pertama saya dan Eka traveling dari kota masing-masing. Artinya kami berada di perjalanan ke luar kota di malam hari sendirian. Agak seram juga.

Saya naik bus Sido Rukun seharga Rp110.000 dari Terminal Grogol di Jumat sore. Agennya bilang kalau bus akan berangkat sekitar pukul setengah empat. Oleh karena itu saya datang pukul setengah dua karena belum pesan dan takut kehabisan. Sambil menunggu, saya juga sempat pergi ke Mal Citraland untuk beli celana jeans yang sudah robek. Duh.

Ternyata bus baru datang menjelang sekitar pukul setengah enam. Padahal bus-bus yang lebih tampaknya lebih bagus seperti Bejeu, Pahala Kencana, Selamet, atau Shantika, sudah pada berdatangan. Saya semakin cemas saja. Semangat traveling pun agak melempem. Mengingat harga tiketnya yang paling murah, saya membayangkan…