Skip to main content

Benci Birokrasi? Eits, Tunggu Dulu

Saat sedang membersihkan kamar mandi (halah), pikiran melayang-layang. Tiba-tiba saya teringat tentang seorang teman yang bilang bahwa ia tidak mengambil ijazah kuliahnya. Tentu dengan bangga, karena banyak orang menganggap ijazah itu adalah hal yang penting karena merupakan tiket masuk untuk ke dunia kerja. Meski tidak memiliki ijazah, teman saya dapat bekerja dan hidup dengan sangat baik. Bahkan cukup diakui di Bandung.

Ijazah adalah salah satu bentuk surat atau bukti dari sebuah sistem. Hal lainnya adalah KTP, SIM dan STNK (kalau bisa dan punya kendaraan bermotor), sertifikat tanah atau rumah, hingga mungkin.. keterangan kematian. Membuat itu semua, kita harus melalui proses yang berbelit-belit dan menyebalkan. Karena tidak hanya memakan waktu, proses ini juga memakan uang. Meskipun proses tersebut tidak mengenakkan, kita masih butuh.

Misalnya KTP. Kartu tanda penduduk ini seperti tiket masuk untuk kemana saja. Untuk bertamu ke kantor orang, kita harus menitipkan KTP. Untuk bisa beli ini itu, kadang KTP diperlukan. Bahkan untuk melakukan perjalanan jauh dengan pesawat atau kereta, kartu ini diperlukan. Dengan tidak adanya kartu ini, gerak jadi serba terbatas. Birokrasi yang menyebalkan pun mau tidak mau harus dilakukan.

Mungkin ijazah tidak sepenting KTP. Namun untuk tidak memilikinya, kita harus bisa mencari peluang kerja yang tidak membutuhkan sertifikat tersebut. Jika sudah percaya diri bisa berdikari sendiri, silakan. Begitu juga dengan surat-surat yang lain. Namun karena kita hidup di sebuah negara yang memiliki sebuah sistem, rasanya kita tidak bisa lari dari hal tersebut. Pindah negara pun sama saja.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…