Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

Menyapa Tuhan

Pada malam ini, aku merasa aku sangat dekat dengan Semesta. Dengan gelap malam, kerlip bintang, serta takbir yang menggema di langit. Suaranya mendengung berkelanjutan, memuja Tuhan dengan syair-syair nan syahdu, membangkitkan kegelisahan spiritual tentang keinginan untuk kembali pulang. Manusia hanya sebutir debu yang begitu lemah dibandingkan dari luasnya langit dan dalamnya lautan. Manusia sendiri, dalam sepi.

Pikiranku melayang kemana-mana, terbang ke masa lalu dan masa depan. Tidak hanya tentang ketakziman, pikiran ini menangkap kegetiran dan harapan. Lebaran selalu mengingatkan akan keluarga, tentang kesendirian dan rasa sepi tidak berkumpul layaknya keluarga lain yang penuh kehangatan, seperti memakai baju yang senada, saling berfoto, atau pergi pelesir ke suatu tempat setelahnya. Akankah lebaran berikutnya aku akan mengalami situasi yang sama?

Para sepupu dan sahabat pun terbayang. Betapa aku menginginkan kehadiran mereka. Betapa aku ingin merasa penuh dan hangat. Ketiadaan me…

Keliling Bandung dengan Bandros

Di tahun 2014, kata 'bandros' tidak lagi merujuk pada sebuah makanan khas Jawa Barat yang terbuat dari tepung beras, kepala parut, dan santan. Bandros kini juga merujuk pada sebuah bus double-decker berwarna merah yang mengangkut para wisatawan untuk menikmati Bandung. Bus yang catchy ini merupakan sumbangan dari program corporate social responsibility sebuah perusahaan telekomunikasi.


Mulanya pengunjung bisa memakai Bandros dengan memperlihatkan struk belanja di factory outlet atau toko-toko yang ada di Bandung. Tapi kini pengunjung ditarik bayaran Rp10.000. Keberadaan bus yang namanya merupakan akronim "Bandung Tour on Bus" baru ada satu buah, namun direncanakan akan ada 30 bus lainnya.

Hari ini saya berkesempatan merasakan naik Bandros bersama Komunitas Aleut. Kami menunggu di depan Taman Pustaka Bunga. Ternyata banyak sekali yang mau naik Bandros sehingga kami harus berdesak-desakan. Siapa cepat, dia yang dapat. Bahkan ada yang nekat manjat dari sisi belakang kar…

The Great Next Time

"Aku ingin main sama Joy. Lari-larian di padang rumput. Di suatu sore. Next time."
"Iya, on the great next time."

------------------

Ia masih menunggu waktu di lain kali yang baik. Ia menunggu di lorong-lorong kosong yang senyap namun menggemakan sepi. Ia menunggu setiap di setiap malam, ketika hantu-hantu keluar, hinggap di dinding kamar, dan masuk ke dalam pikiran. Ia terbangun setiap kali telepon genggamnya berbunyi, berharap ada kabar bahwa lain kali itu akan tiba di depan mata dan menyuarakan, "Bangunlah. Kemarilah. Atau aku yang akan menemuimu."

Semoga itu nyata.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Karena sudah kepalang jatuh cinta dengan karya Eka Kurniawan, novelnya yang berjudul sama dengan judul tulisan ini semacam wajib masuk ke daftar baca. Apalagi judulnya yang begitu romantis agresif menarik gimana gitu. Walaupun tidak menilai isi dari sampulnya, gambar burung itu tampak imut sekali.

Oke, rupanya burung yang ada di sampul adalah representasi dari keseluruhan cerita. Dimulai dari dua orang sahabat, Si Tokek dan Ajo Kawir, yang masih berusia remaja dan sedang gemar-gemarnya melakukan eksplorasi seksual, seperti mengintip orang bercinta. Suatu saat, Si Tokek mengajak Ajo Kawir mengintip Rona Merah, perempuan gila yang ditinggal mati suaminya. Sayangnya mereka harus mengintip adegan Rona Merah diperkosa oleh dua polisi dan Ajo Kawir tertangkap basah . Di depan kedua polisi, Ajo Kawir dipaksa menyetubuhi Rona Merah.

Semenjak kejadian itu, burung Ajo Kawir tidak bisa berdiri. Bahkan sampai ia mempunyai istri. Si Tokek merasa bersalah karena ia yang membawa kondisi sahabatnya …

Rumah (Temporer) Baru

Bulan ini adalah bulan kedua saya berada di kosan yang baru. Dari awal tinggal di Jakarta, saya sudah survey ke beberapa kosan, salah satunya kosan yang letaknya di Jalan Pilar Baru ini. Namun karena waktu kedatangan ke Jakarta begitu gambling sembari sudah bawa barang namun belum punya kosan, saya masuk ke kosan putri yang letaknya di pinggir jalan besar. Hampir setahun lamanya, saya tinggal di sana.

Di kantor, saya bertemu dengan Gisel, anak baru yang ngekos Pilar Baru. Saya sering pulang bareng dengannya karena kosan kami searah. Wah, saya pikir seru juga kalau kami satu kosan, bisa pulang bareng dan tidak sendirian. Kemudian saya mulai bertanya lebih detil tentang fasilitas di kosan Pilar Baru. Setelah beberapa kali bolak-balik dan merepotkan Gisel untuk tanya ke penjaga kos, akhirnya saya pindah juga.

Secara harga, kosan ini bisa dibilang mahal. Bahkan kosan ini harus meninggalkan uang deposit segala. Tapi kalau dibandingkan masing-masing dengan harga dan fasilitas, sebenarnya sa…

Bidadari yang Mengembara

Meskipun sampulnya berwarna merah jambu, buku Bidadari yang Mengembara bukanlah sebuah karya dengan genre chicklit atau metro pop. Apalagi kumpulan cerpen yang ditulis oleh A.S. Laksana ini dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik tahun 2004 dan 2013.



Buku ini berisi 12 cerita pendek. Rata-rata ceritanya berkisah tentang hubungan interpersonal antara satu tokoh dengan orang seperti ayah, ibu, kakak, dan lawan jenis. Dari semuanya, cerpen yang paling saya suka adalah "Seekor Ular dalam Kepala" dan "Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang".

"Seekor Ular dalam Kepala" bercerita tentang seorang wanita bernama Lin yang mengaku bahwa ada seekor ular yang masuk melalui lubang telinganya. Ular itu menyuruh Lin untuk memetik apel. Meskipun Lin sudah tahu cerita klise tentang Adam dan Hawa, Lin tetap mencoba memetiknya. Bahkan ia meminta tolong sang suami, namun tidak berhasil karena tidak terjangkau.

Lin menceritakan hal ini kepada suaminya, Rob, …