Skip to main content

3 Days 3 Cities: Semarang

Setelah beragam kesibukan (idiw), akhirnya saya memiliki waktu untuk menulis catatan perjalanan saya terakhir ke Semarang, Solo, dan Jogjakarta saat akhir pekan panjang di awal April lalu. Ini kali pertama saya dan Eka traveling dari kota masing-masing. Artinya kami berada di perjalanan ke luar kota di malam hari sendirian. Agak seram juga.

Saya naik bus Sido Rukun seharga Rp110.000 dari Terminal Grogol di Jumat sore. Agennya bilang kalau bus akan berangkat sekitar pukul setengah empat. Oleh karena itu saya datang pukul setengah dua karena belum pesan dan takut kehabisan. Sambil menunggu, saya juga sempat pergi ke Mal Citraland untuk beli celana jeans yang sudah robek. Duh.

Ternyata bus baru datang menjelang sekitar pukul setengah enam. Padahal bus-bus yang lebih tampaknya lebih bagus seperti Bejeu, Pahala Kencana, Selamet, atau Shantika, sudah pada berdatangan. Saya semakin cemas saja. Semangat traveling pun agak melempem. Mengingat harga tiketnya yang paling murah, saya membayangkan bus seperti apa yang akan saya tumpangi. Apakah bus omprengan yang penuh dengan preman? Apakah karena harga yang murah, bus akan datang sesuka hati? Lebih parah lagi--apakah bus tersebut betul-betul ada?

Akhirnya bus tersebut datang dan membuat saya lega karena bus tersebut bukan bus khayangan. Busnya tidak lebih baik dari bus reguler Jakarta - Bandung seperti Arimbi atau Primajasa. Setelah datang, bus pun tidak langsung berangkat. Ia semacam menunggu 'surat jalan' selama setengah jam. Kalau begini, kapan saya sampainya di Semarang? Hal ini diperparah dengan tol dalam kota yang macet sehingga kami menghabiskan hampir dua jam di Jakarta. Daftar rencana jalan-jalan Semarang dari pagi hari pun terancam bubar.

Setelah melewati beberapa fase tidur, melihat supir yang sudah kali ganti shift dan merokok di dalam bus, istirahat di restoran biasa namun harganya selangit, akhirnya saya sampai di Semarang sekitar pukul 11.00--totalnya enam belas perjalanan akibat Pantura yang macet karena sedang diperbaiki dan macet di daerah Pekalongan. Di Krapyak, yang ternyata hanya beberapa meter dari Jalan Siliwangi, Semarang, saya dijemput oleh sepupunya Eka bernama Windy. Kami langsung pergi ke rumah tantenya Eka karena Eka sudah sampai di Semarang dari tadi pagi. Bahkan Eka sudah sempat makan dan tidur.

Saya dijamu makan siang dan dipersilakan untuk mandi. Namun karena sudah kepalang kotor (ternyata Semarang panas) serta waktu yang kian menipis, kami memutuskan untuk pergi diantar dua saudara Eka, Windy dan Via. Beruntung Windy cukup terencana dan tahu betul Semarang, ia pun membantu kami menentukan destinasi untuk menghemat waktu. Akhirnya kami memutuskan daerah kota tua (dikenal sebagai Little Netherlands) dan pergi ke Gereja Blendug. Ini merupakan gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun tahun 1753. Blendug merupakan sebutan dari atapnya yang berbentuk seperti kubah.




Tidak jauh dari gereja, terdapat sebuah perusahaan rokok lokal bernama Praoe Lajar. Begitu lewat gedungnya, aroma tembakau yang khas begitu terasa. Ini merupakan perusahaan rokok pertama di Semarang. Sampai kini masih beroperasi dan menurut Windy rokoknya dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah.

Setelah dari kota tua, kami pergi ke Kelenteng Sam Poo Kong. Kelenteng ini adalah alasan utama saya pergi ke Semarang. Dari kejauhan tulisan Sam Poo Kong begitu jelas terlihat. Untuk masuk, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp3.000. Dan saya melihat sebuah kelenteng merah yang besar dan luas. Terbesar dan terluas seumur hidup saya. Lihatlah warnanya yang begitu menari, ornamennya yang begitu cantik, ukiran pilarnya.. saya jatuh cinta!




Selain aula utama, di sana ada tiga tempat untuk beribadah. Untuk bisa masuk ke area tersebut, kami harus membayar Rp20.000 per orang. Wah, mahal ya. Saya dan Eka masuk ke Goa Sam Poo Kong. Goa yang dimaksud adalah sebuah ruangan yang remang-remang dan sunyi--begitu khidmat. Goa tersebut dihiasi dengan relief batu yang diukir oleh cerita. Bagus!

Setelah dari Sam Poo Kong, kami menuju Lawang Sewu. Ternyata Lawang Sewu merupakan bekas kantor kereta api. Dari luar, bangunan ini juga begitu cantik dan terawat. Setiap orang harus membayar Rp10.000 dan pemandu Rp30.000. Pemandu di sini menggunakan kostum layaknya orang Belanda zaman dulu. Ia menjelaskan secara sistematis.


Pertama, kami diantarkan ke sebuah sumur sedalam 1.000 meter. Sumur ini merupakan sumber air yang dialirkan ke kamar mandi. Menurut sang pemandu, wastafel di kamar mandinya juga masih asli. Lalu kami diantar melihat ruangan-ruangan yang memiliki banyak pintu penghubung. Karena sejajar, pintu tersebut terlihat seperti kereta api. Tak lupa, kami diantarkan untuk melihat loteng yang penuh kelelawar. Salah satu tempat pamungkas dari Lawang Sewu adalah mengunjungi ruang bawah tanah. Untuk bisa masuk, penungjung harus menyewa boot dan senter, karena tempatnya terendam oleh air.

Sama seperti Malang, Semarang memiliki toko Oen. Sebetulnya toko Oen pertama dibuka tahun 1910 di Yogyakarta. Semarang merupakan kota terakhir yang menjadi cabang Oen yaitu tahun 1936. Melihat Oen dengan gaya Dutch Colonial mengingatkan saya pada Sumber Hidangan dan Braga Permai di Bandung. Saya membeli es krim dan kue telur yang konon kue khas dari toko ini (setelah tanya ke pramusaji). Cenderung tidak ada rasa dan tampaknya ini adalah makanan pendamping untuk sarapan.



Saya senang sekali bisa ke Semarang. Semarang kaya akan nilai sejarah. Bagaimana tidak, kendali kota ini pernah diberikan kepada VOC tahun 1678 oleh Sunan Amangkurat II sebagai pembayaran hutang. Dan ibukota Jawa Tengah ini secara resmi menjadi kota milik VOC ketika Susuhunan Pakubuwono I membuat kesepakatan untuk memberikan hak-hak perdagangan yang luas sehingga utang Mataram bisa dihapus. Semarang pun menjadi pusat perdagangan yang penting. Maka tidak aneh jika banyak peninggalan bangunan sejarah di sini.

Perjalanan saya dan Eka belum berhenti, kami pergi ke destinasi selanjutnya. Sebuah kota asal Joko Widodo yang kini sedang melambung namanya, yaitu Solo.

Comments

Ranger Kimi said…
Saya belum pernah ke Semarang. Jadi semakin ingin ke sana deh. Mudah-mudahan nanti kalau ada rejeki, saya pasti akan ke sana. ;)
Nia Janiar said…
Iya, salah satu kota besar yang wajib dikunjungi. ^^

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…