Perihal Anjing

Banyak hal yang bisa diperhatikan ketika saya melihat si doskray jalan-jalan bersama anjingnya, Joy. Kami berjalan kaki dengan rute yang cukup jauh yaitu pulang pergi Dago-Cibeunying. Untuk sampai ke Cibeunying, tentunya kami harus melewati jalan yang padat manusia, terutama daerah Dipatiukur merupakan lingkungan kampus.



Melihat respon orang-orang yang berdekatan dengan Joy itu menarik. Ada yang sengaja menghampiri untuk bilang "ih lucu" bahkan mengelus, ada yang menjauh, ada yang meringis takut, dan ada yang kaget dengan lebay. Yang geleuh sih yang terakhir itu, yang kaget dengan lebay seperti mengangkat kaki seolah-olah Joy akan menghampiri. GR banget lu!

Saya mengerti bahwa anjing bukanlah binatang yang familiar ditemukan di jalanan Bandung layaknya kucing. Mungkin berbeda dengan Bali atau Menado yang mayoritas penduduknya bukan Islam, kalian bakal menemukan banyak anjing yang berkeliaran. Saya menduga ketidakbiasaan itu adalah karena alasan najis yang sudah terpatri dalam pikiran semenjak mereka kecil. Seolah-olah kena hidung atau liur anjing adalah bencana. Padahal, jika ingin ikut aturan Islam, ya tinggal bersihkan pakai tanah.

Orang tidak mau memelihara anjing di rumah dengan alasan "nanti malaikat tidak mau datang" atau--pada kasus pacar saya--menganggap kesialan minim order kerjaan itu terjadi semenjak ada anjing di rumah. Ah, kayaknya banyak aja tuh orang-orang yang miara anjing tapi tetap kaya. Artinya, itu tidak revelan! Dan kalau dilihat secara logika, orang-orang yang sejak kecil tidak terbiasa dengan kehadiran anjing yang secara fisik lebih besar, menyalak, dan berkeliaran di rumah, mungkin jadi tidak mau datang karena takut. Bukan karena Tuhan tidak mengutus malaikatnya untuk datang atau Tuhan memampatkan rezeki. Lagipula, apa sih yang kita tahu tentang Tuhan dan malaikat?

Menurut saya pribadi, mereka yang "menyalahi" norma agama atau pandangan sosial karena mencintai anjing, itu jauh lebih baik ketimbang mereka yang memukul atau menyiram anjing dengan alasan najis. Ini bukan cerita yang dibuat-buat kok. Akhir-akhir ini saya mengikuti perkembangan shelter Animal Defenders Indonesia yang di Ciledug, mereka banyak menemukan anjing yang suka dipukuli.

Sebenarnya banyak pecinta anjing. Misalnya teman-teman saya, mereka selalu bilang, "Kalau enggak najis, gue ingin pelihara anjing." Tentu saja, anjing lebih atraktif. Mereka lebih bisa diajak main, lebih loyal, dan lebih lucu juga. Di rumah saya, sudah dua kali pelihara anjing. Dan kakek saya pernah punya selusin anjing Herder yang mati satu persatu. Kalau enggak mati diracun ya kegeleng.

Apa yang menakutkan dari keset yang gemar berleha-leha ini?

Mau tetap di jalur agama, standar sosial, atau selera pribadi, itu sih terserah. Hanya saya merasa tidak adil jika suatu hal diperlakukan buruk karena stereotype. Anjing tidak tahu apa-apa tentang najis dan tidak meminta untuk dilahirkan sebagai anjing. Dan kalau diandai-andai, mungkin Nabi Muhammad juga enggak pernah mukul anjing. Jangankan anjing, bukankah semut hitam saja tidak ia bunuh?

Comments

Popular Posts