Skip to main content

3 Days 3 Cities: Yogyakarta

Seperti Bandung, Yogyakarta itu semacam kota yang mainstream banget untuk dikunjungi. Saat sekolah, kota ini semacam destinasi wajib sebagai tujuan study tour. Tapi study tour sekolah saya tidak pergi ke Candi Prambanan dan saya penasaran setelah membaca novel Ayu Utami berjudul Maya yang membahas tentang Roro Jonggrang. Maka pergilah saya dan Eka ke sana.

Dari kejauhan, Prambanan adalah candi yang cantik. Bentuknya ramping dan tinggi. Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9. Candi ini ditujukan untuk Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di tengah teriknya Yogyakarta, saya dan Eka berkeliling kompleks candi untuk mencari patung Roro Jonggrang. Beberapa jam setelahnya, saat mau pulang, kami baru sadar kalau Roro Jonggrang itu kan nama keseluruhan candinya, bukan berbentuk patung. Duuh.



Candi yang termasuk situs warisan dunia UNESCO juga memiliki sebuah cerita legenda tentang Pangeran Bandung Bondowoso yang jatuh cinta dengan putri kerajaan seberang bernama Rara Jonggrang. Prambanan adalah bentuk cinta yang ditolak dan berlandaskan tipu-tipu wanita yang tidak berani bilang tidak mau dengan mengemukakan syarat yang tidak masuk akal. Cantik bener pasti dia.


Karena pihak pengurus candi ini juga menawarkan tiket terusan ke Candi Boko yang letaknya hanya 3 km dari Prambanan, kami memutuskan untuk mengambil tiket terusan tersebut. Saya ingat candi ini, yang menurut legenda namanya diambil dari nama ayahnya Roro Jonggrang yaitu Ratu Baka, gara-gara iklan stasiun televisi yang syuting di sini. Jika Prambanan bentuknya ramping, Candi Boko terkenal dengan pintunya yang membingkai pemandangan gunung yang ada di depannya.

Dengan buru-buru, kami pergi ke keraton. Kenapa buru-buru? Karena kami harus pulang dengan bus pukul 5, sementara kami harus cari oleh-oleh dulu. Begitu sampai, ternyata keraton tutup karena ada acaranya. Maka dengan lelah, kami pergi ke Benteng Vredeburg karena Eka belom pernah ke sana. Dari kejauhan, benteng ini begitu memikat mata. Karena tidak setiap hari kita melihat ada benteng Belanda di pinggir jalan 'kan?

Setelah melihat benteng dengan tidak maksimal, kami pergi mencari oleh-oleh. Saya membeli kaos buat si pacar dan bakpia buat teman-teman kantor. Oh ya, selama di Yogyakarta, kami sangat dibantu oleh saudaranya Eka. Transportasi kami pun dimudahkan dengan dipinjamkannya motor. Kalau pakai bus, pasti tidak akan terburu. Setelah saudaranya mengantarkan Eka pulang naik bus ke Bandung, saya diantarkan pula ke terminal bus di Jombor. Di terminal, saya menunggu bus cukup lama, tapi tidak selama saat menunggu bus ke Semarang. Sendirian di kota yang jauh dan membayangkan jarak yang harus ditempuh ke Jakarta, saya merindukan mamah.

Huuu, cengeng.

Perlu saya akui bahwa perjalanan tampak menyenangkan saat direncanakan, tapi setelah dijalani, sepertinya kami terlalu ambisius. Jadi serba terburu-buru, tidak menikmati, dan tidak mendalami. Mungkin karena kami jarang memiliki waktu untuk jalan-jalan. Jadi, sekalinya jalan, kami mencoba memaksimalkan destinasi yang ada. Saran untuk pejalan lainnya, saat jelajah kota besar luangkan waktu minimal dua hari.

Sekian perjalanan tiga kota dalam tiga hari, Masih jelajah kota, saya akan menceritakan perjalanan saya ke Pasuruan dan Surabaya. Sampai jumpa!

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…