3 Days 3 Cities: Solo

Judul trip kali ini adalah merepotkan orang lain. Perjalanan ke Solo betul-betul go show. Saya dan Eka betul-betul tidak browsing angkutan di dalam kota, selain mencari rental motor. Tentu karena mendadak dan saat libur panjang, rental motor pun penuh. Kemudian saya menghubungi teman lama saya di sana, Hilman namanya. Barangkali ia punya teman yang motornya nganggur dan bisa disewakan. Ternyata ada! Bahkan perjalanan kemarin ditemani seharian oleh Hilman dan temannya, Bowo.

Sambil menunggu Hilman dan Bowo siap-siap, saya dan Eka pergi ke keraton naik becak dari terminal bus. Keraton Surakarta Hadiningrat ini begitu khas dengan warna bangunan yang biru putih. Rupanya keraton yang didirikan tahun 1743 hingga 1745 ini tidak hanya terdiri dari satu bangunan saja, tetapi menyebar dan dibagi menjadi komplek-komplek.

Kami berjalan melalui alun-alun utara yang panas. Di sana terdapat dua buah pohon beringin yang dikeramatkan. Kemudian kami melihat sebuah pendopo yang bernama Sasana Sumewa. Dulu tempat ini berfungsi sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Lalu di belakang bangunan terdapat Sitihinggil Lor/Utara yang digunakan para pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan. Bangunan ini lebih tinggi daripada bangunan sebelumnya.

Kami berjalan terus ke gerbang belakang dan menemukan jalan kecil untuk mobil. Di sana juga terdapat bangunan bernama Kemandungan Lor/Utara. Bangunan ini begitu cantik, didominasi dengan dinding dan lantai berwarna biru. Pintu tengah bangunan dijaga oleh dua orang penjaga dengan kostum khas. Pengunjung boleh masuk ke teras dan berfoto dengan mereka. Tidak dipungut bayaran, tapi sumbangan sebaiknya diberikan.



Perjalanan kami dilanjutkan ke Museum Keraton Surakarta Hadiningrat. Jika dilihat dari Kemandungan Lor/Utara, museum tersebut berada di sebelah kiri. Selain ruangan-ruangan, kami melihat halaman yang berisi menara dan pendopo di dalam museum. Halamannya tidak terdiri dari tanah, melainkan pasir. Menurut Hilman, pasir tersebut diambil dari pantai selatan dan mungkin memiliki nilai magis tersendiri. Namun secara logika, pasir lebih menyerap air ketimbang tanah. Mungkin itu alasan agar tidak ada genangan itulah sehingga dipilih menggunakan pasir.

Semua bangunan keraton dirancang oleh Pangeran Mangkubumi. Jika dibandingkan dengan keraton di Yogyakarta, akan terlihat beberapa kesamaan. Ini disebabkan karena kedua keraton tersebut dirancang oleh arsitek yang sama karena Pangeran Mangkubumi memberontak dan mendirikan kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwana I.

Kami bertemu Hilman dan Bowo saat kami sedang makan wedang ronde pakai es di pinggir jalan. Cuaca Solo begitu panas dan muka berminyak tidak karuan. Kami mengemukakan rencana kami untuk pergi ke Candi Cetho dan Candi Sukuh yang terletak di Karanganyar. Tapi karena saat itu sudah tengah hari, dan perjalanan ke candi memakan waktu dua jam, akhirnya rencana tersebut dibatalkan. Kami keliling kota saja.

Kami berempat makan siang di sebuah tempat yang tampaknya sangat terkenal bagi para turis yang berkunjung ke Solo yaitu Warung Selat "Mbak Lies" yang terletak di jalan entah apa. Haha. Jadi makanan di sini semacam daging sapi (bistik) dengan telur dan kuah, seperti semur. Jujur, untuk saya, makan di sini tidak mengenyangkan. Namun yang menarik dari tempat ini adalah dekorasi restoran serta kostum pramusaji yang unik.




Di sini banyak keramik dan barang pecah belah. Rupanya barang-barang tersebut merupakan koleksi dari sang pemilik. Mungkin karena dalam jumlah yang banyak, barang-barang tersebut membuat restoran ini unik. Jadi semacam organized chaos. Hehe. Dan pegawai prianya dipakaikan topi dan celemek paduan merah muda dan hijau. Waw.

Setelah itu kami pergi ke Museum Pers Nasional untuk melihat koran zaman dulu, alat cetak, serta tokoh-tokoh wartawan Indonesia. Lalu kami melihat barang-barang antik di pasar Triwindu. Dari sana, kami pergi ke makan es krim di Kusuma Sari. Mengunjungi tempat makan yang dianggap kuno menjadi salah satu tujuan wajib saya. Saat berada di tempat makan tersebut, saya kaget dengan harga yang super murah. Apakah ini dunia nyata?

Saat itu langit mulai mendung. Saya meminta Hilman untuk menunjukkan gereja tua di sini. Ternyata ada sebuah gereja yang sangat cantik bernama Gereja Katolik St Antonius. Ini merupakan gereja katolik pertama di Solo. Letaknya dekat balai kota Solo. Wah, dengan bebungaan merah muda yang mekar di depannya, membuat gereja ini semakin indah saja saat ditangkap kamera.

Rupanya gereja tersebut dekat dengan kawasan Pecinan. Bangunan yang paling terlihat di kawasan ini adalah Pasar Gedhe Harjonagaro. Bangunannya dirancang oleh Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda, dan selesai dibangun tahun 1930. Di antara cahaya matahari sore yang hampir terbenam serta basahnya hujan, bangunan ini pun tidak kalah cantik. Halah, tapi bangunan kolonial mana sih yang gak disebut cantik sama saya. Haha.



Hanya beberapa meter dari Pasar Gedhe Harjonagaro terdapat kelenteng Tien Kok Sie. Wah, kesukaan saya juga nih! Saat kami datang, para pengurus kelenteng tengah mempersiapkan dekorasi untuk pertunjukkan wayang potehi. Saya tergiur untuk nonton (dan Hilman juga mengajak untuk nonton wayang orang), tapi kami enggan berada di Solo terlalu malam karena kami harus pergi ke Yogyakarta sebelum tengah malam.

Sebelum benar-benar meninggalkan kota ini, kami semua makan sate yang porsinya super nampol--akibat makan bistik yang tidak kenyang. Saking nampolnya, saya enggan makan sate beberapa hari kemudian. Belum lagi bumbu kacang yang super kental. Heheh. Saya lupa nama tempatnya, dan letaknya tidak jauh dari area pasar dan kelenteng.

Terima kasih kepada Hilman dan Bowo yang telah menjadi pemandu yang seru dan menyenangkan. Saya sih benar-benar terkesan dengan kota ini dan masih penasaran dengan candinya. Tapi sebelum membuat rencana perjalanan ke Solo berikutnya, mari kita ke Yogyakarta sebagai destinasi terakhir dengan alat teleportasi KW 15 karena kami pergi dengan bus antara kota dengan kecepatan tinggi.

Comments

Popular Posts