Menemukan Diri Sendiri

Ketika sudah saatnya kuliah, saya berpikir tentang teknik industri karena aa dan teteh saya kuliah di jurusan teknik. Teknik industri juga bisa kerja di perusahaan atau pabrik sebagai HRD. Bukankah yang namanya bekerja itu artinya berada di kantor? Dan tampaknya teknik industri lebih menyenangkan daripada teknik mesin, teknik elektro, atau planologi.

Keluarga saya bukan keluarga yang mampu membiayai pendidikan mahal sehingga saya harus bisa masuk universitas negeri. Walaupun Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tampak tidak mungkin karena jumlah pendaftar jauh lebih banyak ketimbang yang diterima, saya ikut juga. Karena saya jurusan IPA, saya hanya punya dua pilihan. Pilihan pertama dikorbankan untuk memenuhi keinginan keluarga kuliah di ITB. Karena UNPAD dirasa tidak mungkin, saya memilih Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Jujur saja, saya tidak melihat UPI sebagai universitas yang bagus dan prestisius. Saya juga tidak berkeinginan mengajar di sekolah. Tapi saya perlu UPI yang kiranya masuk akal dengan kemampuan saya. Selain jurusan pendidikan, di sini banyak juga jurusan yang non pendidikan seperti Matematika, Kimia, atau Fisika. Tapi saya benci eksak. Maka saya menjatuhkan pilihan ke jurusan psikologi dengan alasan 'tampak keren'.

Oke, saya akui kalau saya memang dangkal saat itu. Kemudian bertahun-tahun kemudian baru tahu ada yang namanya jurusan design atau sastra. Hiks.

Saya masuk ke jurusan psikologi tahun 2004. Saat itu kami diasuh oleh kakak tiri--kakak yang mirip seperti psikologi padahal bukan. Mereka adalah para senior di jurusan Bimbingan dan Konseling. Oh, ternyata kami adalah jurusan pertama. Oh, no, berarti jurusan ini belum settle! Pasti banyak trial and error. Setelah itu kami akan sulit mencari kerja karena kami tidak punya senior yang bisa digunakan link-nya. Dan pastinya jurusan ini belum terakreditasi. Oh tidaak!

Ternyata berangkat dari ketiadaan membuat kami begitu kompak, berusaha untuk jadi mahasiswa terbaik, dan menaikkan standar. Kami mandiri karena terpaksa. Dan itu bagus. Kami mendirikan organisasi, memulai program perdana sambil meraba-raba. Dan ternyata, setelah lulus pun, kami mendapatkan pekerjaan yang baik. Bahkan beberapa mendapatkan beasiswa. Bahkan saya menjadi penulis di media ternama! Ha.

Sebagai pemudi galau yang penuh memar di hatinya akibat konflik keluarga, saya merasa kuliah di psikologi adalah sebuah penyelamat. Jurusan ini membantu saya menemukan diri, terutama melakukan analisis sok tahu (yang kemudian dipercaya karena sudah teruji waktu dan berbagai kondisi), tahu kelebihan diri, dan percaya kelebihan itu akan membawa saya kepada orang-orang dan tempat-tempat yang belum pernah saya temui sebelumnya. Psikologi membantu saya memperbaiki diri sendiri.

Di sini saya melakukan katarsis atau melepaskan emosi melalui tulisan. Terutama emosi negatif. Mulanya, amunisi tulisan tersebut berawal hal-hal yang berbau filsafat (karena saya belajar itu di kampus). Filsafat menjadi ketertarikan lain. Kemudian saya mencoba mengawinkan pengetahuan baru itu dengan diri dan lingkungan. Begitu nikmat. Begitu lega.

Selain menemukan diri, saya juga banyak menemukan orang lain. Banyak hal-hal atau pengalaman hidup yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Banyak jiwa-jiwa yang misterius dan dalam yang menggoda untuk digali dan diketahui. Kemudian menyadari bahwa jiwa manusia adalah hal yang rapuh, yang mudah pula dipengaruhi oleh suatu hal yang diserap secara sadar ataupun tidak. Dan betapa sulit untuk memperbaikinya.

Lucunya adalah teman-teman di sini lebih menerima perbedaan. Mungkin karena kami diajarkan untuk memahami orang lain (kemudian menganggap kemampuan memahami itu sebagai kutukan karena jadi menuntut orang lain bisa memahami saya). Berbeda dengan masa sekolah dimana perbedaan tampak sebuah kenistaan. Saya menghabiskan 12 tahun di-bully karena masalah fisik dan hanya mingle dengan beberapa orang. Tapi di jurusan ini saya punya banyak. Dan saya tidak peduli kalau saya berbeda. Karena mereka berbeda pula. Dan setiap orang berbeda.

Saya kira, ketika orang sudah tahu dirinya dan mau apa dia nantinya, semua akan berjalan mudah karena jadi teratur dan menuju ke satu titik. Menuju piala kehidupan diri.


----
Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati satu dekade jurusan Psikologi UPI.

Comments

Ranger Kimi said…
Saya juga dulu belajar Psikologi. Ilmu ini sangat menyenangkan. Belajar Psikologi membuat saya bisa lebih memahami diri sendiri. Saya juga jadi bisa menghargai perbedaan. Sekarang saya juga menaruh minat terhadap Filsafat. Tapi, ya itu... untuk belajar Filsafat sendirian saya tidak sanggup. Tidak paham soalnya. :))
Nia Janiar said…
Hahaha.. kalau filsafat emang enaknya sambil diskusi :))
Arabella said…
Saya suka gaya pemaparannya kak. Kalimatnya singkat tapi bermakna.
Gimana ya kak supaya bisa berkata-kata seperti itu? Saya mau meningkatkan kemampuan 'berdiksi'.

Saya seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung, dan baru saja mulai kuliah beberapa bulan yang lalu.
Di kota asal saya dulu, saya punya seorang teman dengan pemikiran yang sama. Kami sama-sama mencintai buku, filsafat, dan alam. Kami sama-sama mencintai langit.
Begitu memasuki kehidupan kuliah, semua orang tampak logis dan idealis, tidak ada yang menonjolkan karakter "appreciation of beauty" terhadap hidup.
Kemudian saya jenuh dan hampa. Tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi bersama, mungkin belum.
Kakak pernah dalam situasi seperti itu?
Nia Janiar said…
Halo Arabella,

Makasih ya udah berkunjung ke sini. Terima kasih juga udah memberikan komentar :)

Kalau masalah menulis, mungkin karena saya suka baca buku dan kagum dengan penulis tertentu. Awalnya ada beberapa gaya menulis orang yang saya "contek", terus lama-lama jadi kebiasaan. Kebiasaan juga dateng karena sering nulis. Misalnya nulis kecil-kecilan kayak di blog ini.

Pernah enggak ya? Justru sekarang lagi mengalaminya, semenjak saya kerja di Jakarta. :D Saya kehilangan teman-teman saya "satu frekuensi" dengan saya. Caranya biar enggak jenuh mungkin setiap pulang ke Bandung, saya selalu meluangkan waktu ketemu dengan teman-teman lama supaya pikiran fresh lagi. Kalau enggak bisa ketemu, saya suka kirim-kiriman kartu pos dan email dengan teman lama.

Kalau asal kota kamu jauh dan enggak sering-sering ketemu temen lama, bisa ikut komunitas sehingga pergaulannya gak hanya di kampus aja. Komunitas kadang membawakan kita teman-teman yang tidak terduga. Apalagi kalau komunitasnya spesifik seperti komunitas filsafat atau komunitas nulis.

Kira-kira itu sih yang saya lakukan. :)

Popular Posts