Kaddisch für einen Freund

Saya kira, stereotype dan diskriminasi adalah suatu hal yang jahat. Manusia dibedakan karena agama, warna kulit, dan suku yang tidak mereka minta. Karena perilaku sebagian orang, terjadi generalisir pada semuanya. Di Indonesia yang terdiri dari beragam suku ini, stereotype pun sering terjadi. Misalnya menghakimi bahwa suku ini punya temperamen yang lebih panas, suku ini pemalas, suku ini rajin.. padahal belum tentu semuanya begitu. Kalau sudah begitu, memungkinkan mengarah ke diskriminasi seperti "Jangan memperkerjakan suku ini, karena mereka terkenal lambat." atau "Jangan duduk bersebelahan dengan suku ini, karena mereka sebagai pendatang yang merebut tanah kami."

Mungkin itulah yang menjadi latar belakang film Kaddisch für einen Freund (2012). Film ini bercerita tentang keluarga Palestina yang membatasi diri pada seorang Yahudi. Berkisah tentang Ali (14), seorang remaja yang berserta keluarganya melarikan diri dari Lebanon dan tinggal di Berlin. Saat baru pindah ke apartemennya, ia menemukan kebocoran dari lantai atas. Ia pun pergi ke atas dan bertemu dengan Alexander Zamskoy (84), seorang Yahudi yang merupakan tentara veteran PD II, yang mengalami kerusakan mesin cuci sehingga airnya memenuhi lantai. Ali pun membantunya. Usai membantu, Ali melihat lambang Yahudi di pintu apartemen pria tersebut. Perilaku Ali pun berubah.

Berada di lingkungan baru, Ali berusaha keras untuk bisa fit in dengan para remaja Arab lainnya. Agar bisa diterima, teman-temannya itu menyuruh Ali untuk menyusup dan merusak apartemen Alexander. Ali pun mengakali kunci apartemennya dan membiarkan teman-temannya menghancurkan barang-barang. Sayangnya saat Alexander datang, Ali hampir tertangkap dan ia tidak sengaja meninggalkan sepatunya di sana. Akhirnya diketahui dan Alexander melayangkan gugatan sehingga memungkinkan Ali dan keluarga dideportasi.



Agar tidak dideportasi, sang ibu meminta maaf. Namun Alik, panggilan Alexander, meminta agar anak itu memperbaiki apartemennya yang rusak. Meskipun awalnya banyak konflik, Ali dan Alik menjadi teman. Bahkan Alik menarik gugatan yang disampaikan di pengadilan.

Film ini begitu menyentuh. Plot yang lambat begitu tepat untuk memberi ruang pada film yang ingin menyampaikan sebuah pesan. Film yang diputar di Festival Film Jerman yang berlangsung pada 22-31 Agustus 2014 ini memang dipilih sesuai dengan situasi yang berlangsung saat ini, yaitu tentara Israel yang menggempur Palestina. Tidak terbayang dampaknya untuk para keluarga korban yang menyimpan kemarahan. Seperti api dalam sekam.

Comments

Popular Posts