Membuat Diri Abadi

Terima kasih kepada Gramedia yang sudah mempublikasikan buku puisi Wiji Thukul. Saya jadi mendapatkan sebuah gambaran lebih tentang seorang Wiji Thukul, setelah membaca sepenggal kisah hidupnya di Majalah Tempo. Saya tidak perlu repot-repot browsing puisi-puisinya karena kini saya bisa membacanya dalam satu buku.



Membaca puisi-puisi Wiji Thukul membuat saya berpikir, "Wah, pantas saja dia diculik." Bagaimana tidak, puisi-puisinya begitu memantik semangat perjuangan, perlawanan, dan pemberontakan terhadap pemerintahan kapitalis yang tidak kaum proletar. Dia adalah sebuah ancaman orang-orang yang sibuk menggemukan pundi-pundi uangnya atas nama negara.

Membaca buku ini, saya melihat kegelisahan-kegelisahan Wiji Thukul melihat ketidakadilan di depan matanya, betapa terkukung dunianya saat ia harus sedang berdiam diri dalam sebuah rumah karena pelarian, juga keterasingan dirinya dalam gemerlap moderenitas yang jauh darinya. Misalnya dalam puisi-puisi ini:

nyanyian akar rumput
jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 88

catatan
udara ac asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
oo.. aku ternganga
musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sendal jepit dan ubin mengilat
betapa jauh jarak kami
uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat dua buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu
gemerlap kota-kota di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

solo 87-88

Saya sempat berpikir bahwa apa sih hebatnya dari menulis. Dulu saya pernah mengkritik para penulis komik di koran karena ya-kalo-sudah-menggambar-lalu-mau-apa. Menulis sama dengan ngomong saja, tanpa ada aksi. Tapi saya berpikir lagi bagaimana Wiji Thukul dihilangkan atau Pramoedya Ananta Toer pernah diasingkan. Pastinya itu menunjukkan bahwa tulisan memiliki kemampuan persuasi yang besar. Menulis adalah senjata.

Lihat R.A. Kartini yang banyak dikenal ketimbang Dewi Sartika padahal keduanya adalah sosok perempuan yang berjuang untuk pendidikan kaumnya. Dewi Sartika, walau ia mendirikan sekolah, sayangnya ia tidak terlalu mendokumentasikan pikirannya dalam tulisan. Di sini bisa dilihat betapa tulisan dapat membuat diri melewati ruang dan waktu, membuat pikiran-pikiran tertular ke generasi selanjutnya yang bahkan tidak pernah kita lihat, dan membuat ide-ide lenyap begitu saja. Menulis membuat pikiran abadi.

Beberapa malam yang lalu, si pacar bercerita tentang Tan Malaka sebagai salah satu bukti dari pentingnya menulis. Pada tahun 1920an, Tan Malaka sudah mengeluarkan konsep-konsep agar Indonesia mencapai republik. Di tengah pelariannya dari situasi politik yang menegangkan, Tan Malaka menuliskan pemikiran-pemikirannya yang terwujud dalam sebuah buku Madilog. Si pacar bilang, "Kalau lihat buku Madilog, tidak ada daftar pustaka. Karena buku-bukunya ia disita karena dianggap berbahaya. Semuanya ia simpan di otak. Tan Malaka hanya mengandalkan ingatannya." Bayangkan jika Tan Malaka tidak menulis, ia akan hilang ditelan zaman. Proses berpikirnya menjadi sia-sia.

Menulis di situasi genting bukan hal yang tidak mungkin. Viktor Frankl, seorang psikiater Austria, justru ia menulis dan mengeluarkan teori tentang logoterapi saat Frankl berada di kamp konsentrasi Auschwitz. Jadi, menulis adalah sebuah media yang justru menyelamatkan orang-orang dari kondisi terancam, membuat orang melampaui dirinya. Badan boleh serba terbatas atau terpenjara, tapi pikiran tidak.

Sebagai penutup, mari kita tengok puisi yang saya kutip dari Wiji Thukul. Semoga ini bisa jadi refleksi kita bersama.

di bawah selimut kedamaian palsu
apa guna punya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong
di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah
apa guna banyak baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu

No comments: