Art Through Guitar

"Yang dipamerkan hanya gitar doang?" tanya saya pada Dika ketika kami akan pergi ke Selasar Sunaryo ArtSpace. Sinisme sudah keburu keluar saat memikirkan apa bagusnya melihat gitar. Pertama, saya bukan music junkie yang memiliki minat khusus terhadap alat musik. Kedua, saya membayangkan pameran ini hanya akan menampilkan Fender atau Gibson.

Begitu sampai ke galeri dan melihat gitar, saya banyak ter-wah-wah! Gitar-gitar Dewa Budjana dipamerkan dalam sebuah pameran tunggal berjudul Dawai Dawai. Sebanyak 34 gitar yang diukir atau dilukis dengan para seniman itu ditampilkan di ruang B dan ruang sayap. Sayangnya tidak boleh difoto sehingga saya meminjam beberapa foto dari akun Facebook Selasar Sunaryo ArtSpace untuk tulisan kali ini.

Beberapa karya seniman yang dipamerkan yang saya sudah tahu sebelumnya adalah Srihadi Soedarsono, Jeihan, Nasirun, Wayan Tuges, Nyoman Nuarta, dan Agus Suwage. Yang paling berkesan adalah saat saya melihat karya Wayan Tuges, seorang pengukir gitar yang sangat terkenal dari Bali. Karena beberapa hari sebelumnya, saya baru saja mewawancarai Wayan via telepon. Karya-karyanya pun baru saya lihat di foto. Ketika lihat secara langsung, ternyata betul-betul indah!

Gitar paling kiri dilukis oleh Midori Hirota.

Gitar diukir dan dilukis oleh Nasirun.

Dilukis oleh Made Budhiana.

Karya Astari Rasjid.

Tidak hanya dilukis dan diukir, ada satu buah gitar karya Teguh Ostenrik yang begitu luar biasa. Gitar  listrik Fender Stratocaster diselimuti oleh pelat-pelat besi, teralis, dan gir yang saling menempel. Bentuknya sudah bukan seperti gitar lagi, malah jadi sebuah patung. Tentunya sudah tidak bisa dimainkan.

Saya dan Dika bertanya-tanya apakah para seniman yang menawarkan diri untuk berkarya di atas karya Budjana atau gitaris GIGI ini yang meminta para seniman tersebut. Karena kalau senimannya yang menawarkan diri, pasti Budjana ini semacam musisi yang prestisius. Ternyata di buku Dawai-Dawai Dewa Budjana itu diceritakan bahwa Budjana meminta para seniman untuk berkarya di gitarnya. Misalnya, Budjana meminta Jango Paramarta dan Made Sumadiyana.

Saya dan Dika menikmati setiap sentuhan seni dari para seniman di setiap gitar. Kami terkagum-kagum bersama. Gitar yang mulanya biasa (bagi saya), menjadi sangat cantik. Saya membayangkan ketika Dewa Budjana memainkannya di panggung. Pasti akan terlihat luar biasa. Kami membayangkan jika gitar ini dijual. Akan sangat mahal karena ada tiga nilai: nama Budjana, nama seniman, dan gitarnya yang sudah mahal. Haha. Hitung kekayaan orang.

Pameran ini berlangsung sampai tanggal 22 Juni 2014. Untuk yang sedang ada di Bandung, sempatkan untuk datang. Bagi saya, ini adalah salah satu pameran seni terbaik yang pernah saya hadiri selama ini. Pulang dari sana, membuat hati saya terasa penuh, hidup, dan berseri-seri.

Comments

Popular Posts