Skip to main content

Taman Bungkul dan Keteraturan Lainnya

Akhir bulan April kemarin, saya pergi ke Pasuruan dalam rangka wawancara seorang petani mangrove yang mendapatkan penghargaan Kalpataru tahun 2005 sambil belanja informasi wisata selama sehari. Redaktur saya, Mbak Dian, menyarankan agar saya menginap di Surabaya dan menghabiskan waktu di sana untuk jalan-jalan. Waahh.. terakhir saya ke Surabaya itu ketika saya masih SMA--itu juga karena ongkos pulang pergi naik kereta ditraktir oleh kakak sepupu saya. Mahal!

Berhubung kalau tugas kantor pasti dibayarkan baik transportasi dan akomodasi, saya senang sekali punya kesempatan itu. Seperti biasa, saya mendaftar tempat-tempat yang layak dikunjungi. Di Surabaya, saya kenalan dengan seorang wartawan foto. Ia bilang ia akan mengantarkan saya seharian (tapi nyatanya tidak). Akhirnya saya pergi ke tempat-tempat yang saya rencanakan sendirian menggunakan angkot yang baru saya browsing informasinya saat itu. Betapa mudahnya hidup kita karena internet. Terima kasih!

Sebelum check out dari Surabaya Plaza Hotel yang harga per malamnya 1.8 juta (anjrit) itu, saya pergi ke Taman Bungkul. Semenjak walikota Risma menjabat, taman ini begitu tersohor dan dikenal sebagai taman terbaik se-Asia dan mendapatkan penghargaan penghargaan internasional "The 2013 Asian Townscape Sector Award" dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wah, saya penasaran. Letaknya tidak jauh dari hotel, hanya sekali naik angkot. Ternyata taman ini begitu terawat.

Semua fasilitas berfungsi. Ada skatepark, taman bermain, pancuran yang bisa dipakai mandi, bebatuan untuk refleksi, dan kamar mandi. Walaupun saat itu banyak orang, taman ini terlihat bersih. Bagaimana tidak, saya menemukan beberapa orang yang membawa pengki dan sapu lidi yang bertugas membersihkan taman. Selain itu, fungsi ruang publik dari taman ini pun terpakai. Selain bercengkrama, saya juga melihat beberapa orang latihan menari di sini.






Bunga-bunga pun tertata rapi. Rumput-rumput juga terjaga. Sayangnya berita terakhir tentang Taman Bungkul justru mengkhawatirkan karena taman ini rusak akibat pembagian es krim Walls gratis. Walaupun pihak Walls sudah  mau ganti rugi, tapi tetap saja disayangkan mana aturan jelas para pengunjung sehingga bisa merusak tanaman yang ada. Huhu.



Di depan taman ini pun terdapat sebuah zebra cross dan tombol untuk menyebrang jalan. Kalau kita memencet tombol tersebut, lampu berubah jadi merah dan mobil pun berhenti. Saya mencobanya dan berhasil! Waah, rasanya di Bandung tidak ada yang seperti ini. Kalaupun ada tombol penyebrangan, sepertinya jarang ada yang berfungsi. Saya merasa disayang di kota ini. Hihi.


Ngomong-ngomong tentang disayang, saya pergi ke jembatan penyebrangan yang ada di depan kantor walikota. Jembatan itu sangat bagus dan ada lampu-lampu besar yang masih lengkap. Sebelum saya naik jembatan, di sana ada plang yang menyebutkan bahwa jembatan ini dilengkapi cctv dan ada nomer-nomer yang bisa dihubungi jika terjadi kejahatan di atas jembatan. Waah.. belum pernah saya merasa diperhatikan seperti ini oleh pemerintah. *lebay

Selain ke taman, saya juga mengunjungi beberapa tempat di Surabaya. Tadinya mau dijadikan satu tulisan, tapi sayang jika tulisan Taman Bungkul hanya menjadi beberapa paragraf saja. Jadi, tempat lainnya saya ceritakan di postingan berikutnya ya. Jika tidak malas.

Berdasarkan yang saya lihat selama di Surabaya, saya melihat kota ini begitu bersih. Kota metropolitan yang tidak semerawut Jakarta. Trotoarnya besar dan bersih. Saking 'bersih'-nya, saya juga jarang melihat ada orang yang berdiri di pinggir jalan untuk memberhentikan angkot, tidak seperti di Bandung. Menurut teman fotografer, rata-rata orang di Surabaya pakai kendaran pribadi dan taksi. Selain itu, faktor bersih juga sepertinya didukung dengan petugas kebersihan yang cukup sering saya lihat.



Bahkan sungai di Surabaya pun tak kalah bersihnya, hingga beberapa kali saya melihat orang yang memancing di sana. Menurut teman-teman yang pernah tinggal di Surabaya, usaha pembersihan sungai ini sudah dimulai dari tahun 90-an. Pantas saja jika sampahnya hanya sedikit.

Wah, saya suka kota ini. Selain hasil usaha bertahun-tahun, hasil kerja walikota Risma yang baru menjabat sekitar 2 atau 3 tahun ini pasti berarti signifikan untuk kotanya. Risma dikenal sebagai orang yang saklek dan cinta terhadap Surabaya. Ia sering terlihat langsung turun ke jalan untuk membersihkan sampah. Semoga semakin banyak pemimpin dan kota seperti ini.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…