Skip to main content

Bidadari yang Mengembara

Meskipun sampulnya berwarna merah jambu, buku Bidadari yang Mengembara bukanlah sebuah karya dengan genre chicklit atau metro pop. Apalagi kumpulan cerpen yang ditulis oleh A.S. Laksana ini dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik tahun 2004 dan 2013.



Buku ini berisi 12 cerita pendek. Rata-rata ceritanya berkisah tentang hubungan interpersonal antara satu tokoh dengan orang seperti ayah, ibu, kakak, dan lawan jenis. Dari semuanya, cerpen yang paling saya suka adalah "Seekor Ular dalam Kepala" dan "Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang".

"Seekor Ular dalam Kepala" bercerita tentang seorang wanita bernama Lin yang mengaku bahwa ada seekor ular yang masuk melalui lubang telinganya. Ular itu menyuruh Lin untuk memetik apel. Meskipun Lin sudah tahu cerita klise tentang Adam dan Hawa, Lin tetap mencoba memetiknya. Bahkan ia meminta tolong sang suami, namun tidak berhasil karena tidak terjangkau.

Lin menceritakan hal ini kepada suaminya, Rob, yang merespon dengan ketakutan bahwa Lin sudah gila. Ia menyuruh Lin untuk mendatangi sebuah psikiater. Sebagaimana dokter kejiwaan, si psikiater memberi pertanyaan dan Lin menjawabnya dan meminta si psikiater untuk memetik apelnya. Ternyata saran Rob menyuruh sang istri ke psikiater adalah hal yang buruk. Lalu Rob memutuskan untuk mengeluarkan ular dari kepala istrinya.

Sementara itu, "Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang" bercerita tentang seorang anak yang penasaran jalan masuknya dan keluarnya bayi. Si ibu bilang bayi datang dari udara. Namun tokoh anak tidak percaya begitu saja. Setelah hilang berminggu-minggu, si anak datang sambil membawa kaca pembesar dan memaksa ibunya untuk memperlihatkan jalan keluar masuk bayi. Dan ia pun menyingkap kain ibunya.

Menurut saya, cerpen-cerpen karya A.S. Laksana ini bernuansa getir dan terdapat beberapa perumpamaan seperti dua cerpen yang saya tuliskan di atas. Membaca karya A.S. Laksana mengingatkan saya pada cerpen Avianti Armand yang jauh lebih hitam, berjudul "Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian" yang memperoleh penghargaan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2009.

Rasa dingin tiba-tiba merayapi punggungku. Wajah itu terlalu putih, bahkan untuk pagi yang masih biru. Aku segera mendekat. Dan di sana, di balik pintu yang separuh terbuka, tubuh suamiku tergeletak. Sebilah pisau menancap di dada. Darah membual dari lukanya. Lantai yang putih kini berkubang merah. Duniaku seketika hitam.

Comments

Neni said…
kenapa cerpen2 getir dan simbolis gini yang sering menang cerpen terbaik ya? Apa happy ending itu kayaknya dosa gt ya di dunia sastra?
Nia Janiar said…
Mungkin kalau happy ending jadi kesannya dangkal kali ya? Kalo getir kan kesannya berbekas. Haha.. gak tau deng. Hehe.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…