Skip to main content

Berbagi Pengetahuan

Semalam, pacar saya, Anto namanya, cerita bahwa ia akan memulai kembali usahanya. Kali ini ia akan merambah ke bidang kuliner. Ia cerita bagaimana ia berdiskusi dengan teman-temannya untuk  memulai usahanya ini. Termasuk perdebatan bagaimana menjaga kerahasiaan bumbu utama makanannya.

Ia berencana melepaskan diri dari urusan produksi. Biar itu dilakukan orang lain saja, karena ia akan fokus pada masalah packaging, branding, dan marketing. Mungkin itu yang ia pelajari dari usaha sebelumnya bahwa berkutat di bagian produksi itu melelahkan dan tidak membawa brand tersebut kemana-mana karena jadi tidak ada waktu untuk berjualan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk merubah konsep usahanya.

Teman-temannya ketakutan kalau proses produksi dilepas, maka rahasia bumbu diketahui oleh orang-orang produksi yang notabene orang lain (Anto berencana bekerjasama dengan orang-orang di sebuah desa yang terkenal memproduksi sebuah makanan tertentu). Namun pria berumur 33 tahun tapi belom kawin-kawin ini berkata bahwa ya tidak apa-apa kalau mereka tahu bumbu utamanya. Justru kalau dirahasiakan, itu akan menghambat ia untuk berinovasi. Dan terutama, menurutnya, ilmu pengetahuan itu harus dibagi.

Tatatapi, Pak! Mulanya saya hanya tertawa saja, agak aneh juga. Lalu saya tanya apakah teman-temannya setuju, dia menjawab iya. Saya menduga-duga kalau teman-temannya ini setuju karena terpaksa. Haha. Mengingat si pacar ini orangnya agak keras kepala. *tring! kemudian ngilang*

Lalu dia bercerita tentang usahanya membuat ruang peredam suara bersama temannya. Awalnya dia sama sekali tidak tahu tentang apa dan bagaimana membuat hal tersebut. Lalu mereka melakukan riset dengan metode studi literatur di internet. Ia menemukan seorang ahli yang tahu tentang masalah akustik. Kemudian Anto mengirim email pada orang tersebut untuk tanya-tanya. Orang itu menjawab sedikit dan kira-kira bilang, "Kalau mau tahu lebih lanjut, silakan datang ke tempat saya. Biaya konsultasinya Rp1,5juta per jam." Di situ Anto menyadari dengan getir, ternyata pengetahuan itu mahal.

Karena tentu kemahalan, ia memutuskan untuk mencari lagi. Ia menemukan sebuah perusahaan di Australia yang sudah melakukan riset tentang ruangan peredam suara. Lalu perusahaan itu mengaku senang karena ada yang bertanya dan meminta alamatnya Anto. Seminggu kemudian, ada paket datang ke rumahnya. Ternyata mereka mengirimkan contoh dan CD tentang riset yang mereka lakukan secara detail. Dan itu diberikan secara cuma-cuma.

Anto juga cerita gitar pun demikian. Gitar-gitar ternama di dunia seringkali memberikan informasi tentang gitarnya dari bagian luar hingga dalam. Berbeda dengan orang Indonesia yang sebenarnya hanya mengawinkan formula yang sudah ada, tapi disimpan jadi sebuah rahasia. Lagipula, apa yang sih baru di bawah langit?

Saya teringat dengan cerita redaktur saya. Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang chef ekspatriat yang mengaku tidak pernah menutupi bumbu utama masakannya. Chef itu berkata, "Kalau saya memberikan alat dan bahan yang sama dengan orang lain, lalu masak bersamaan, hasilnya pasti berbeda." Oleh karena itu, si chef tidak pernah takut ditiru.

Kemudian saya juga teringat dengan seorang ilustrator di Instagram. Kalau ada yang bertanya kertas apa yang digunakan atau cat air jenis apa yang dipakai, ia selalu menjawabnya. Di situ saya jadi berpikir bahwa kunci utamanya bukan pada alat dan bahan, tapi kuncinya ada di skillSkill itu dipelajari dan tidak semua orang bisa mencapai level yang sama. Skill, seperti ide, adalah hal yang tidak bisa dicuri.

Lagipula, sebagus apapun barang tidak akan ada gunanya jika kita tidak bisa menjualnya, bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…