Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2014

Berteriak dalam Senyap

Mengarungi Timur dari Barat di Jakarta bukanlah hal yang mudah. Terutama saat jam pulang kantor. Ketidakmudahan serta risiko telat sampai di tempat tujuan tidak menghalangi saya, teman-teman kantor, dan teman penulis, Myra, untuk nonton film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yaitu Senyap. Dan saya pikir, ini satu-satunya film dimana saya begitu niat untuk melihat sehingga hujan pun diterabas.

Senyap adalah film yang menceritakan kisah tragis pembantaian komunis di Indonesia pada tahun 1965-1966. Tahun lalu, Oppenheimer menggemparkan masyarakat Indonesia dengan film dokumentasi dengan tema yang sama yaitu Jagal (The Act of Killing). Jagal bercerita tentang pembantaian dari sisi pembunuh, sementara Senyap bercerita dari sisi keluarga korban pembantaian.



Bercerita tentang Adi Rukun, seorang adik dari  Ramli--kakaknya yang dibunuh, yang mencari siapa yang bertanggung jawab di balik pembantaian tahun 1965. Meskipun Adi lahir setelah kakaknya dibunuh, Adi dibebankan oleh orang tuanya bahwa…

Am I Wrong or Am I Wronged?

I rarely write on my diary because of some moments are too painful to be writen. I am afraid if I re-read it again someday, the negative memories will appear in my mind. This is just too much. I want to forget it.

But what happened couple weeks ago still lingers here. I can't deny. I still don't understand why you did that. What's on your mind? Why are you so defensive everytime I ask about it? You had a chance but why you didn't use it? Don't you think about my feelings when you did that? I know I am so much overthinking or being paranoid in some times. But apparently it makes you think that every complain from me reflects my irrational thoughts. But I am not brainless and you are not one hundred percent right.

It makes me sad. I keep thinking about it. And my heart is racing.

Questioning God

Dalam beriman kepada Tuhan, sebagian dari kita mengalami jalan yang naik turun. Pertanyaan-pertanyaan kepada sesuatu yang abstrak itu mengemuka dan mengarahkan pada ragu. Jawaban tidak langsung ditemukan dengan mudah. Keraguan bisa saja berubah menjadi keenganan bahkan kemuakkan jika kita bertemu dengan kaum agamawan atau seseorang yang membawa atribut agama namun berperilaku tidak sesuai ajaran. Ilfeel, singkatnya.

Mempertanyakan agama dan Tuhan adalah hal yang tabu di negara yang mayoritas penduduknya beragama ini. Belum apa-apa sudah dicap kafir. Saya pernah dihardik, "Jangan banyak tanya. Ikuti skenario yang sudah ada saja!" oleh senior di kampus yang agamais saat bertanya tentang Tuhan. Kemudian banyak sekali rutinitas keagamaan yang saya ikuti agar bisa lulus mata kuliah dasar. Banyak sekali aturan. Bisakah saya cinta Tuhan apa adanya, tanpa aturan, tanpa batasan?

Keraguan dan kebingungan itu seharusnya berdampingan dengan orang yang membimbing dan terbuka, bukan denga…