Walking Mouse on Treadmill

Beberapa bulan belakangan ini saya gemar fitness. Walaupun tidak sering, saya suka olahraga. Kalau ke Bandung, saya sering menyempatkan diri olahraga seperti berenang atau squash bersama Eka. Semenjak kolam renang dekat kantor terbilang mahal dengan ukuran tidak mengikuti standar olympic, saya bingung juga mau olahraga ke mana. Dan tempat fitness-nya pun sama. Mahal namun fasilitasnya tidak oke.

Gayung pun bersambit. Kantor membuat fitness center untuk para karyawannya yang bisa diakses gratis tis tis. Kami hanya memperlihatkan ID Card. Ruangan fitness ini dikelilingi oleh kaca, peralatannya cukup banyak dan baik (karena masih baru), dan bersih. Walaupun kamar bilas hanya satu,--bagi orang-orang yang malas mandi di kostan seperti saya--itu sangat membantu.

Biasanya saya olahraga bersama beberapa teman, tapi tidak jarang saya olahraga sendirian. Sambil lari di atas treadmill dan mendistraksi pikiran seperti 'ayo, Nia, kamu sudah lelah. Berhenti lari!', saya memperhatikan diri saya. Ternyata cara berjalan saya bungkuk, lari saya seperti bebek. Kalau lari mungkin sudah bakatnya seperti itu, tapi setidaknya jalan saya harus tegap.

Selain itu, saya juga memperhatian orang lain. Kebanyakan para pengguna fitness center ini adalah pria. Para wanita biasanya melakukan cardio dengan berlari atau bersepeda. Sementara pria, mereka lari untuk pemanasan lalu membentuk tubuh dengan melakukan angkat beban.

Setiap orang pasti memiliki tujuan sendiri dalam berolahraga. Saya sendiri ingin langsing, terlihat fit, tidak mudah lelah saat traveling, dan tidak merepotkan orang lain kalau naik gunung. Entah pria-pria yang mengangkat beban sambil melihat kaca. Yang mematut dirinya sebelum dan sesudah aktivitas angkat beban dilakukan. Mengukur betis, tangan, dan dada. Apakah mereka ingin tubuhnya keras dan berundak-undak?

Ah, seru sekali kejadian-kejadian di tempat fitness ini. Orang berlomba-lomba memenuhi standar diri dan sosialnya. Memperhatikan mereka itu lucu. Ada yang mengejan saking beratnya, ada yang menimbulkan suara-suara aneh, dan ada yang melakukan sesi khusyu sebelum mengangkat beban. Lihatlah dia yang kurus kerempeng yang juga ingin berbentuk padahal baiknya ia menaikkan berat badannya terlebih dahulu. Lihatlah ia yang tampan dan rupawan, dengan modal tubuh tegap, berisi, liat, dan berundak, sedang mengangkat barbel. Begitu sexually appealing (in a nggilani way). Tapi bukan itu alasan saya melakukan fitness lho!

Tempat fitness seperti boks kaca yang juga sebuah laboratorium, dimana kami adalah para tikus yang sedang dilakukan eksperimen..

Comments

Popular Posts