Skip to main content

Rumah (Temporer) Baru

Bulan ini adalah bulan kedua saya berada di kosan yang baru. Dari awal tinggal di Jakarta, saya sudah survey ke beberapa kosan, salah satunya kosan yang letaknya di Jalan Pilar Baru ini. Namun karena waktu kedatangan ke Jakarta begitu gambling sembari sudah bawa barang namun belum punya kosan, saya masuk ke kosan putri yang letaknya di pinggir jalan besar. Hampir setahun lamanya, saya tinggal di sana.

Di kantor, saya bertemu dengan Gisel, anak baru yang ngekos Pilar Baru. Saya sering pulang bareng dengannya karena kosan kami searah. Wah, saya pikir seru juga kalau kami satu kosan, bisa pulang bareng dan tidak sendirian. Kemudian saya mulai bertanya lebih detil tentang fasilitas di kosan Pilar Baru. Setelah beberapa kali bolak-balik dan merepotkan Gisel untuk tanya ke penjaga kos, akhirnya saya pindah juga.

Secara harga, kosan ini bisa dibilang mahal. Bahkan kosan ini harus meninggalkan uang deposit segala. Tapi kalau dibandingkan masing-masing dengan harga dan fasilitas, sebenarnya sama saja. Yang ini murah tapi gak ada ini itu. Yang ini mahal tapi ada ini itu. Coba kalo yang murah ditambah ini itu, pasti harganya akan sama dengan si mahal.

Dua bulan di sini, saya mulai kerasan dan merasakan bahwa kosan ini jauh lebih nyaman dibandingkan yang pertama. Di sini ada dapur dan kulkas bersama, sehingga saya bisa masak dan menyimpan makanan beku atau minuman dingin. Baju saya juga dicuci setiap hari, sehingga selamat tinggal tangan kasar sebagaimana saya ngekos di tempat dulu! Dan tentunya kamar mandinya di dalam sehingga saya bisa hilir mudik telanjang dada dan paha. *duh

Oatmeal pancake dengan keju rasa gurih.

Nasi Goreng tanpa kecap. Kesukaan!

Kentang tumbuk. Keren gak tuh!

Roti dan salmon.

Penne ziti rigate dengan saus ayam buatan sendiri. Masterpiece! *lebat


Tempat tidur saya sangat besar, muat dua orang. Spring bed baru yang masih dibungkus plastik pulak! Beda sekali dengan kosan dulu yang hanya kasur busa dan menyebabkan nyeri pinggang di setiap bangun pagi. Huhu. Selain itu, lemari pakaian lebih besar, kipas angin lebih terasa. Dan yang paling penting.. ventilasi sangat baik sekali sehingga saya jarang mandi keringat di kamar. Apalagi saya di lantai 3 yang punya ruang terbuka untuk jemuran sehingga angin bisa masuk ke dalam kosan. Nice!

Meskipun pedih saat transfer setiap bulannya, tapi saya pikir ini setara. Dan saya tidak lagi malu mengundang teman-teman saya untuk menginap di sini. Haha. Jadi ingat, dulu Eka pernah nginap di kosan lama. Karena saking kecilnya kasur, ia harus tidur dengan miring!

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…