Skip to main content

Seteguk Lebih Dekat

Dalam rangka menulis artikel tentang teh, saya bertemu dengan Ratna Somantri. Rasanya senang sekali bisa ketemu dengan beliau. Bagi para pecinta teh, namanya sudah tidak asing lagi. Ratna Somantri adalah pendiri Komunitas Pecinta Teh. Ia pun sering melakukan talkshow tentang seluk beluk teh. Apalagi ia begitu concern mengenalkan teh Indonesia kualitas terbaik kepada masyarakat.

Ratna menyayangkan bahwa masyarakat Indonesia, dengan perkebunan teh yang sebegitu besarnya, hanya bekerja sebagai buruhnya saja dan justru meminum teh yang gradenya rendah. Sama seperti penjajahan Belanda (karena teh dibawa oleh orang Belanda), dulu pemilik perkebunan adalah orang Belanda dan kita adalah pekerjanya. Sekarang pemilik perkebunan sudah orang Indonesia, tapi kita tetap saja hanya kebagian teh kualitas rendah.

Karena teh dengan grade tinggi, dari pucuk sampai 3 daun dari atas, justru diekspor ke luar negeri. Teh yang dijual di pasaran ya kualitas rendah. Padahal pasar yang ingin mengkonsumsi teh premium juga ada (dengan bermunculannya beberapa tea boutique di Jakarta). Tapi ironisnya, dari tea boutique itu, teh Indonesia tidak masuk ke dalamnya. Jangankan tea boutique, hotel atau kedai kopi ternama sering menaruh Dilmah atau Twinings.Padahal kalau sudah masuk kantung, bisa jadi teh tersebut bukan premium.

Masyarakat Indonesia begitu akrab dengan teh merah. Kalau tidak merah, rasanya tidak seperti minum teh. Harus merah. Selain warna merah didapat dari tingkat oksidasi yang tinggi, jika kita membuka tea bag, akan ditemukan batang teh yang dimasukkan ke dalam. Menurut Ratna, batang memang mempercepat agar air berwarna merah.

Biasanya orang-orang seringkali memasukkan kantung teh ke dalam gelas panas dan membiarkannya lama-lama. Para penjual pun tidak memberikan tempat untuk menaruh kantung teh yang tidak terpakai. Padahal untuk menyeduh teh, diperlukan waktu sekitar 3-5 menit. Semakin lama, rasanya akan semakin pahit. Karena itulah orang-orang jadi menambahkan gula. Padahal dengan gula, cita rasa teh jadi berkurang.

Di Inggris pun demikian. Dalam kegiatan afternoon tea mereka, teh dicampur dengan susu. Padahal seperti minum wine, untuk mengetahui kualitas teh ya harus minum teh itu tanpa campuran apa-apa. Ratna bilang kalau Inggris ya mereka hanya "to drink tea", bukan "to appreciate tea" seperti negara asal teh yaitu China. Inggris lebih fokus pada peralatan cantik dan manner mengetehnya saja.

Kesalahan lain yang sering terjadi di masyarakat adalah semua jenis teh harus diseduh dengan panas. Padahal teh hijau diseduh dengan suhu 70 derajat, teh putih 70-80 derajat, teh oolong itu 90 derajat. Dan masyarakat juga seringkali mendiamkan teh panas sampai dingin, padahal teh yang benar itu disajikan dengan air yang tidak terlalu mendidih dan langsung diminum, karena khasiatnya akan berbeda.

Lalu dari sekian banyak teh yang ada di supermarket, merek manakah yang paling bagus? Ratna menjawab baginya sama saja. Wah, sayang sekali, kalau dia menyebutkan satu merek saja, pasti saya akan langganan teh itu. Semacam ingin mendapatkan yang terbaik di antara hal-hal yang tidak terlalu bagus. Hehe.

Pertemuan dengan Ratna membuat saya tidak hanya sekedar minum tehnya saja, tetapi mengapresiasinya. Selain itu, saya juga jadi ingin ikutan kelas mencicip teh agar tahu mana yang terbaik dan tidak.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…