Skip to main content

Picture (Not) Perfect Relationship

Banyak artikel beserta tips n trick tentang bagaimana menciptakan hubungan yang ideal. Tidak hanya berupa bacaan, orang-orang di sekitar pun pintar menceramahi tentang bagaimana sebuah hubungan harus berjalan. Penonton memang lebih jagoan memberi komentar tanpa diminta. 'Manual-manual' tersebut menjadi sebuah standar bahwa hubungan yang baik adalah a, b, c, dan d. Kalau di luar itu, berarti kita berada di dalam sebuah hubungan yang tidak sehat.

Jika dilihat dari standar orang lain dan standar sosial, saya sadar bahwa hubungan saya dengan si pacar jauh dari sempurna. Ia bukan pangeran bermuka Ken barbie, memiliki kuda putih, dan senjata yang berkilat. Jika standar orang ideal adalah seseorang yang rajin memberikan bunga atau gemar mengucap kata-kata romantis, maka ia jauh dari itu. Dia adalah dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Untuk memahaminya tentu membutuhkan waktu dan banyak keluhan yang saya utarakan kepadanya. Keluhan itu menyuarakan sebuah tuntutan bahwa 'Kamu harus begini! Kamu harus begitu! Aku maunya begini dan begitu!' Namun jika ia melakukan apa yang saya mau, saya malah enggan. Ia menjadi orang lain. Ia tidak menjadi orang yang saya kenal. Ia tidak menjadi dia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya ketahui dulu.

Pada sebuah kegiatan hangout di kantor, beberapa teman berbagi tentang pentingnya menjadi diri sendiri dalam sebuah hubungan. Ada saja orang yang perilakunya berubah saat ia bersama pasangannya--lebih jaga image, misalnya. Lalu, yang manakah diri kamu sebenarnya? Karena ketika pasangan sudah tidak ada, kita mau menjadi siapa selain menjadi diri kita sendiri?

Katanya "If you love a flower, don't pick it up. Because if you pick it up it dies and it ceases to be what you love. So if you love a flower, let it be. Love is not about possession. Love is about appreciation." Ya, mungkin itu. Seseorang harus bisa mengapresiasi pasangannya untuk jadi diri mereka sendiri.

Begitu juga pada hubungan. Saya ingin hubungan kami apa adanya, sebagaimana diri kami yang menjalaninya. Kalau tidak jalan kemana-mana, ya sudah. Saya lebih memilih itu ketimbang harus maju dengan paksaan atau tuntutan. Bukannya kesempurnaan itu adalah pemaknaan yang sifatnya subjektif?

Dan yang terpenting, orang lain (selain keluarga dan sahabat) tidak berhak untuk menghakimi hubungan kami. Kami yang menjalani suka dukanya. Kami akan melanjutkan atau mengakhiri hubungan kapanpun kami mau. Orang lain hanyalah orang di luar kami yang hanya berlaku sok tahu dan merasa mampu untuk menceramahi. Sosok yang tidak penting.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…