Sepasang Sepatu (Bukan Lagu Tulus)

Salah satu teman saya di kantor punya ketertarikan khusus terhadap salah satu barang fashion, yaitu sepatu. Beberapa bulan yang lalu ia membeli sepatu Dr. Martens di Singapura kisaran Rp1,7 juta. Saya hanya berdecak dan berkomentar buat apa beli sepatu mahal karena hanya akan dipakai di kaki dan diinjak-injak. Teman saya menjawab, "Nah itu bedanya gue sama elu." Ia memang mengkoleksi beragam sepatu dan tampaknya ia sangat menyukai alas kaki ini--sebagaimana orang lain suka jam tangan atau kacamata.

Jauh sebelum kejadian di atas, teman saya yang lain bilang bahwa ia menilai orang dari sepatunya. Ia akan mempertimbangkan selera fashion seseorang dari sepatunya. Sepatu tidak lagi hanya sandang yang dipakai untuk melindungi kaki. Jauh dari itu, sepatu bukan hanya penunjang berbusana, tapi ia bisa menjadi hal yang paling penting dari diri, walaupun letaknya di bawah. Sepatu menjadi identitas.

Sepatu saya sama seperti sepatu-sepatu orang biasa. Maksudnya, saya tidak punya minat yang khusus pada sepatu. Saya hanya punya satu sepatu untuk setiap jenis dan baru diganti jika sudah rusak. Namun beberapa tahun ke belakang ini, tampaknya saya dikenal orang-orang mengenakan sepatu boot atau sepatu gunung.



Saya bukan pecinta gunung karena itu melelahkan. Sepatu boot atau sepatu gunung menjadi kesukaan karena saya enak dipakai, menutup kaki dengan sempurna dan.. keren. Apalagi saya sering jalan kaki ke sana sini. Saya butuh sepatu yang enak untuk jalan jauh. Dan ia tahan resistensi. Flat shoes sangat tidak disarankan untuk jalan kaki karena jauh lebih pegal dan tidak jarang menimbulkan kram. Maka dari itu, sepatu seperti ini jadi kegemaran saya.

Tapi setelah dipikir-pikir, casual shoes juga bisa dipakai buat jalan kan..

Comments

Popular Posts