Skip to main content

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas


Karena sudah kepalang jatuh cinta dengan karya Eka Kurniawan, novelnya yang berjudul sama dengan judul tulisan ini semacam wajib masuk ke daftar baca. Apalagi judulnya yang begitu romantis agresif menarik gimana gitu. Walaupun tidak menilai isi dari sampulnya, gambar burung itu tampak imut sekali.

Oke, rupanya burung yang ada di sampul adalah representasi dari keseluruhan cerita. Dimulai dari dua orang sahabat, Si Tokek dan Ajo Kawir, yang masih berusia remaja dan sedang gemar-gemarnya melakukan eksplorasi seksual, seperti mengintip orang bercinta. Suatu saat, Si Tokek mengajak Ajo Kawir mengintip Rona Merah, perempuan gila yang ditinggal mati suaminya. Sayangnya mereka harus mengintip adegan Rona Merah diperkosa oleh dua polisi dan Ajo Kawir tertangkap basah . Di depan kedua polisi, Ajo Kawir dipaksa menyetubuhi Rona Merah.

Semenjak kejadian itu, burung Ajo Kawir tidak bisa berdiri. Bahkan sampai ia mempunyai istri. Si Tokek merasa bersalah karena ia yang membawa kondisi sahabatnya menjadi seperti itu. Puluhan tahun kemudian, justru sang istri yang membalaskan dendam Ajo Kawir. Akhirnya suatu saat burungnya Ajo Kawir bisa berdiri. Namun Eka Kurniawan menutup novel ini dengan baik dan membuat pembaca (saya) gregetan. Haha.

Eka Kurniawan menuliskan novel ini dengan plot maju mundur yang sangat baik. Bahkan, ia bisa menceritakan dua tokoh yang masing-masing ada di plot mundur. Sebagai tanda perpindahan plot tersebut, penulis memberikan jeda. Dan ia menutup semua jeda dengan kata-kata yang nendang.

Saya suka deskripsi Eka terhadap Ajo Kawir. Ajo Kawir merupakan tokoh yang begitu temperamen dan gemar berkelahi. Jika spaneng dikit, ia mencari orang lain untuk mengeluarkan agresinya. Namun Ajo begitu lunak terhadap cinta. Tertidunya sang burung serta insiden dengan istrinya membuat karakter Ajo Kawir berubah. Ia memilih jalur "sunyi" yaitu lebih tenang, damai, tidak berkelahi, dan tidak melakukan hubungan seksual. Ajo digambarkan dengan begitu maskulin sekaligus feminin. Sisi feminintas sang penulis terlihat saat ia menggambarkan Iteung, terutama saat tokoh ini sedang memiliki hasrat untuk berhubungan seksual.

Meskipun di sini banyak konten seksual, Eka menuliskannya tanpa kesan porno. Bahkan ia menuliskan dengan menggelikan. Misalnya adegan Ajo Kawir saat ia mimpi basah karena bertemu tokoh lainnya yaitu Jelita.

Ajo Kawir keluar dari persembunyian dan kini ia bisa melihat dengan jelas tubuh perempuan itu, di balik air yang begitu jernih. Nyebur, seru Jelita. Dengan ragu-ragu ia membuka pakaiannya, dan perlahan berjalan masuk ke dalam air. Kakinya basah. Pahanya basah. Ia berjalan dan ia semakin masuk ke dalam air. Ketika air sungai menyentuh burungnya, air itu terasa hangat. Baginya serasa air jernih itu perpanjangan tubuh Jelita dan tubuh itu terasa lembut. Si Burung menggeliat-geliat dan akhirnya muntah-muntah.
"Ah, kenapa tuh, burungmu?" tanya Jelita.
"Maaf," kata Ajo Kawir merasa jengah. "Ia masuk angin."
(Eka Kurniawan: 222-223)

Saya suka buku ini. Walaupun temanya sama sekali berbeda dengan Cantik Itu Luka yang memiliki setting sejarah komunisme, Eka tetap membawa pesan yang mendalam. Di tengah rezim yang penuh kekerasan, burung yang tertidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…