Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Nonton Film di Taman

Sekitar dua minggu yang lalu, Bandung dihebohkan dengan pembukaan taman yang mengambil tema film yang dibuat oleh sang walikota Ridwan Kamil. Saya tidak pergi ke sana karena tahu akan penuh. Benar saja, kalau dilihat dari postingan foto teman-teman, tempat duduk di taman film yang bisa menampung 500 orang ini penuh sesak.

Kemarin, saya dan Anto pergi ke sana karena penasaran lihat taman film ini. Kami parkir motor di Baltos. Padahal, di dekat taman ini, masih di bawah kolong jembatan, ada parkiran motor. Caranya, jangan naik fly over.

Dari kejauhan sudah terlihat sinar lampu dari videotron berukuran 4x8 meter ini. Awalnya saya kira layarnya hanya berupa bentangan kain dan disorot proyektor. Ternyata pakai videotron berkekuatan 33.000 watt. Tipikal videotron yang biasa kita temui di pinggir jalan raya.




Begitu masuk arena taman, kami terkagum-kagum. Tempat duduk dibuat berundak dengan lekukan-lekukan, sangat dinamis dan tidak monoton. Mulanya Anto mengira taman film ini akan seperti ton…

Membuat Diri Abadi

Terima kasih kepada Gramedia yang sudah mempublikasikan buku puisi Wiji Thukul. Saya jadi mendapatkan sebuah gambaran lebih tentang seorang Wiji Thukul, setelah membaca sepenggal kisah hidupnya di Majalah Tempo. Saya tidak perlu repot-repot browsing puisi-puisinya karena kini saya bisa membacanya dalam satu buku.


Membaca puisi-puisi Wiji Thukul membuat saya berpikir, "Wah, pantas saja dia diculik." Bagaimana tidak, puisi-puisinya begitu memantik semangat perjuangan, perlawanan, dan pemberontakan terhadap pemerintahan kapitalis yang tidak kaum proletar. Dia adalah sebuah ancaman orang-orang yang sibuk menggemukan pundi-pundi uangnya atas nama negara.

Membaca buku ini, saya melihat kegelisahan-kegelisahan Wiji Thukul melihat ketidakadilan di depan matanya, betapa terkukung dunianya saat ia harus sedang berdiam diri dalam sebuah rumah karena pelarian, juga keterasingan dirinya dalam gemerlap moderenitas yang jauh darinya. Misalnya dalam puisi-puisi ini:

nyanyian akar rumput
jal…

Seteguk Lebih Dekat

Dalam rangka menulis artikel tentang teh, saya bertemu dengan Ratna Somantri. Rasanya senang sekali bisa ketemu dengan beliau. Bagi para pecinta teh, namanya sudah tidak asing lagi. Ratna Somantri adalah pendiri Komunitas Pecinta Teh. Ia pun sering melakukan talkshow tentang seluk beluk teh. Apalagi ia begitu concern mengenalkan teh Indonesia kualitas terbaik kepada masyarakat.

Ratna menyayangkan bahwa masyarakat Indonesia, dengan perkebunan teh yang sebegitu besarnya, hanya bekerja sebagai buruhnya saja dan justru meminum teh yang gradenya rendah. Sama seperti penjajahan Belanda (karena teh dibawa oleh orang Belanda), dulu pemilik perkebunan adalah orang Belanda dan kita adalah pekerjanya. Sekarang pemilik perkebunan sudah orang Indonesia, tapi kita tetap saja hanya kebagian teh kualitas rendah.

Karena teh dengan grade tinggi, dari pucuk sampai 3 daun dari atas, justru diekspor ke luar negeri. Teh yang dijual di pasaran ya kualitas rendah. Padahal pasar yang ingin mengkonsumsi teh pr…

Berbagi Pengetahuan

Semalam, pacar saya, Anto namanya, cerita bahwa ia akan memulai kembali usahanya. Kali ini ia akan merambah ke bidang kuliner. Ia cerita bagaimana ia berdiskusi dengan teman-temannya untuk  memulai usahanya ini. Termasuk perdebatan bagaimana menjaga kerahasiaan bumbu utama makanannya.

Ia berencana melepaskan diri dari urusan produksi. Biar itu dilakukan orang lain saja, karena ia akan fokus pada masalah packaging, branding, dan marketing. Mungkin itu yang ia pelajari dari usaha sebelumnya bahwa berkutat di bagian produksi itu melelahkan dan tidak membawa brand tersebut kemana-mana karena jadi tidak ada waktu untuk berjualan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk merubah konsep usahanya.

Teman-temannya ketakutan kalau proses produksi dilepas, maka rahasia bumbu diketahui oleh orang-orang produksi yang notabene orang lain (Anto berencana bekerjasama dengan orang-orang di sebuah desa yang terkenal memproduksi sebuah makanan tertentu). Namun pria berumur 33 tahun tapi belom kawin-kawin ini…

Kita Ingat Maka Terjadilah

Begitu FX Harsono bilang bahwa karyanya terinspirasi dari foto-foto dokumentasi milik ayahnya yang merekam gambar tulang belulang warga Tionghoa di Indonesia yang dibantai tahun 1943, saya merasakan pameran tunggal pertamanya di Bandung ini akan bersifat sentimentil. Foto-foto itu dipajang di karyanya "Monumen Bong Belung" yang dihiasi lampu kecil kemerahan. Tengkorak berada di balik pendar. Bersatu. Melingkar.


Karya yang menurut saya fenomenal lainnya adalah "Masa lalu dari Masa Lalu". Di tengah ruangan terdapat sebuah perahu kayu yang berisi dengan lampu-lampu dan terdampar pada huruf-huruf yang bertumpuk seperti pasir. Di depannya ada sebuah kursi kayu. Saya berpikir lampu-lampu merah itu sebagai metarfora darah. Sementara teman saya, Andika, berpikir lampu itu merupakan metafora dari para roh yang belum berpulang dan masih menuju suatu tempat--roh kebingungan korban pembantaian.


Karya-karya Harsono memang karya akan metafora, termasuk tujuh karya yang ditampilk…