Kenaikan Kelas Sosial Secara Instan

Siapa yang tidak ingin masuk ke kelas sosial yang tinggi, yang dipuja-puji, yang membuat orang jalan menunduk-nunduk di depan kita, dan disegani. Jangankan menjadi orangnya, berteman dengan orang-orang kelas sosial atas juga bikin bangga. Kalau tidak berteman, ya setidaknya bekerja dengan mereka lah ya. Sekaligus menipu diri pura-pura memiliki harta dan tahta, punya bibit, bebet, dan bobot yang baik pula.

Kenaikan kelas sosial secara instan yang fana sering saya lihat di restoran atau kantor yang melayani orang-orang kelas atas. Saya yakin, para pegawainya pasti berada satu atau dua tingkat di bawahnya. Karena jika setara, mana mau bekerja, kan? Misalnya restoran-restoran mewah di Bundaran HI itu paling pegawainya berasal hanya lulusan SMA atau akademi yang orang tuanya di gang-gang sempit atau jalan kecil. Setidaknya bukan Kemang Raya atau Menteng.

Para pegawai ini diajari untuk melayani para kaum kelas atas dengan baik. Dengan senyum sapa dan ramah. Dan helpful. "Ada yang bisa kami bantu, Bapak atau Ibu? Ini adalah menu spesial kami. Oh, toilet ada di sana, Pak," ujar pelayan sambil menunjuk dengan empat jari. Kalau pelanggan sudah pulang, tak lupa mengucapkan terima kasih sambil memegang tangan di dada.

Tapi perlakuan tersebut berubah drastis jika melihat seseorang yang setara atau di bawah darinya. Anggap jika si pelanggan membawa baby sitter, akankah baby sitter tersebut diperlakukan sama? Akankah seseorang yang terlihat kumuh kucel miskin dan setara akan digadang-gadang layaknya pelanggan kelas atas? Tentu tidak. Karena kebaikan mereka hanya sebatas standar operasional yang penuh tipu daya. Karena mereka yang sudah naik kelas sosial secara instan tentunya tidak mau turun kelas dengan melayani orang yang setara atau di bawahnya.

Tidak sekali atau dua kali teman-teman saya mengeluh diperlakukan tidak baik oleh SPG di counter brand ternama. Padahal jika dilihat, mereka sama saja dengan kami-kami (tentu saya termasuk) yang proletar ini. Mereka sama-sama cari uang. Bahkan barangkali mereka ngekos di tempat yang lebih busuk dari kami sekarang. Tapi sombongnya sudah seperti orang di kelas sosial atas.

Ya begitulah. Manusia mulai kelimpungan dengan standar-standar yang mereka ciptakan. Mungkin sebagian menikmatinya.

Comments

Popular Posts