Review Buku: Gelombang

Tampaknya tahun ini adalah tahun sci-fi untuk saya. Setelah disuguhi film Interstellar karya Christopher Nolan yang mengenyangkan, buku Gelombang karya Dewi Lestari juga turut menyemarakan tahun sci-fi ini.



Akhirnya setelah karya-karya kecil yang kurang memuaskan (kecuali Rectoverso) seperti Madre, Filosopi Kopi, dan Perahu Kertas, Dewi Lestari kembali pada jalurnya. Jalur awal yang membuat saya jatuh cinta padanya saat ia menulis Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Secara singkat, novel terbaru yang judul Gelombang ini menceritakan tokoh Alfa yang terus terlahir kembali ke dunia untuk menjalankan sebuah rencana. Karena setiap reinkarnasi menimbulkan amnesia, Alfa mendapatkan tanda-tanda melalui mimpi sadar (lucid dreaming) yang mengarahkannya kepada orang-orang yang dipilih Alfa di kehidupan sebelumnya. Orang-orang tersebut bertugas mengingatkan rencana Alfa dan menjauhi Alfa dari orang-orang yang ingin mencelakainya.

Jika dibandingkan novel sebelumnya, Partikel, saya jauh lebih menyukai Gelombang. Meskipun cerita dan tokoh yang paling saya sukai dari seri Supernova ini adalah novel Petir dengan tokoh bernama Etra yang jenaka. Novel Gelombang banyak memaparkan narasi tokoh ketimbang menunjukkan teori sains yang tidak terlalu perlu, sebagaimana yang ada di novel Partikel. Selain itu, saya selalu kagum dengan kemampuan Dee untuk melakukan riset yang mendalam. Misalnya dalam novel ini, ia bercerita ia banyak mengobrol dengan orang-orang Batak--bahkan hingga perkampungan--tentang spiritualitas dan budaya batak. Ia juga menajamkan cerita tentang mimpi dengan melakukan riset bersama dr. Andreas Prasadja.

Saya pernah wawancara dr. Andreas lho. *ehm, tetep pengin masuk spotlight.

Intinya, novel ini tidak mengecewakan. Gelombang adalah novel yang enak dibaca tanpa harus merasa pusing. Belum lagi penulis bisa membawa pembaca untuk terus penasaran. Kemudian menimbulkan reaksi gemas karena ternyata endingnya bersambung ke episode selanjutnya. Haha.

Well done!

Comments

Popular Posts