Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Kaddisch für einen Freund

Saya kira, stereotype dan diskriminasi adalah suatu hal yang jahat. Manusia dibedakan karena agama, warna kulit, dan suku yang tidak mereka minta. Karena perilaku sebagian orang, terjadi generalisir pada semuanya. Di Indonesia yang terdiri dari beragam suku ini, stereotype pun sering terjadi. Misalnya menghakimi bahwa suku ini punya temperamen yang lebih panas, suku ini pemalas, suku ini rajin.. padahal belum tentu semuanya begitu. Kalau sudah begitu, memungkinkan mengarah ke diskriminasi seperti "Jangan memperkerjakan suku ini, karena mereka terkenal lambat." atau "Jangan duduk bersebelahan dengan suku ini, karena mereka sebagai pendatang yang merebut tanah kami."

Mungkin itulah yang menjadi latar belakang film Kaddisch für einen Freund (2012). Film ini bercerita tentang keluarga Palestina yang membatasi diri pada seorang Yahudi. Berkisah tentang Ali (14), seorang remaja yang berserta keluarganya melarikan diri dari Lebanon dan tinggal di Berlin. Saat baru pindah …

FREEDOM!

Once what I did wrong in my life is to accept you enter my house and my heart. You came and you judged all over it. You said mean sentences such as, "This is wrong, that is ugly, this is not good enough, and you never gonna make it." I was eager to be wanted by you so I put a hard effort to meet your expectations. But I was wrong. You did those mean things because you are very insecure about yourself but you reflect it towards people so they feel insecure about themselves. You need to criticize and let the-negative-you to others so you can feel great about yourself.

At first I was flattered by your attention. You did small things that makes me feel special. You often called whenever I am out of town, just to ask, "Where are you? What do you do there? Call me by the time you reach Bandung. Be safe." You comforted me and you made me feel.. safe. You motivated me to be more outgoing and to be socially approved. Sometimes you said that I am good, I am great, and I am t…

Paradoks Dalam Bungkus Rokok

Akhir-akhir ini sedang heboh bungkus rokok yang menampilkan gambar-gambar gore oleh salah satu produsen rokok Indonesia. Gambar gore itu adalah dada manusia yang dibelah dan dikuliti hingga terlihat paru-parunya yang menghitam akibat rokok. Jauh sebelum itu, peringatan seperti "rokok dapat menyebabkan impotensi dan gangguan janin" dipersingkat jadi lebih cadas yaitu "rokok membunuhmu". Di sebelahnya terdapat sebuah gambar seorang pria yang sedang merokok dengan latar belakang tengkorak. Namun apakah benar semua itu mempengaruhi konsumen untuk berhenti? Atau sekedar memenuhi sebuah standar operational procedure? Atau bahkan.. apakah itu marketing gimmick?

Mulanya saya mensyukuri keberadaan foto-foto mengerikan itu sambil berharap orang dapat mengurangi merokok. Namun ada teman saya yang begitu all out membela bahwa gambar itu justru merusak design dan berpendapat bahwa gambar itu lebih membunuh karena teror psikologis yang dihasilkan (ketimbang merokok). Saya jadi b…

Walking Mouse on Treadmill

Beberapa bulan belakangan ini saya gemar fitness. Walaupun tidak sering, saya suka olahraga. Kalau ke Bandung, saya sering menyempatkan diri olahraga seperti berenang atau squash bersama Eka. Semenjak kolam renang dekat kantor terbilang mahal dengan ukuran tidak mengikuti standar olympic, saya bingung juga mau olahraga ke mana. Dan tempat fitness-nya pun sama. Mahal namun fasilitasnya tidak oke.

Gayung pun bersambit. Kantor membuat fitness center untuk para karyawannya yang bisa diakses gratis tis tis. Kami hanya memperlihatkan ID Card. Ruangan fitness ini dikelilingi oleh kaca, peralatannya cukup banyak dan baik (karena masih baru), dan bersih. Walaupun kamar bilas hanya satu,--bagi orang-orang yang malas mandi di kostan seperti saya--itu sangat membantu.

Biasanya saya olahraga bersama beberapa teman, tapi tidak jarang saya olahraga sendirian. Sambil lari di atas treadmill dan mendistraksi pikiran seperti 'ayo, Nia, kamu sudah lelah. Berhenti lari!', saya memperhatikan diri …

Surga Untuk Semua

Di Bandung, terdapat sebuah taman yang bernama Taman Lansia. Letaknya tepat berada di sebelah Gedung Sate. Saat naik bus Bandros kemarin, saya lihat dari kejauhan kalau taman ini penuh bunga-bunga. Wah, saya jadi penasaran. Maka saya ajak sahabat saya, Andika, untuk pergi ke sana. Sebelumnya kami janjian di Cisangkuy Yoghurt, tapi sayangnya restoran ini tidak menerima layanan makan di tempat, mungkin karena pegawainya masih ada libur Lebaran. Setelah makan di tempat lain, Andika memarkir motornya agak jauh dari gerbang taman, agar tidak dipungut biaya parkir. Hehe.

Hal pertama yang jelas terlihat adalah pagarnya taman ini diganti jadi pagar berwarna putih dan besinya melintang horizontal. Lalu, saat masuk, ada spanduk agar tidak ada yang berjualan di dalam taman. Sayangnya, di bawah spanduk itu cukup banyak penjual, terutama penjual bakso cuanki.

Kami terus berjalan mengelilingi taman. Kami melihat sebuah kumpulan tanaman yang di dalamnya terdapat jalur untuk jalan kaki. Wah, ini bagu…

Benci Birokrasi? Eits, Tunggu Dulu

Saat sedang membersihkan kamar mandi (halah), pikiran melayang-layang. Tiba-tiba saya teringat tentang seorang teman yang bilang bahwa ia tidak mengambil ijazah kuliahnya. Tentu dengan bangga, karena banyak orang menganggap ijazah itu adalah hal yang penting karena merupakan tiket masuk untuk ke dunia kerja. Meski tidak memiliki ijazah, teman saya dapat bekerja dan hidup dengan sangat baik. Bahkan cukup diakui di Bandung.

Ijazah adalah salah satu bentuk surat atau bukti dari sebuah sistem. Hal lainnya adalah KTP, SIM dan STNK (kalau bisa dan punya kendaraan bermotor), sertifikat tanah atau rumah, hingga mungkin.. keterangan kematian. Membuat itu semua, kita harus melalui proses yang berbelit-belit dan menyebalkan. Karena tidak hanya memakan waktu, proses ini juga memakan uang. Meskipun proses tersebut tidak mengenakkan, kita masih butuh.

Misalnya KTP. Kartu tanda penduduk ini seperti tiket masuk untuk kemana saja. Untuk bertamu ke kantor orang, kita harus menitipkan KTP. Untuk bisa be…